nataragung.id – Pemanggilan – “Jadikan makanan sebagai obat, bukan obat sebagai makanan.”
Kalimat ini mengandung hikmah yang sangat dalam. Maksudnya bukan berarti menolak obat ketika sakit, tetapi mengajarkan bahwa menjaga kesehatan melalui pola makan yang baik jauh lebih utama daripada bergantung kepada obat-obatan setelah penyakit datang.
Islam telah mengajarkan prinsip pencegahan (الوقاية) jauh sebelum dunia kedokteran modern berkembang. Allah Ta’ala berfirman: “…Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini menjadi landasan penting dalam ilmu kesehatan. Banyak penyakit kronis seperti obesitas, diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan gangguan metabolik berawal dari pola makan yang berlebihan dan tidak seimbang.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:
مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ
“Tidak ada wadah yang diisi manusia lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika harus makan lebih banyak, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2380; dinilai hasan shahih).
Hadits ini bukan hanya tuntunan adab makan, tetapi juga prinsip kedokteran preventif yang diakui hingga saat ini.
Bukti Kedokteran Modern
Dunia medis modern telah membuktikan bahwa pola makan sehat merupakan “obat pertama” untuk mencegah berbagai penyakit.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa pola makan sehat dapat menurunkan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker. Sebagian besar penyakit tidak menular berkaitan erat dengan konsumsi gula berlebih, garam berlebih, lemak trans, dan kurangnya konsumsi buah serta sayuran.
Bahkan dalam praktik kedokteran, dokter sering kali memberikan perubahan gaya hidup dan pola makan sebagai terapi utama sebelum memberikan obat, terutama pada penderita pradiabetes, hipertensi ringan, kolesterol tinggi, dan obesitas.
Pandangan Ulama Kedokteran Islam
Tokoh besar kedokteran Islam, Ibnu Sina (Avicenna), dalam kitab Al-Qanun fi at-Tibb menjelaskan bahwa: “Selama memungkinkan mengobati dengan pengaturan makanan, jangan berpindah kepada obat. Dan selama memungkinkan menggunakan obat tunggal, jangan menggunakan obat yang banyak.”
Prinsip ini menunjukkan bahwa makanan yang baik adalah bagian dari terapi, sedangkan obat digunakan ketika memang diperlukan.
Demikian pula Ar-Razi pernah menasihatkan: “Obatilah penyakit selama mungkin dengan makanan. Jika tidak berhasil, barulah dengan obat.”
Ini bukan berarti menolak obat, tetapi mengutamakan pencegahan dan perbaikan gaya hidup sebelum ketergantungan terhadap obat.
Kesimpulan
Islam tidak melarang penggunaan obat. Bahkan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
تَدَاوَوْا عِبَادَ اللهِ، فَإِنَّ اللهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً
“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah. Sesungguhnya Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan Dia juga menurunkan obatnya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Karena itu, seorang muslim hendaknya menjaga kesehatannya dengan mengonsumsi makanan yang halal, baik (thayyib), bergizi, dan tidak berlebihan. Dengan demikian, makanan menjadi sarana menjaga kesehatan sehingga kebutuhan terhadap obat dapat diminimalkan. Namun apabila sakit datang, maka berobat adalah bagian dari ikhtiar yang dianjurkan oleh syariat.
Maka benar adanya ungkapan: “Jadikan makanan sebagai obat, bukan obat sebagai makanan.”
Karena kesehatan lebih mudah dipelihara daripada dipulihkan, dan mencegah penyakit jauh lebih ringan daripada mengobatinya. (*/282).
WaAllahu A’lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

