nataragung.id – Jakarta – Tak ada yang gratis di panggung politik bahkan atas nama undangan buka puasa bersama. Sebuah gestur “cium tangan” pun punya nilai tukar yang barangkali lebih tinggi dari sekadar suara di TPS.
Kamis (19/2/26) malam itu di Tower NasDem, kita disuguhi pemandangan sangat “Indonesia sekali”. Anies Baswedan, sang mantan capres yang kini tak punya kursi menteri maupun kantor partai, menunduk takzim. Ia mencium tangan Surya Paloh. Di sebelahnya, Jusuf Kalla (JK), sang maestro lobi di balik layar, berjalan beriringan dengan santai.
Pemandangan ini indah untuk dipotret, tapi pahit jika dikunyah mentah-mentah oleh nalar yang jernih.
Melihat Anies mencium tangan Paloh, orang awam mungkin akan terharu. “Ah, betapa santunnya dia,” pikir mereka. Tapi bagi kita yang sudah kenyang melihat drama lima tahunan, gestur itu adalah pengakuan posisi.
Barangkali, ini cuma barangkali, Anies sadar, di tengah kepungan koalisi gemuk Prabowo-Gibran, ia adalah seorang “petarung tanpa partai”.
Mencium tangan Paloh adalah cara Anies mengatakan: “Saya masih di sini, dan saya masih milik Anda, Pak.”
Namun, mari kita tengok sejenak ke meja sebelah. Di sana ada Puan Maharani, ada Gus Ipul, bahkan ada petinggi-petinggi partai yang sekarang sudah nyaman duduk di kabinet Prabowo. Mereka makan kolak yang sama, tertawa pada seloroh yang sama.
Lantas, di mana letak “oposisi” yang sering didengungkan itu?
Oposisi atau sekadar “pemanasan”? Saya jadi bertakon-takon. Apakah pertemuan Anies-JK-Paloh ini adalah sinyal perlawanan terhadap pemerintahan Prabowo? Saya justru meragukannya.
Mengapa? Karena politik kita tidak mengenal “perlawanan”, ia hanya mengenal “antrean”. Sangat ironis melihat bagaimana tokoh-tokoh yang dulu bertarung hingga urat leher tegang di Pilpres 2024, kini bisa berbagi tawa hanya setahun setelahnya.
PKB yang dulu mengusung Anies dengan jargon perubahan, kini sudah asyik “bersyukur” (baca: menjadi menteri) di kabinet pemenang. Cak Imin memang raja tega, membiarkan Anies menjadi “gelandangan politik” padahal di Pilpres 2024 menjadi pacar sesaat.
Jika Anies berjalan dengan JK dan mencium tangan Paloh, itu bukan sedang menyusun barisan pemberontakan. Itu adalah upaya menjaga relevansi. Anies sedang memastikan bahwa namanya tidak terhapus dari memori publik maupun catatan para kingmaker.
Sebab, menjadi oposisi itu melelahkan dan seringkali kering kerontang. Jauh lebih aman menjadi “sahabat yang sedang menunggu giliran”.
Cium tangan itu adalah simbol ketundukan pada realitas. Anies tahu, tanpa “restu” dari pemilik menara dan restu dari sang senior di sampingnya (JK), ia hanyalah narasi tanpa kendaraan, meski dia digadang-gadang partai baru sebagai capres 2029. Apa tidak kepagian, ya?
Pesan yang ingin disampaikan sebenarnya sederhana namun menonjok, di meja buka puasa politik, musuh hanyalah fiksi, dan kawan hanyalah soal posisi kursi.
Kita yang menonton di layar ponsel mungkin masih sibuk berdebat soal siapa yang paling setia. Padahal, para elit di sana sudah selesai dengan urusan itu sejak sendok pertama menyentuh piring takjil.
Jadi, jangan terburu-buru menyebut ini gerakan perlawanan. Bisa jadi, ini hanyalah cara Anies untuk memastikan bahwa ketika saatnya tiba nanti, ia masih punya tempat untuk sekadar duduk, meski hanya di kursi tambahan. (*)
*) ✍️ Owner and Founder Pepnews

