nataragung.id – Bandar Lampung – Seri kedua ini mengupas tuntas nilai Sakai Sambayan, jiwa gotong royong yang dahulu menjadi napas kehidupan masyarakat Lampung. Melalui kisah klasik tentang pembangunan rumah adat dan hajatan besar, pembaca diajak merenungi bagaimana semangat kebersamaan kini perlahan tergusur oleh individualisme. Disandingkan dengan nilai Islam dan Pancasila, tulisan ini menjadi pengingat lembut bahwa kekuatan masyarakat Lampung terletak pada kemampuan mereka untuk saling memikul beban sesama.
Di sebuah kampung tua di kaki Gunung Pesagi, konon pernah hidup seorang penyimbang bernama Radin Inten. Kisahnya bukan tentang perang atau kesaktian, melainkan tentang sebuah rumah Nuwo Sesat yang hendak dibangun. Pada masa itu, tidak ada tukang yang dibayar dengan uang. Tidak ada kontraktor yang menghitung biaya material. Yang ada hanyalah suara bedug yang ditabuh pertanda kerja bakti.
Dari ujung kampung hingga ke hilir, laki-laki membawa bambu dan kayu, perempuan memasak di dapur umum, dan anak-anak kecil mengangkut paku serta anyaman.
Dalam bahasa adat, ini disebut Sakai Sambayan. Sebuah filosofi yang mengajarkan bahwa beban yang berat akan menjadi ringan jika dipikul bersama.
Radin Inten pernah berpesan dalam sebuah pertemuan marga, sebagaimana tercatat dalam tutur lisan yang diwariskan turun-temurun: “Sakai sambayan, berrai sakemahan. Nyappur nemui, handak wohian.”
Artinya: “Saling membantu, berat menjadi ringan. Bergaul dan menerima, hendaklah saling memberi.”
Kutipan lama ini bukan sekadar puisi. Ia adalah kontrak sosial masyarakat Lampung masa lalu. Analisis terhadap kalimat berrai sakemahan menunjukkan sebuah kesadaran kolektif bahwa manusia adalah makhluk yang lemah secara individu namun kuat secara komunitas.
Ketika seseorang membangun rumah, itu bukan urusan pribadi, melainkan urusan kampung. Jika rumah itu roboh, kampung yang malu. Jika rumah itu berdiri megah, kampung yang bangga. Inilah mengapa Sakai Sambayan bukan sekadar kerja fisik, melainkan kerja hati.
Dalam sejarah masyarakat adat Lampung, sistem Marga berfungsi sebagai jaminan sosial. Dokumen kuno berupa Suatan atau catatan silsilah sering kali memuat aturan tentang kewajiban anggota marga untuk saling membantu. Misalnya, dalam tradisi Pepadun, ketika seorang anggota hendak menggelar upacara Ngekik (kenaikan pangkat adat), seluruh anggota marga wajib menyumbang tenaga dan materi. Tidak ada kata “tidak mampu” jika menyangkut hajat bersama.
Legenda dari wilayah Lampung Barat menceritakan tentang seorang anggota marga yang jatuh sakit saat musim panen. Tanpa diminta, tetangga datang memanenkan ladangnya. Hasil panen itu disimpan dan diserahkan utuh saat sang pemilik sembuh. Ini adalah bukti nyata Sakai Sambayan. Namun, kini cerita semacam itu mulai jarang terdengar. Pagar rumah semakin tinggi, pintu semakin tertutup. Individualisme mulai menggerus sendi-sendi kehidupan yang dahulu begitu kokoh.
Padahal, nilai ini sangat selaras dengan ajaran Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 2:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحِلُّوْا شَعَاۤىِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَاۤىِٕدَ وَلَآ اٰۤمِّيْنَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرِضْوَانًاۗ وَاِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوْاۗ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ اَنْ صَدُّوْكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اَنْ تَعْتَدُوْۘا وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ tuḫillû sya‘â’irallâhi wa lasy-syahral-ḫarâma wa lal-hadya wa lal-qalâ’ida wa lâ âmmînal-baital-ḫarâma yabtaghûna fadllam mir rabbihim wa ridlwânâ, wa idzâ ḫalaltum fashthâdû, wa lâ yajrimannakum syana’ânu qaumin an shaddûkum ‘anil-masjidil-ḫarâmi an ta‘tadû, wa ta‘âwanû ‘alal-birri wat-taqwâ wa lâ ta‘âwanû ‘alal-itsmi wal-‘udwâni wattaqullâh, innallâha syadîdul-‘iqâb
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syiar-syiar (kesucian) Allah, jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qalā’id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula mengganggu) para pengunjung Baitulharam sedangkan mereka mencari karunia dan rida Tuhannya! Apabila kamu telah bertahalul (menyelesaikan ihram), berburulah (jika mau). Janganlah sekali-kali kebencian(-mu) kepada suatu kaum, karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2).
Ayat ini menjadi landasan spiritual bahwa gotong royong dalam adat Lampung adalah bentuk ibadah sosial. Ketika orang Lampung membantu tetangga membangun rumah tanpa mengharapkan upah, mereka sedang mengerjakan kebajikan (birr). Analisis mendalam menunjukkan bahwa Sakai Sambayan adalah manifestasi lokal dari perintah Allah untuk ta’awun (tolong-menolong). Jika adat mengajarkan kebersamaan, agama mengajarkan bahwa kebersamaan itu harus dalam koridor kebaikan. Keduanya bertemu dalam satu titik: kemanusiaan.
Lebih jauh, semangat ini adalah cerminan Sila Ketiga Pancasila, “Persatuan Indonesia”. Gotong royong adalah metode asli bangsa Indonesia untuk membangun peradaban sebelum negara ini terbentuk. Masyarakat Lampung melalui Sakai Sambayan telah mempraktikkan persatuan dalam skala kecil yaitu kampung dan marga.
Namun, tantangan zaman modern membawa angin perubahan. Uang sering kali menggantikan tenaga. Orang lebih memilih membayar tukang daripada meminta bantuan tetangga karena takut merepotkan atau merasa tidak punya waktu. Padahal, esensi Sakai Sambayan bukan pada hasilnya, melainkan pada proses silaturahmi yang terjadi saat bekerja bersama. Saat tangan saling bertaut, saat keringat bercampur, di situlah rasa persaudaraan dibangun. Jika ini hilang, yang tersisa hanyalah hubungan transaksional yang dingin.
Sakai Sambayan sebenarnya memiliki lapisan makna yang lebih dalam dari sekadar kerja bakti. Ia adalah latihan kepekaan sosial. Dalam filosofi Nemui Nyimah (saling memberi dan menerima), seseorang dilatih untuk peka terhadap kebutuhan orang lain tanpa menunggu diminta. Ini adalah tingkat empati tertinggi.
Jika dikaitkan dengan Pi’il Pesenggiri (harga diri), maka menolong orang lain adalah cara menjaga harga diri. Orang yang tidak mau membantu akan dianggap tidak punya pesenggiri oleh masyarakat. Jadi, gotong royong dulu didorong oleh motivasi internal untuk menjaga martabat, bukan karena paksaan hukum. Inilah yang membuatnya begitu kuat dan tulus.
Kini, ketika tradisi ini memudar, kita kehilangan sesuatu yang mahal. Kita kehilangan rasa memiliki terhadap lingkungan sekitar. Ketika ada bencana, kita menunggu bantuan dari luar, padahal dahulu komunitaslah yang menjadi penolong pertama. Mengembalikan Sakai Sambayan bukan berarti menolak modernitas, melainkan menyisipkan nilai kebersamaan di tengah kemajuan.
Buku seri ini ingin mengetuk hati pembaca, khususnya masyarakat Lampung, untuk tidak membiarkan Sakai Sambayan menjadi sekadar cerita pengantar tidur. Mari kita mulai dari hal kecil. Menyapa tetangga, membantu rekan yang kesulitan, dan hadir dalam kegiatan kampung tanpa pamrih.
Gotong royong adalah warisan leluhur yang harus dijaga agar identitas kita tidak hilang ditelan zaman. Dengan menghidupkan kembali semangat ini, kita tidak hanya menghormati adat Saibatin atau Pepadun, tetapi juga memperkuat fondasi bangsa yang berlandaskan Pancasila dan nilai-nilai Ilahi. Biarlah tangan kita kembali bertaut, karena di sanalah letak kekuatan Bumi Lampung yang sesungguhnya.
Sumber Referensi
1. Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012.
2. Hadrawi. Adat Istiadat Lampung. Bandar Lampung: Pemerintah Provinsi Lampung, 2008.
3. Sinar, P.M. Hukum Adat dan Adat Istiadat Lampung. Jakarta: Yayasan Aditya Bhakti, 1994.
4. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (Pembukaan dan Batang Tubuh).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

