Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang Dulu Anak Kampung Mengenal Semua Tetangga. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami menuturkan bahwa hidup di tanah Lampung bagaikan setangkai lada yang tumbuh merambat, akarnya saling bertaut dan dahannya saling menaungi. Di kampung-kampung tua seperti Gunung Sugih, Seputih Surabaya, dan daerah Pubian, setiap anak kampung hafal betul nama semua tetangga.
Bukan sekadar nama panggilan, melainkan mengetahui pula asal-muasal marga-nya, gelar Punyimbang yang disandang keluarganya, dan bahkan siapa yang berhak menjadi Punyimbang di sesat (balai adat) bila terjadi musyawarah.
Anak-anak waktu itu akrab dengan panggilan “Tulang” untuk paman dari pihak ibu atau “Buyut” untuk tetua yang dihormati. Ketika senja merebah di ufuk barat, rumah panggung tempat kami bermain diterangi pelita dari minyak kemiri. Saya masih ingat, ibu-ibu akan duduk di beranda menjemur lada sambil bercerita, sedangkan bapak-bapak berkumpul di balai kampung membicarakan Sakai Sambayan (gotong royong) untuk memperbaiki jalan atau membangun jembatan.
Begitulah kehidupan bergulir, hangat dan penuh makna.

Namun, seperti air yang mengalir, zaman pun berubah. Kini, kita sering mendapati generasi muda yang tak mengenal lagi tetangga sebelah rumah, apalagi gelar adatnya.
Perubahan hubungan sosial ini terjadi begitu cepat. Teknologi yang seharusnya menjadi jembatan, justru kadang menjadi sekat. Dulu, untuk sekadar menyampaikan kabar duka atau suka, orang akan berjalan kaki ke rumah keluarga sedekat mungkin, seraya mengucap Nemui Nyimah (sikap saling memberi dan menerima). Sekarang, kabar itu cukup tersebar di gawai, tanpa kita benar-benar merasakan hangatnya jabat tangan atau tatap mata.
Mobilitas yang tinggi juga membuat anak-anak muda merantau ke kota seperti Bandar Lampung atau keluar pulau, sehingga ikatan geneologis (hubungan darah) dalam marga mulai renggang. Kita kehilangan ruang untuk bercerita di beranda, dan itu berarti kita kehilangan cara untuk merawat jejak hidup bersama.
Padahal di balik setiap marga Lampung, tersimpan sejarah panjang yang tercatat dalam naskah-naskah tua.

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti disebutkan bahwa masyarakat Lampung telah memiliki tatanan hukum adat sejak zaman Kesultanan Banten dan pengaruh Kerajaan Majapahit.
Saya pernah menyaksikan satu naskah kuno di Sekala Bekhak yang ditulis di atas kulit kayu dan tanduk kerbau. Dalam aksara Lampung yang khas, terbaca silsilah Buay atau Paksi yang menunjukkan bahwa kita semua berasal dari satu rumpun, satu keturunan. Di dalam kitab itu tersurat: “Tegak buway adok mulai dari sekala bekhak, turun-turun sampai ke ujung tanah pesisir.”
Artinya, marga yang kita kenal sekarang berawal dari pusat peradaban Sekala Bekhak yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru Lampung. Menurut cerita lisan yang sampai ke telinga saya, pada zaman dahulu ada seorang Punyimbang bernama Dalom Putekha Jaya Makhga yang berkeliling dari kampung ke kampung untuk mengajarkan tata cara Nengah Nyappur, bagaimana bermusyawarah dengan bijak. Beliaulah yang mewariskan bahwa harga diri atau Pesenggiri itu bukanlah kesombongan, melainkan keberanian untuk menjaga kehormatan keluarga dan kampung halaman.
Namun, apakah semua nilai luhur itu telah sirna? Saya tidak percaya demikian. Dalam hati masyarakat Lampung, falsafah Pili Pesenggiri tetap hidup. Ada satu kisah yang saya dengar dari tetua di Kampung Daswati. Konon di masa perjuangan kemerdekaan, para Punyimbang dari berbagai marga berkumpul di rumah adat untuk merumuskan sikap.
Mereka sepakat bahwa meskipun mereka adalah Pepadun atau Saibatin yang berbeda, persatuan lebih utama. Semangat inilah yang kemudian menjadi cikal bakal semangat kebangsaan di tanah Lampung. Saya membayangkan betapa eratnya hubungan mereka; mereka saling kenal, mereka saling percaya. Itulah inti dari Sakai Sambayan yang kita rindukan.

Baca Juga :  Gulai Balak, Bukan Sekadar Sajian Hajatan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Nah, bagaimana dengan kita yang hidup di zaman digital? Beberapa orang mungkin berpikir bahwa kita tak bisa lagi menerapkan adat secara kaku di tengah hingar-bingar dunia modern. Namun, saya justru melihat ada celah untuk bersilaturahim. Teknologi bisa menjadi alat untuk mengobati kerinduan pada kampung, seperti saudara-saudara kita yang merantau. Dengan panggilan video, orang tua di kampung bisa tetap melihat wajah anaknya yang ada di perantauan. Namun perlu diingat, itu bukanlah pengganti pertemuan fisik. Dalam banyak penelitian sosiologi, dan ini sesuai dengan ajaran Islam, hubungan sosial sangat penting untuk kesehatan jiwa.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Muslim, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” Ini mengajarkan kita bahwa memuliakan dan mengenal tetangga adalah bagian dari iman. Saya teringat akan falsafah Pesenggiri. Rasa hormat dan harga diri kita akan meningkat bila kita menjaga hubungan dengan sesama, bukan malah menyendiri di balik layar.
Saya sering mendengar petuah dari Punyimbang di kampung halaman: “Kenalilah tetanggamu, karena dalam kesulitan, merekalah yang akan datang lebih dulu sebelum sanak saudara.” Ini adalah bentuk Nengah Nyappur yang hakiki, sikap terbuka terhadap siapa pun, tanpa memandang suku, agama, atau golongan. Kalau kita cermati, nilai keterbukaan ini sangat sejalan dengan sila kedua Pancasila, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab”.
Islam pun mengajarkan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa agar saling mengenal (QS. Al-Hujurat: 13):

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
yâ ayyuhan-nâsu innâ khalaqnâkum min dzakariw wa untsâ wa ja‘alnâkum syu‘ûbaw wa qabâ’ila lita‘ârafû, inna akramakum ‘indallâhi atqâkum, innallâha ‘alîmun khabîr
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Baca Juga :  Buku Seri Denda Adat Pepadun Menurut Perspektif Islam. Seri 8 : “Pi’il Pesenggiri: Jalan Lurus Leluhur” Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Kita juga tidak boleh melupakan Juluk-Adok. Di Lampung, pemberian gelar atau juluk adalah sebuah kehormatan yang sangat dijaga. Namun, tahukah Anda bahwa di balik pemberian gelar itu, ada tanggung jawab moral yang besar? Seorang yang bergelar Punyimbang atau Dalom harus mampu menjaga tutur kata dan perilakunya.
Ini bukanlah sekadar simbol status sosial, melainkan pengingat bahwa kita harus menjadi teladan bagi lingkungan sekitar. Hal ini sejalan dengan sila keempat Pancasila tentang kerakyatan dan permusyawaratan, di mana setiap orang, apa pun gelarnya, dihormati pendapatnya dalam musyawarah.
Saya ingin mengajak kita semua untuk kembali merawat “jejak hidup” itu. Mulailah dengan hal yang sederhana: di akhir pekan, ajak anak atau cucu berjalan kaki menyusuri kampung atau kompleks perumahan, dan perkenalkan mereka pada tetangga.
Ceritakan siapa nama mereka, dari marga mana, dan apa jasa mereka di masa lalu. Jika perlu, kunjungi sesat atau balai adat di daerah sekitar. Di beberapa kampung, seperti di Gunung Sugih, cerita Wayang Sekelik masih sering dipentaskan untuk mengenalkan lakon sejarah kepada generasi muda. Itulah media yang luar biasa. Dengan cara yang menyenangkan, sejarah marga dan nilai-nilai luhur bisa terus bertahan.

Saya sangat terharu membaca satu catatan tentang Rumah Daswati di Bandar Lampung. Bangunan itu adalah saksi sejarah berdirinya Provinsi Lampung. Namun, banyak generasi Z yang tak mengenalnya. Ini adalah peringatan bagi kita. Jika sebuah bangunan bersejarah saja terlupakan, apalagi nilai-nilai adat yang tak kasat mata? Kita harus waspada. Mari jadikan rumah-rumah adat dan bangunan bersejarah sebagai ruang belajar bersama, tempat para tetua bercerita tentang Sakai Sambayan, tentang Nemui Nyimah, dan tentang perjuangan para leluhur melawan penjajah.
Kita boleh saja menggunakan ponsel pintar, tetapi jangan sampai alat itu mematikan hati kita. Dalam Al-Qur’an, surat Al-Hujurat ayat 10 menyebutkan,
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَࣖ
innamal-mu’minûna ikhwatun fa ashliḫû baina akhawaikum wattaqullâha la‘allakum tur-ḫamûn
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.”

Ini mengingatkan saya pada Sakai Sambayan. Gotong royong dan perdamaian adalah inti dari kehidupan bermasyarakat. Nilai ini pula yang diamanatkan oleh Pancasila dalam sila ketiga dan kelima. Oleh karena itu, melestarikan adat Lampung bukanlah hal yang bertentangan dengan ajaran Islam, melainkan bagian dari pengamalannya.
Suatu waktu, saya pernah ikut serta dalam begaweh (kerja bakti) membersihkan makam leluhur di dekat kampung. Di situ, saya melihat semua orang, dari anak-anak sampai orang tua, turun tangan. Tidak ada bedanya antara yang kaya atau miskin, yang berpangkat tinggi atau rendah.
Semua bekerja bahu-membahu. Saya merasakan betul semangat Sakai Sambayan yang hidup. Dan saat mereka beristirahat, mereka saling bercerita tentang silsilah keluarga. “Ini makam Buyut si Fulan, keturunan Dalom si Anu,” begitu kata mereka. Dari situ, saya sadar bahwa merawat makam leluhur bukan sekadar ritual, tetapi juga cara untuk menjaga tali persaudaraan lintas generasi.
Sesungguhnya, perubahan zaman itu pasti terjadi. Kita tak bisa memutar balik roda teknologi. Namun, kita bisa memilih untuk memanfaatkannya dengan bijak. Saya punya harapan besar pada generasi muda. Mereka cerdas, kreatif, dan melek teknologi. Tugas kita adalah memberikan “bahan bakar” berupa cerita dan nilai-nilai luhur agar mereka tetap mencintai kampung halaman dan budaya Lampung.
Sebagaimana para Punyimbang di masa lampau, kita harus menjadi penjaga api dan pencerita yang baik. Nasihat dari tetua di Kampung Daswati selalu terngiang di telinga saya: “Marga adalah tiang rumah, gelar adalah atapnya, dan budi pekerti adalah pondasinya. Tanpa mengenal tetangga, rumah itu akan sepi.”
Mari kita mulai dari rumah kita sendiri, dari lingkungan terkecil. Kenalkan anak-anak pada tetangga sebelah, ajak mereka ke acara adat, dan ceritakan kisah-kisah heroik para leluhur. Kita tidak harus menjadi Punyimbang untuk menjadi penjaga adat. Kita hanya perlu menjadi manusia yang sadar akan akar budayanya.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Menjaga Hubungan Sosial di Tengah Lapar dan Dahaga. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Penutup cerita ini, saya kutipkan sebuah petuah dari Mohammad Medani Bahagianda gelar Dalom Putekha Jaya Makhga dalam catatannya tentang adat Lampung: “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Ke mana pun kau pergi, bawa serta budi dan bahasa; di mana pun kau berpijak, jaga nama baik dan kerukunan.”
Inilah pesan yang ingin saya titipkan. Semoga kita semua, terutama generasi penerus, tetap menjadi anak kampung yang tak hanya mengenal tetangga, tetapi juga mencintai nilai-nilai adat, Islam, dan Pancasila. Karena dengan mengenal asal-usul, kita akan lebih bijak melangkah ke masa depan. Sai Bumi Ruwa Jurai, sekali air bah, sekali tanah tergenang, begitulah kita semua, satu tanah air, satu bangsa, namun kaya akan budaya yang saling melengkapi. Mari kita jaga, mari kita rawat, agar jejak hidup Lampung tak pernah pudar dari ingatan.

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, M.M. (Dalom Putekha Jaya Makhga). (n.d.). Catatan Adat dan Sejarah Marga Lampung [Naskah/Dokumen pribadi].
2. Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung..
3. Kuntara Raja Niti. (Naskah Kuno). Tersedia dalam aksara Lampung dan terjemahan.
4. RRI.co.id. (2026). Jejak Sejarah Lampung Tersisa di Rumah Daswati. Bandar Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini