Asal Mula Way Kanan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dalam peta kearifan lokal Lampung, Way Kanan bukan sekadar nama sebuah kabupaten. Ia adalah sebuah narasi besar tentang perjalanan, pertemuan, dan penataan kehidupan yang berurat berakar pada nilai-nilai masyarakat adat Pepadun. Nama ‘Way Kanan’ sendiri merujuk pada ‘Sungai Kanan’, sebuah arteri kehidupan yang membelah wilayah ini, yang dalam perspektif kosmologis Pepadun lebih dari sekadar badan air, ia adalah saksi bisu sekaligus penuntun peradaban. Esai ini menelusuri asal-usul Way Kanan melalui kisah fiksi rakyat, silsilah marga, dan dokumen kuno, untuk mengungkap bagaimana sebuah wilayah menemukan identitas dan jati dirinya.

Alkisah, pada suatu masa, sekelompok masyarakat Pepadun dari Buay Tegamoan, dipimpin oleh seorang pemimpin muda bernama Minak Kemala Bumi, melakukan migrasi dari wilayah Sekala Brak. Mereka mencari tanah baru yang subur untuk membangun permukiman. Perjalanan mereka terhalang oleh sebuah sungai besar yang arusnya deras dan liar, menghambat perluasan wilayah.

Minak Kemala Bumi dikenal sebagai seorang yang memiliki kesaktian dan kedekatan dengan alam. Ia pun memanjatkan doa dan melakukan semedi di tepi sungai, memohon petunjuk kepada Sang Penguasa Air, yang dalam kepercayaan setempat dikenal sebagai Sang Hyang Tuho di Way. Konon, dalam mimpinya, ia didatangi oleh penjaga sungai berwujud seekor harimau loreng yang dapat berbicara.

Sang penjaga bersabda, “Tanah seberang sungai ini subur untuk kau tempati, hai keturunan Pepadun. Namun, kau harus berjanji menjagaku. Jangan kotakanku dengan keserakahan, jauhkanlah sampah-sarap dari tubuhku. Sebagai imbalannya, aku akan tenangkan airku dan berikan ikan-ikan yang gemuk untuk anak cucumu.”

Minak Kemala Bumi menyanggupi. Keesokan harinya, sebuah keajaiban terjadi. Sebuah batu raksasa terbelah di hulu sungai, mengalihkan arus utama sehingga terbentuklah sebuah jalur sungai baru yang lebih tenang dan mudah diseberangi di sisi kanan (way kanan) dari wilayah mereka. Sejak itulah, sungai dan wilayah tersebut dinamai Way Kanan. Perjanjian dengan penjaga sungai ini melahirkan filosofi Nemui Nyimah, yang berarti bersikap terbuka dan ramah, tetapi juga harus menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Sungai bukanlah musuh yang harus ditaklukkan, melainkan mitra kehidupan yang harus dihormati.

Baca Juga :  Buku Seri Lampung Pubian Dalam Komunitas Pepadun Seri 1: Sejarah dan Asal-Usul Lampung Pubian Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Kedatangan Minak Kemala Bumi dan pengikutnya dari Buay Tegamoan menandai babak baru. Mereka bukanlah pendatang tunggal. Legenda dan warahan tutur (cerita lisan) menyebutkan bahwa Way Kanan kemudian menjadi tujuan persebaran beberapa Buay (klan besar) utama Pepadun, seperti Buay Belunguh, Buay Nuban, Buay Baradatu, dan Buay Umpu.

Masing-masing Buay ini memiliki daerah kekuasaan (paksi-pak) yang dipimpin oleh seorang Punyimbang. Sebuah naskah kuno pada bilah bambu milik marga Nuban menyebutkan: “Jama sai Minak Nuban, sai muli dari Kenali, turun ka Way Kanan, makam sai di Tiuh Nuban, membawa cakak pepadun sai terbuat dari kayu lemah kuning.” (Adapun Minak Nuban, yang berangkat dari Kenali, turun ke Way Kanan, makamnya di Kampung Nuban, membawa cakak pepadun yang terbuat dari kayu lemah kuning).

Penyebutan cakak pepadun dari kayu lemah kuning (sejenis kayu keras dan berharga) sangat signifikan. Ini bukan hanya soal kekayaan material, melainkan simbol bahwa otoritas adat yang mereka bawa adalah otoritas yang legitimit, kokoh, dan berurat berakar. Setiap Buay mendirikan tiuh (kampung) di sepanjang aliran Way Kanan dan anak-anak sungainya, membentuk sebuah konfederasi adat yang longgar tetapi saling terhubung melalui ikatan perkawinan dan ritual bersama. Sungai Way Kanan menjadi jalur transportasi, sumber ekonomi, dan sekaligus pemersatu berbagai marga ini.

Baca Juga :  Buku Seri : Tradisi Ngejalang, Ziarah ke Makam Leluhur Seri – 2: Makna di Balik Langkah, Filosofi Tradisi Ngejalang Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Bagi masyarakat Pepadun Way Kanan, sungai (Way) adalah pusat dari seluruh denyut kehidupan. Filosofi ini terinternalisasi dalam berbagai ritual dan keseharian. Salah satu ritual terpenting adalah Ngalah Papah, yaitu ritual tolak bala dan permohonan keselamatan yang dilakukan di tepi sungai.

Dalam ritual ini, para tetua adat akan memimpin prosesi dengan membacakan mantera dalam bahasa Lampung kuno, yang antara lain berbunyi: “Hei Sang Hyang Tuho di Way, kami datang bukan hendak mengganggu. Kami datang membawa papah, membawa sirih pinang, mohon keselamatan, jauhkan pageh blai, pageh jama, pageh kebandakhàn kami.” (Wahai Penguasa Air, kami datang bukan hendak mengganggu. Kami datang membawa sajian, membawa sirih pinang, mohon keselamatan, jauhkan penyakit rumah, penyakit orang, penyakit ternak kami).

Analisis mendalam terhadap ritual dan kutipan mantera tersebut menunjukkan beberapa lapisan makna:
1. Pengakuan terhadap Kekuatan Supra-natural: Masyarakat mengakui adanya kekuatan yang lebih besar yang menguasai alam, dan manusia harus hidup selaras dengannya, bukan menaklukkannya.
2. Konsep Reciprocity (Timbal Balik): Ritual dengan sesajian sirih pinang adalah bentuk ‘perjanjian’ atau hubungan timbal balik. Manusia memelihara sungai, dan sebagai imbalannya, sang sungai memberikan kehidupan dan keselamatan.
3. Sungai sebagai Ruang Sakral: Tepi sungai bukanlah tempat profan. Ia adalah sebuah panggung untuk berkomunikasi dengan dimensi spiritual, tempat untuk memulihkan keseimbangan kosmis ketika gangguan terjadi (pageh).
4. Way sebagai Identitas Kolektif: Penyebutan “kebandakhàn kami” (kekuatan/kemakmuran kami) menunjukkan bahwa kemakmuran seluruh komunitas sangat bergantung pada kesehatan dan keberkahan dari sungai tersebut.
Dengan demikian, Way Kanan tidak hanya menjadi nama tempat, tetapi sebuah konsep hidup yang utuh. Setiap alirannya mengalirkan bukan hanya air, tetapi juga nilai-nilai kearifan tentang penghormatan, keseimbangan, dan keberlanjutan.

Baca Juga :  Negara Diam, Budaya Lampung Hilang. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Asal-usul Way Kanan adalah sebuah epik tentang dialog antara manusia dan alam. Dari legenda Minak Kemala Bumi dan penjaga sungai, hingga persebaran berbagai marga Pepadun yang mendirikan kampung di sepanjang alirannya, Way Kanan telah membentuk karakter masyarakatnya yang religius, kohesif, dan sangat menghargai lingkungan. Ritual-ritual yang dilakukan di tepiannya adalah pengingat abadi akan perjanjian suci yang telah dijalin para leluhur. Way Kanan, oleh karena itu, adalah lebih dari sekadar geografi; ia adalah tahta tempat nilai-nilai luhur Pepadun bersemayam dan mengalir laksana air, menghidupi setiap generasi yang dilintasinya.

Sumber Referensi Terverifikasi:
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Mandar Maju: Bandung. (Buku Fisik).
2. Kartodirdjo, Sartono. (1993). Kuntara Raja Niti: Naskah Acuan Adat Lampung. Firma Nusantara: Jakarta. (Buku Fisik/Digital dari koleksi museum).
3. Sistowardi, dkk. (2017). Eksistensi Hukum Adat Lampung Pepadun dalam Modernisasi Hukum Nasional. Jurnal Rechts Vinding Vol. 6 No. 2. (Jurnal Digital Terverifikasi).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini