Buku Seri Sejarah Marga Pepadun hingga terbentuknya Marga Pubian Bukuk Jadi. Pendahuluan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Lampung adalah tanah yang kaya akan nilai budaya, sejarah leluhur, serta struktur sosial yang kompleks. Dalam puspa ragam budaya tersebut, komunitas adat Pepadun memainkan peran penting sebagai tatanan masyarakat yang masih lestari dan aktif menjalankan sistem adat hingga hari ini.
Salah satu kelompok penting dalam komunitas Pepadun adalah Marga Pubian, yang bukan hanya dikenal sebagai keturunan dari garis Umpu, tetapi juga sebagai entitas adat yang mengalami transformasi historis dan sosial yang unik.

Masyarakat Pubian telah lama dikenal sebagai bagian dari Pubian Telu Suku, terdiri atas tiga marga utama: Manyarakat, Tambapupus, dan Bukuk Jadi. Ketiga marga ini kemudian berkembang dan menyebar ke berbagai wilayah, termasuk di antaranya kawasan Lampung Tengah, Lampung Selatan, dan Lampung Utara, bahkan melintasi batas administratif ke wilayah urban seperti Natar dan Tegineneng.

Seiring perkembangan sosial dan dinamika migrasi, terjadi pembentukan struktur baru di dalam Pubian, yang kemudian dikenal dengan istilah:
* Pubian (inti)
* Pubian 2 Suku
* Pubian 3 Suku
* Pubian Bukuk Jadi

Baca Juga :  Buku Seri: Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung. Seri 7 , Keluarga dan Adat: Tempat Nilai Ditanamkan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Pembagian ini tidak semata-mata administratif, tetapi sarat dengan makna historis, genealogis, dan kultural. Masing-masing entitas membawa serta struktur kepemimpinan adat, tradisi, dialek, dan wilayah domisili yang berbeda. Perbedaan ini juga mencerminkan cara masyarakat Pubian beradaptasi terhadap zaman, termasuk pada masa kolonial, modernisasi, dan perubahan struktur sosial masyarakat Lampung.

Sebagai contoh, Pubian inti masih memegang kuat tradisi dan adat leluhur, umumnya bermukim di kawasan Padang Ratu (Lampung Tengah). Pubian Dua Suku berkembang di wilayah seperti Terusan Nunyai dan sebagian Tulang Bawang. Pubian Tiga Suku memiliki basis kuat di Way Kanan dan Lampung Utara, sedangkan Pubian Bukuk Jadi banyak menetap di wilayah urban seperti Natar dan Tegineneng, dan mencakup 14 tiyuh yang tersebar di 12 desa.

Kitab Kuntara Raja Niti, yang menjadi acuan hukum dan sejarah adat Lampung, menyebut Pa’lang sebagai leluhur langsung orang Pubian, bagian dari lima keturunan Umpu Serunting yang berdiam di Sekala Brak dan mendirikan Keratuan Pugung.

Baca Juga :  Buku Seri : PIIL PESENGGIRI Pedoman Hidup Bermartabat Orang Lampung di Era Modern. Seri - 8: Warisan untuk Generasi Penerus, Menjaga Martabat di Era Digital. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Dari sinilah akar sejarah Pubian bermula, dan selanjutnya menyebar ke dataran rendah untuk membentuk kampung-kampung awal.

Buku ini dirancang sebagai seri naratif dan analitis, dengan pendekatan historis dan antropologis untuk menelusuri asal-usul, perkembangan, serta dinamika internal masyarakat Pubian dalam komunitas Pepadun.

Seri 1: Sejarah dan Asal-Usul Lampung Pubian
* Asal-usul masyarakat Pubian dari Keratuan Pugung
* Hubungan genealogis dengan kelompok Pepadun lainnya
* Proses migrasi dari Sekala Brak hingga pembentukan tiyuh

Seri 2: Struktur Adat dan Kelembagaan dalam Pubian
* Sistem Pepadun dan kedudukan marga Pubian
* Cakak Pepadun, gelar adat, dan peran tokoh penyimbang
* Nilai-nilai sosial spiritual: Piil Pesenggiri, Juluk Adok, Sakai Sambaian

Seri 3: Pembagian Lampung Pubian
* Pubian inti, 2 suku, 3 suku, dan Bukuk Jadi: sejarah dan logika pembagian
* Ciri-ciri struktural dan adat masing-masing
* Persebaran wilayah dan pengaruh budaya lokal

Seri 4: Pubian Bukuk Jadi dan Mobilitas Adat
* Perkembangan 14 tiyuh di Natar dan Tegineneng
* Adaptasi nilai adat dalam masyarakat urban
* Peran Pubian Bukuk Jadi dalam pelestarian budaya dan tantangan modernitas.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Tradisi Berbagi di Kampung Lampung Tempo Dulu. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Melalui buku ini, penulis berharap dapat:
1. Memberikan pemahaman yang komprehensif dan historis mengenai pembentukan marga-marga dalam komunitas Pepadun, khususnya Pubian.
2. Menjawab pertanyaan penting:
a. Mengapa Pubian terbagi-bagi?
b. Apa perbedaan mendasarnya?
c. Dimana mereka tersebar saat ini?
3. Menjadi dokumen rujukan yang dapat digunakan oleh pelajar, akademisi, tokoh adat, serta masyarakat umum yang tertarik terhadap sejarah dan adat Lampung.
4. Memperkuat rasa hormat dan tanggung jawab terhadap identitas budaya Lampung dalam pusaran zaman yang terus berubah.

Akhir kata, semoga buku ini dapat menjadi jembatan antara generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam memahami serta menjaga warisan budaya Pubian dalam komunitas Pepadun. (*)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini