nataragung.id – Bandar Lampung – Bangsa Indonesia, sebagaimana bangsa-bangsa Asia–Afrika pada umumnya, telah mengalami penderitaan panjang akibat penjajahan imperialis Barat selama ratusan tahun.
Kini, ketika Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, bangsa kita dihadapkan pada situasi geopolitik global yang tidak menentu. Ekonomi dunia tengah lesu, konflik politik merebak di berbagai negara, sementara pembantaian yang menewaskan lebih dari 60 ribu jiwa di Gaza dan Palestina oleh Israel menyita energi serta perhatian masyarakat dunia.
Di saat bersamaan, Indonesia pun menghadapi gangguan dari berbagai arah yang diorkestrasi kekuatan luar negeri. Upaya merongrong eksistensi negara muncul dalam bentuk dorongan separatisme di Papua, hingga bangkitnya kembali partai HTI berbasis di London yang menjual ideologi khilafah. Dengan dukungan kampanye masif di media sosial, mereka gencar menyuarakan anti-NKRI dan anti-demokrasi. Mereka inilah penumpang gelap, proksi asing yang tujuan utamanya bukan membantu rakyat menghadapi problem ekonomi sistemik, melainkan menunggangi keresahan masyarakat dan membenturkan rakyat dengan pemerintahnya.
Kompleksitas persoalan ekonomi bangsa jelas tidak mungkin diselesaikan oleh rakyat sendiri. Pemerintah, yang telah diberi mandat oleh rakyat untuk mengelola negeri dengan tujuan “memakmurkan rakyatnya”, harus melakukan introspeksi sekaligus bertanggung jawab.
Tantangan nyata yang dihadapi saat ini sangat serius: angka pengangguran tinggi akibat terbatasnya lapangan kerja, pemborosan anggaran di internal birokrasi, korupsi yang merajalela, maraknya judi online, meningkatnya pengguna narkoba, serta pengelolaan sumber daya alam yang hanya dinikmati segelintir orang. Semua itu adalah masalah besar yang harus segera dihadapi pemerintah demi menjaga masa depan bangsa.
*). Penulis Adalah Aktivis NU, Tinggal di Bandar Lampung.

