nataragung.id – Natar – Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Ma’un : 4-5
{ فَوَيۡلٞ لِّلۡمُصَلِّينَ # ٱلَّذِينَ هُمۡ عَن صَلَاتِهِمۡ سَاهُونَ }
Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya. (QS. Al-Ma‘un: 4–5)
Ada getaran halus dalam ayat ini, sebuah teguran yang turun dari langit, menyentuh hati yang sering mengulur-ulur waktu, menunda sujud, dan membiarkan detik-detik berlalu tanpa menoleh kepada Rabb semesta alam.
Jika ancaman ini ditujukan kepada orang yang shalat tetapi menunda-nunda dan melalaikan waktunya, maka bayangkanlah bagaimana gelapnya keadaan orang yang sama sekali tidak pernah menundukkan kepala dalam sujud, tidak pernah menegakkan satu rakaat pun untuk Rabbnya, tidak pernah mengetuk pintu ampunan melalui doa dalam shalatnya.
Betapa malang seorang hamba,
yang diberikan umur, tapi tidak digunakan untuk bersujud. yang diberi napas, tapi tidak digunakan menyebut nama Allah. yang diberi waktu lima kali sehari, tetapi hatinya tidak pernah hadir di hadapan Penciptanya.
Lihatlah bagaimana shalat adalah cahaya.
Ia adalah tali penghubung antara bumi dan langit. Ia adalah penjaga hati dari gelapnya dosa, dan penjaga langkah dari tersesat di dunia.
Maka bagaimana keadaan seseorang yang memutus tali itu sama sekali? yang membiarkan gelap menutupi hatinya tanpa lentera shalat? yang membiarkan dirinya berjalan tanpa petunjuk, tanpa arah, tanpa cahaya?
Wahai jiwa, renungkanlah…
Jika Allah mencela mereka yang shalat namun lalai, bagaimana pula bagi yang hidup tanpa shalat?
Jika orang yang masih berdiri di hadapan Allah namun tidak menjaga waktunya diancam “celaka”, bagaimana dengan orang yang tidak pernah berdiri sama sekali?
Betapa meruginya, ketika pintu surga terbuka lima kali sehari, namun ia tidak pernah masuk walau sekejap.
Ketika Allah memanggil, “Hayya ‘alasshalah…”
namun ia tak pernah menjawab, seolah-olah panggilan itu bukan untuknya.
Dan kelak, di hari ketika semua mata terbelalak, ketika bumi diguncang, ketika setiap manusia mencari tempat kembali, barulah ia sadar, bahwa dunia hanyalah sekejap,
dan sujud yang ia tinggalkan
adalah penyesalan terbesar yang tak dapat ditebus.
Wahai hamba Allah. Kembalilah kepada shalatmu, sebelum waktu mengembalikanmu kepada Rabbmu.
Jagalah ia, sebelum ia menjadi saksi atas kelalaianmu. Dirikanlah ia, sebelum penyesalan tak lagi bisa ditukar dengan satu rakaat pun.
Karena di balik setiap takbir,
ada rahmat. Di balik setiap sujud, ada ampunan. Dan di balik setiap shalat, ada pintu pulang menuju Allah. Pintu yang tak pernah tertutup bagi hamba yang kembali. (KIS/112).
Wallahu A’lamu
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

