nataragung.id – Bandar Lampung – Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah bagi masyarakat adat Lampung. Ia adalah waktu ketika adat, sejarah marga, dan nilai spiritual menyatu dalam praktik keseharian. Di kampung-kampung tua yang terletak di kaki gunung dan tepian pantai, Ramadhan hadir sebagai ruang berbagi: berbagi makanan, tenaga, doa, dan pengharapan.
Buku ini menghadirkan kisah fiksi rakyat yang berpijak pada sejarah dan warisan lisan masyarakat Lampung. Melalui cerita dan analisis filosofis, pembaca diajak memahami bagaimana tradisi berbagi pada bulan Ramadhan menjadi simbol kebersamaan yang mengakar dalam struktur adat Saibatin dan Pepadun.
Konon, di Kampung Way Semangka pada masa ketika jalan masih berupa tanah merah dan lampu minyak menerangi malam, hiduplah seorang tetua adat bernama Minak Suttan Ratu. Ia dikenal sebagai penjaga silsilah marga dan pembaca naskah tua warisan leluhur.
Suatu sore menjelang Ramadhan, seluruh warga berkumpul di tanah lapang dekat sungai. Gunung berdiri kokoh di kejauhan, dan angin dari pantai membawa aroma asin yang lembut. Para perempuan mengenakan tapis bersulam emas, sementara laki-laki mengenakan kopiah dan kain sarung.
Minak Suttan Ratu membuka gulungan kain tua berisi catatan leluhur. Ia membaca perlahan: “Barang siapa memelihara adat dan syarak, maka terpelihara pula negerinya.”
Anak-anak mendengarkan dengan mata berbinar. Mereka tahu, Ramadhan akan segera tiba. Artinya, dapur-dapur akan ramai, dan rumah-rumah akan terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan makanan berbuka.
Di kampung itu, tidak ada yang dibiarkan berbuka sendirian. Setiap keluarga menyiapkan satu dulang makanan untuk dibagikan. Jika ada yang kekurangan, tetangga akan mengantarkan tanpa diminta.
Ketika azan pertama Ramadhan berkumandang, Minak Suttan Ratu berkata: “Berbagilah sebelum diminta. Sebab adat bukan hanya diwarisi, tetapi dijalani.”
Cerita ini hidup sebagai hikayat yang diceritakan kembali setiap tahun. Ia menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa tradisi berbagi dalam Ramadhan bukan kebiasaan baru, melainkan warisan turun-temurun.
Untuk memahami tradisi berbagi di Lampung, perlu menelusuri sejarah marga. Dalam sejarah lisan dan dokumen adat, disebutkan bahwa masyarakat Lampung berasal dari Sekala Brak, wilayah tua di Lampung Barat.
Empat paksi besar menjadi akar genealogis: Paksi Buay Pernong, Paksi Buay Belunguh, Paksi Buay Nyerupa, dan Paksi Buay Bejalan Diway. Setiap paksi memiliki cabang marga yang tersebar hingga pesisir.
Dalam naskah adat yang dikenal sebagai Kuntara Raja Niti tertulis: “Adat iku pagar negeri, syarak iku tiang agama.”
Secara harfiah, adat adalah pagar negeri, syarak adalah tiang agama. Maknanya mendalam. Pagar melindungi dari luar, tiang menyangga dari dalam. Dalam Ramadhan, kedua unsur ini bekerja bersama: adat mengatur tata pergaulan berbagi, sementara syarak memberi landasan spiritual.
Struktur marga dalam masyarakat Saibatin menekankan garis keturunan dan hierarki kepemimpinan. Sementara Pepadun menekankan musyawarah dan pemberian gelar melalui upacara adat.
Tradisi berbagi pada Ramadhan menjadi titik temu kedua sistem ini. Saibatin berbagi sebagai bentuk tanggung jawab moral pemimpin terhadap rakyatnya. Pepadun berbagi sebagai bentuk sakai sambayan, yaitu gotong royong.
Legenda Sekala Brak menyebut bahwa leluhur Lampung turun dari gunung mengikuti aliran air. Gunung melambangkan keteguhan prinsip, air melambangkan keluwesan dalam pergaulan. Tradisi berbagi adalah perpaduan keduanya: tegas dalam niat, lembut dalam tindakan.
Dalam Al-Qur’an disebutkan:
Yaa ayyuhal laziina aamanuu kutiba ‘alaikumus Siyaamu kamaa kutiba ‘alal laziina min qablikum la’allakum tattaquun
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa puasa bertujuan membentuk takwa.
Dalam tafsir klasik dijelaskan bahwa takwa berarti menjaga diri dari segala hal yang merusak hubungan dengan Tuhan dan manusia.
Dalam konteks adat Lampung, takwa diterjemahkan dalam perilaku sosial. Puasa melatih pengendalian diri, dan pengendalian diri menjaga piil pesenggiri, yaitu harga diri yang bermartabat.
Ungkapan adat berbunyi: “Piil pesenggiri, nemui nyimah, sakai sambayan, nengah nyappur.”
Keempat prinsip ini menjadi dasar etika sosial. Nemui nyimah berarti ramah dan suka memberi. Sakai sambayan berarti tolong-menolong. Nengah nyappur berarti mampu bergaul tanpa kehilangan jati diri.
Tradisi berbagi saat Ramadhan adalah manifestasi konkret dari prinsip tersebut. Ia bukan sekadar pembagian makanan, melainkan pernyataan identitas budaya.
Di kampung Lampung tempo dulu, menjelang magrib, anak-anak membawa dulang berisi makanan ke surau atau rumah tetangga. Tidak ada daftar penerima. Semua dilakukan berdasarkan rasa empati.
Seruit ikan bakar, gulai taboh, sambal tempoyak, dan kue-kue tradisional disusun rapi. Setiap keluarga menyisihkan sebagian untuk dibagikan.
Secara antropologis, tindakan ini memperkuat kohesi sosial. Tidak ada keluarga yang merasa terasing. Bahkan pendatang pun diterima sebagai bagian dari komunitas.
Dalam hadis Nabi Muhammad saw. disebutkan: “Laysa al-mu’min alladzī yasyba‘u wa jāruhu jā’i‘.” (Tidaklah beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.)
Hadis ini selaras dengan nilai nemui nyimah. Secara filosofis, berbagi bukan tindakan karitatif semata, melainkan kewajiban moral. Dalam masyarakat adat Lampung, kewajiban moral itu diperkuat oleh norma adat.
Jika ada keluarga yang enggan berbagi, ia akan dipandang kurang menjaga piil. Bukan dihukum secara formal, tetapi ditegur melalui nasihat halus dalam musyawarah.
Tradisi berbagi memiliki simbol-simbol yang kaya makna.
Pertama, dulang atau nampan besar. Ia melambangkan wadah kebersamaan. Dalam satu dulang, berbagai jenis makanan disatukan. Ini mencerminkan keberagaman marga dalam satu identitas Lampung.
Kedua, makan bersama setelah azan. Tidak ada yang memulai sebelum yang lain siap. Ini simbol kesetaraan sosial.
Ketiga, doa bersama sebelum berbuka. Doa menjadi jembatan antara adat dan syariat.
Dalam perspektif filsafat sosial, tradisi berbagi menciptakan rasa memiliki kolektif. Ia mengurangi kecemburuan sosial dan memperkuat solidaritas.
Ramadhan menjadi momentum tahunan untuk memperbarui kontrak sosial dalam masyarakat adat. Setiap tahun, nilai berbagi ditegaskan kembali melalui praktik nyata.
Beberapa arsip adat Lampung mencatat musyawarah marga pada abad ke-19 yang menegaskan kewajiban membantu sesama dalam bulan puasa. Dalam catatan Arab-Melayu ditemukan kalimat: “Pada bulan puasa, hendaklah tiap rumah memberi makan fakir dan anak yatim, supaya berkah turun atas kampung.”
Dokumen ini menunjukkan bahwa tradisi berbagi telah terlembagakan dalam struktur adat.
Sejarah kolonial juga mencatat bahwa masyarakat Lampung memiliki solidaritas tinggi dalam menghadapi tekanan eksternal. Solidaritas itu diperkuat melalui praktik sosial seperti berbuka bersama.
Dengan demikian, tradisi berbagi bukan hanya ritual religius, melainkan strategi sosial untuk mempertahankan identitas kolektif.
Tradisi berbagi di kampung Lampung tempo dulu menyatukan tiga unsur: iman, adat, dan sejarah.
Iman memberi arah spiritual.
Adat memberi struktur sosial.
Sejarah memberi akar identitas.
Ketiganya berpadu dalam momen berbuka puasa.
Ketika matahari tenggelam di balik gunung dan cahaya keemasan menyentuh laut, warga kampung duduk melingkar. Mereka makan dengan tenang, berbagi cerita, dan mempererat hubungan.
Tradisi itu mungkin kini berubah bentuk, tetapi esensinya tetap hidup. Selama nilai piil pesenggiri, nemui nyimah, dan sakai sambayan dijaga, selama itu pula Ramadhan akan selalu menjadi jejak hidup dalam adat Lampung.
Ramadhan dalam jejak hidup dan adat Lampung bukan sekadar perayaan tahunan. Ia adalah refleksi dari jati diri masyarakat yang menjunjung tinggi kebersamaan.
Tradisi berbagi di kampung tempo dulu mengajarkan bahwa kekuatan komunitas terletak pada solidaritas. Makanan berbuka hanyalah simbol. Makna sejatinya adalah kehadiran, perhatian, dan kepedulian.
Seperti pesan Minak Suttan Ratu dalam hikayat: “Adat akan hidup selama engkau menghidupkannya. Dan Ramadhan akan bermakna selama engkau berbagi.”
Daftar Pustaka
1. Hadikusuma, Hilman. Adat Istiadat Lampung. Bandung: Alumni, 1989.
2. Pemerintah Provinsi Lampung. Kuntara Raja Niti: Transliterasi dan Kajian Naskah Adat Lampung. Bandar Lampung: Arsip Daerah Lampung, 1994.
3. Iskandar, Syamsudin. Sekala Brak dan Asal-Usul Marga Lampung. Bandar Lampung: Dinas Kebudayaan Lampung, 2005.
4. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.
5. Az-Zuhaili, Wahbah. Tafsir al-Munir. Damaskus: Dar al-Fikr, 1991.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

