nataragung.id – Natar – Betapa hati ini merindukan sebuah perjalanan, bukan sekadar menuju sebuah kota yang dibicarakan oleh Plato, tetapi menuju negeri abadi yang dijanjikan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang taat.
Negeri tanpa kesedihan dan tanpa beban, tanpa kebencian dan tanpa nestapa, tanpa tipu daya dan tanpa kelengahan. Itulah surga, tempat segala penat sirna, tempat hati bernafas dengan ketenangan dan kedamaian.
Namun untuk sampai ke sana, kita butuh sejenak hening. Hening yang mengajak kita merenungi dosa dan kelalaian, jeda yang membuat kita berdamai dengan takdir, diam yang menenangkan jiwa yang letih oleh urusan dunia.
Kita butuh bersandar di “bantal” dzikir,
yang menopang hati dan pikiran kita agar tidak jatuh, butuh lantunan ayat-ayat Allah yang menenangkan,
membungkus hati dengan ketenteraman.
Terkadang kita perlu menyendiri, bukan untuk lari dari dunia, tetapi untuk kembali kepada Allah.
Kita perlu menata ulang langkah, mendengar bisikan iman dan hati nurani, merasakan ketenangan yang datang dari dekatnya hubungan dengan-Nya, lalu menghirup napas penuh harapan. Harapan untuk menjadi penghuni negeri yang tidak pernah pudar kebahagiaannya. (42)
WaAllahu A’lam
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
*) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

