Buku Seri: Pemerintah Tutup Mata atas Krisis Budaya Lampung. Seri 7 – DIGITALISASI BUDAYA, MENGHIDUPKAN TRADISI DI ERA DIGITAL. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Di sebuah gubuk tua di tepi Way Tulangbawang, Umpu Rio, seorang tetua adat, merasa sedih. Peti kayu berisi naskah daluang (kulit kayu) bertuliskan aksara kuno, rekaman kaset pidato adat, dan foto-foto lama mulai lapuk dimakan waktu. Sementara itu, cucunya, Kenzi, asyik dengan tabletnya, menyaksikan tarian dari seluruh dunia melalui aplikasi video.
“Umpu, kenapa kita tidak pernah melihat tarian cangget seperti ini?” tanya Kenzi suatu hari, menunjukkan video yang penuh efek spektakuler. Umpu Rio hanya menghela napas. Ia ingat sebuah pesan dari Kuntara Raja Niti: “Yang tua menyimpan biji, yang muda menanamnya di ladang baru.”
Tapi di manakah “ladang baru” itu?
Jawabannya datang dari sepupu Kenzi, Salma, seorang mahasiswi desain grafis. Melihat kegelisahan sang Umpu, ia membawa laptop dan scanner. “Umpu,” katanya dengan mata berbinar, “bagaimana jika kita pindahkan memori dari peti kayu ini ke dalam ‘awan’? Agar tidak lapuk, dan bisa dilihat oleh Kenzi serta siapa pun, di mana pun.”

Maka, dimulailah sebuah proyek kecil-kecilan: mendigitalkan secarik demi secarik warisan yang nyaris punah. Mereka tidak sekadar memindahkan, tetapi memberi jiwa baru pada setiap artefak.
Banyak yang menganggap gawai dan internet sebagai musuh kebudayaan tradisional, penyebab anak muda lupa pada akarnya. Pandangan ini memandang teknologi sebagai pengganti, padahal seharusnya ia bisa menjadi pelestari dan penerjemah.

Digitalisasi budaya bukanlah tentang meninggalkan yang lama dan beralih ke yang baru. Ini adalah praktik “Nemui Nyimah” (keramahan dan keterbukaan) dalam bentuk modern. Kita membuka diri pada teknologi, menyambutnya sebagai tamu, untuk kemudian bekerja sama dengannya melestarikan warisan.
Pertanyaannya: mengapa pemerintah yang memiliki sumber daya, justru sering “tutup mata” pada peluang besar ini? Digitalisasi budaya kerap dilakukan secara sporadis oleh komunitas, tanpa strategi besar, dukungan dana, atau peta jalan yang jelas dari pemangku kebijakan. Padahal, di era di mana identitas diperjuangkan di ruang digital, ketiadaan kita di sana sama dengan membiarkan budaya kita menjadi bisu.

Baca Juga :  Putri Sungai Tulang Bawang. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Digitalisasi adalah proses penyelamatan yang mendesak. Ia memiliki tiga lapis tujuan:
1. Penyimpanan Abadi: Naskah Kuntara Raja Niti, silsilah marga tertulis di atas daluang, atau rekaman lisan tetua adat dapat dipindai, direkam ulang, dan disimpan dalam format digital. Ini melindunginya dari ancaman fisik: rayap, banjir, atau kepunahan seiring wafatnya sang empu.
2. Pembuatan Akses: Setelah disimpan, dokumen-dokumen ini harus dibuat dapat diakses. Sebuah platform digital, misalnya, “Perpustakaan Digital Budaya Lampung”, dapat menjadi rumah baru. Seorang anak muda di Liwa bisa mempelajari aksara kuno, seorang peneliti di Belanda bisa mengakses naskah sejarah marga Abung, dan seorang diaspora di Jakarta bisa mendengarkan kembali hadis munjung (pantun adat). Ini mempraktikkan “Nengah Nyappur”, memperluas pergaulan budaya kita.
3. Penafsiran Kreatif: Inilah jiwa dari digitalisasi. Dokumentasi mentah perlu “dihidupkan”. Misalnya, manuskrip tentang “Legenda Putri Dara Kaca” dari Ranau tidak hanya diunggah sebagai PDF. Ia dapat dijadikan:
o Konten Edukasi Interaktif: Animasi pendek yang menyenangkan untuk anak-anak.
o Bahan Podcast: Dibahas secara mendalam bersama narasumber ahli.
o Inspirasi Karya Seni Digital: Ilustrasi, musik, atau filter media sosial bertema cerita tersebut.

Dengan demikian, digitalisasi bukan sekadar arsip mati, melainkan kebun budaya yang terus tumbuh.
Rumah adat Lampung disebut Sesat, yang berarti tempat musyawarah, berkumpul, dan belajar. Platform digital harus menjadi Sesat Maya zaman now.
* Media Sosial: Bukan untuk gosip, tapi untuk edukasi. Reels Instagram yang menampilkan proses menenun Tapis dengan penjelasan filosofi motifnya (seperti pucuk rebung tentang pertumbuhan). Twitter untuk utas tentang istilah-istilah dalam Piil Pesenggiri.
* Aplikasi dan Situs Web Interaktif:
o Peta Budaya Digital: Menampilkan titik-titik budaya (rumah adat, makam leluhur, sentra kerajinan) di seluruh Lampung, dilengkapi cerita dan foto 360 derajat.
o Kamus Bahasa Lampung Digital: Dilengkapi audio pengucapan oleh penutur asli, contoh kalimat, dan kaitannya dengan nilai adat.
o Simulator Aksara Lampung: Game kecil untuk belajar menulis Ka-Ga-Nga dengan benar.
* Konten Audiovisual Profesional: Dokumenter berkualitas tentang upacara Begawi atau Cakak Pepadun, yang merekam bukan hanya seremoni, tetapi juga perasaan, ekspresi, dan makna di balik setiap ritual. Konten ini bisa menjadi bahan ajar yang powerful.

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 2 – Bahasa Keluarga Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam Sesat Maya ini, nilai “Sakai Sambayan” (gotong royong) terwujud. Programmer, desainer, musisi, dan ahli adat dapat berkolaborasi membuat proyek bersama. Generasi muda dapat berkontribusi dengan keahlian digital mereka, merasa memiliki dan menjadi bagian aktif dari pelestarian.
Satu keberatan sering muncul: bukankah mendigitalkan hal-hal sakral (seperti ritual tertentu atau benda pusaka) justru menghilangkan kesuciannya?
Ini adalah pertanyaan penting. Jawabannya terletak pada etika digital yang harus dibangun, berlandaskan “Juluk Adek” (harga diri dan tata krama). Prinsipnya:
1. Izin dan Penghormatan: Setiap pendigitalan harus melalui musyawarah dan seizin pemangku adat (Punyimbang) dan pemilik ritual. Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi.
2. Kontekstualisasi: Saat membagikan, harus disertai penjelasan konteks yang memadai. Misalnya, video tarian ritual tidak boleh diedit menjadi sekadar hiburan, tetapi harus disertai narasi tentang makna filosofis dan waktu pelaksanaannya yang tepat.
3. Pembatasan Akses: Untuk hal-hal yang sangat sakral, dapat diterapkan pembatasan akses digital tertentu, misalnya hanya dapat diakses oleh anggota jurai tertentu setelah melalui verifikasi. Teknologi mampu mengakomodasi hal ini.

Baca Juga :  Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 5: Nama sebagai Identitas dan Tanggung Jawab. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Digitalisasi bukanlah pelanggaran, melainkan perluasan ruang penghormatan. Tujuannya adalah memperkenalkan kedalaman, bukan mencerabut kesakralannya.
Digitalisasi budaya adalah jalan untuk memastikan bahwa di tahun 2050, seorang anak Lampung tidak hanya mengenal budayanya dari buku usang atau cerita yang samar. Ia dapat memasang headset realitas virtual dan “berdiri” di tengah upacara adat, atau menggunakan aplikasi augmented reality untuk melihat motif Tapis “hidup” dan bercerita pada pakaiannya.

Pemerintah harus membuka mata dan menjadi pionir. Tidak cukup hanya menyediakan WiFi di desa. Harus ada gerakan nasional digitalisasi kebudayaan daerah dengan anggaran khusus, melibatkan kampus, komunitas, dan pelaku industri kreatif. Pemerintah harus menjadi fasilitator yang menghubungkan kearifan lama dengan infrastruktur baru.
Dengan demikian, kita bukan hanya menyelamatkan budaya dari kepunahan fisik, tetapi juga membangun jembatan kokoh antara generasi. Kita membuat budaya Lampung tidak lagi menjadi sesuatu yang “tertinggal di kampung”, tetapi menjadi sesuatu yang hidup, relevan, dan dibanggakan di ujung jari generasi muda. Ini adalah wujud nyata dari kemajuan budaya yang inklusif dan menguatkan Profil Pelajar Pancasila yang cakap digital dan berakar pada budaya bangsa.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno). Transkripsi digital koleksi Museum Negeri Provinsi Lampung. (Dokumen digital terverifikasi).
2. Pedoman Digitalisasi Koleksi Naskah Kuno, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2021). (Dokumen kebijakan digital).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini