Bumi Lampung dan Cara Hidup Orangnya. Seri 10 – Menjaga Warisan Hidup. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami tidak pernah mengajarkan sesuatu dengan cara menggurui. Mereka lebih suka bersenandung. Di setiap malam bulan purnama, pemuda-pemudi yang disebut Muli Mekhanai, gadis dan jejaka Lampung, berkumpul di halaman rumah Punyimbang (penyimbang atau pemimpin adat). Mereka melantunkan puisi berirama yang disebut Bebandung.
Tapi suatu hari, saya mendengar kabar yang cukup mengkhawatirkan. Seorang teman dari Kabupaten Tulang Bawang Barat bercerita bahwa Bebandung sudah jarang dikenal anak muda. Balai Bahasa Provinsi Lampung bahkan menggelar pelatihan khusus di tahun 2022 untuk menyelamatkan sastra lisan ini dari kepunahan.
Saya tercenung. Mungkinkah generasi mendatang tidak akan pernah mendengar syair-syair indah seperti ini?
“Nabi Muhammad ino Rosul,
Alam rayo pun bersyukur,
Ghasono selamat tigeh dikubur,
Chagono shalat, zakat, dan jujur.”

Bayangkan, sebuah puisi yang mengajarkan rukun Islam dilantunkan dengan irama khas Lampung. Apakah kita rela warisan seperti ini lenyap ditelan zaman?
Menjaga warisan tidak melulu soal tarian dan lagu. Ada warisan yang lebih fundamental, yaitu kitab adat kita. Dalam khazanah budaya Lampung, ada manuskrip tua yang menjadi rujukan utama falsafah hidup kita. Namanya Kuntara Raja Niti atau Kuntakha Khaja Niti.
Menurut cerita dari generasi ke generasi, kitab ini memuat peraturan-peraturan kemasyarakatan yang lengkap. Dari hukum perkawinan, jual beli, tanah, utang piutang, hingga tata cara bertamu. Bahkan diatur pula bagaimana seorang laki-laki bersikap ketika berkunjung ke rumah perempuan yang suaminya sedang tidak ada.
Yang menarik, dalam Kuntara Raja Niti disebutkan tiga pokok hukum yang menjadi pegangan: igama (hukum yang nyata dan kasatmata), dirgama (hukum yang sesuai hati nurani), dan karinah (hukum yang berkaitan dengan sebab akibat suatu perbuatan).
Tahukah Anda? Kitab ini konon berlaku di tiga wilayah besar: Majapahit, Padjadjaran, dan Lampung. Artinya, leluhur kita sudah memiliki sistem hukum yang terstruktur sejak ratusan tahun lalu. Bukan sekadar aturan lisan, melainkan tertulis rapi dalam aksara Lampung kuno.
Saya ingin mengajak pembaca melihat Siger, mahkota adat Lampung. Selama ini banyak yang menganggapnya sekadar hiasan kepala pengantin. Tapi tahukah Anda makna di balik sembilan cabangnya?

Baca Juga :  Buku Seri Tradisional daerah Lampung. Seri 1 — Daur Hidup, Upacara Masa Kehamilan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam masyarakat Pepadun, Siger bukan benda mati. Ia adalah simbol Piil Pesenggiri, lambang harga diri dan kehormatan. Setiap lekuk dan cabangnya mengandung pesan moral tentang struktur sosial dan kedalaman spiritual. Sayangnya, belakangan ini generasi muda cenderung melihat Siger hanya sebagai aksesoris budaya yang dekoratif, tanpa memahami esensi sucinya.
Penelitian terbaru dari UIN Sunan Kalijaga mengungkapkan bahwa pemahaman terhadap Piil Pesenggiri sendiri mulai beragam di masyarakat Kotabumi. Ada yang memaknai Pesenggiri sebagai harga diri mutlak dalam sisi positif, ada pula yang, maaf, cenderung negatif, seperti “nggak mau kalah” secara membabi buta. Ini terjadi karena minimnya literasi budaya dalam lingkungan keluarga.
Menurut saya pribadi, inilah tugas kita bersama. Jangan biarkan Siger menjadi sekadar pajangan di museum. Hidupkan kembali maknanya dalam keseharian.
Berbicara tentang warisan hidup, ada tradisi unik bernama Ningkok atau Lempar Selendang. Biasanya dilakukan setelah rangkaian acara pernikahan adat selesai. Para Muli Mekhanai duduk berhadapan, saling bertukar selendang dengan diiringi musik tradisional.
Peserta yang memegang selendang saat musik berhenti akan mendapat “hukuman”, biasanya diminta menyanyi, menari, atau berbicara dalam bahasa daerah. Lucu, meriah, dan penuh makna.
Yang membuat saya kagum, tradisi ini dilaksanakan dengan menjunjung tinggi norma kesopanan.

Para Muli dan Mekhanai tidak duduk bercampur baur. Pakaian harus rapi dan sopan. Inilah bentuk kearifan lokal yang mengajarkan pergaulan sehat antara pemuda-pemudi.
Dalam Islam, silaturahmi sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali persaudaraan” (HR. Bukhari).

Baca Juga :  Buku Seri Adat Bersendi Syara', Syara' Bersendi Kitabullah. Seri 1: Piil Pesenggiri, Martabat dan Harga Diri dalam Bingkai Iman. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Ningkok adalah salah satu wadah halal untuk bersilaturahmi, sekaligus melatih keberanian tampil di depan umum.
Ada lagi tradisi yang tak kalah menarik, yaitu Kekiceran dari masyarakat Saibatin di Pesisir Barat. Tradisi ini adalah pertunjukan seni budaya yang dilakukan Muli Mekhanai dalam rangka memeriahkan Idul Fitri.
Subhanallah, bayangkan: momentum Lebaran tidak hanya diisi dengan halal bihalal, tetapi juga dengan pentas seni yang melestarikan budaya. Ini bukti nyata bahwa Islam dan budayanya lokal bisa berjalan beriringan. Tidak ada pertentangan, justru saling menguatkan.
Dalam Kekiceran, terkandung nilai-nilai luhur: religius, estetika, ekonomi, pendidikan, sejarah, dan gotong royong. Enam nilai sekaligus! Ini menunjukkan bahwa menjaga warisan hidup bukan sekadar nostalgia, tapi juga investasi masa depan.
Lalu, bagaimana cara kita, masyarakat Lampung biasa, menjaga semua warisan ini?
Jawabannya sederhana: mulai dari hal kecil. Ajari anak-anak kita satu bait Bebandung. Pakailah Siger dengan memahami maknanya, bukan sekadar gaya-gayaan. Dukunglah generasi muda yang ingin belajar Cangget atau Tari Sembah.
Dalam falsafah Piil Pesenggiri, ada Sakai Sambayan, gotong royong. Melestarikan budaya adalah tanggung jawab kolektif. Bukan hanya tugas pemerintah atau para Punyimbang, tapi juga kita semua.
QS. Ar-Ra’d ayat 11 mengingatkan:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
lahû mu‘aqqibâtum mim baini yadaihi wa min khalfihî yaḫfadhûnahû min amrillâh, innallâha lâ yughayyiru mâ biqaumin ḫattâ yughayyirû mâ bi’anfusihim, wa idzâ arâdallâhu biqaumin sû’an fa lâ maradda lah, wa mâ lahum min dûnihî miw wâl
“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Baca Juga :  Buku Seri Musyawarah Mufakat, Cara Lampung Memutuskan Perkara. Seri 3: Merangkul Masyarakat (Nengah Nyappur & Nemui Nyimah). Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Jika kita ingin budaya Lampung tidak punah, kitalah yang harus bergerak.
Saya yakinkan Anda, menjaga warisan hidup bukan soal menolak kemajuan zaman. Bukan pula tentang memaksa anak muda berpakaian adat setiap hari. Tapi tentang memastikan nilai-nilai luhur tetap mengalir dalam nadi kehidupan kita.
Pesenggiri bisa kita wujudkan dengan menjaga nama baik keluarga di mana pun kita berada. Nemui Nyimah bisa kita tunjukkan dengan senyum tulus kepada tetangga baru. Nengah Nyappur bisa kita praktikkan dengan terbuka terhadap perbedaan. Sakai Sambayan bisa kita lakukan dengan kerja bakti membersihkan masjid. Juluk Adok bisa kita jaga dengan bertingkah laku sesuai gelar yang disandang.
Seperti kata pepatah lama: “Kaghom naghuk ghik pesenggiri, sai peghlom gham ulun Lampung.” (Dengan harga diri dan kehormatan, kami berdiri sebagai orang Lampung).
Tanpa usaha kita bersama, warisan ini akan menjadi cerita usang yang hanya dikenang di buku-buku sejarah. Tapi dengan cinta dan aksi nyata, warisan ini akan hidup, menyala di dada setiap orang Lampung, dari generasi ke generasi.
Mari jaga bumi Lampung, mari jaga cara hidupnya.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini