Buku Seri Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah. Seri 8: Adat di Era Modern — Menjaga Nilai di Tengah Perubahan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Alkisah, seorang pemuda Lampung bernama Ragam, yang bekerja sebagai desainer digital di Jakarta, pulang ke pekonnya. Ia membawa serta laptop dan drone. Kakeknya, Menak Indra, seorang tetua adat, mengajaknya ke balai pertemuan yang sepi. “Balai ini semakin sepi, Nak,” keluh sang kakek. “Anak-anak muda lebih suka berkumpul di dunia maya.”
Ragam termenung. Malam itu, ia bermimpi tentang sebuah perahu naga tradisional, biduk naga, yang hendak berlayar. Namun, laut yang dilaluinya bukan laut biasa, melainan lautan penuh dengan kode-kode digital, pusaran informasi, dan badai hoaks.

Perahu naga itu terombang-ambing, hampir tenggelam.
Dalam mimpinya, munculah sang kakek sebagai nahkoda. “Ragam!” serunya. “Badan perahunya boleh kau ganti dengan fiberglass agar kuat, layarnya boleh kau pasang motor agar cepat. Tapi ingat, kemudinya harus tetap Adat Bersendi Syara’, dan kompasnya harus tetap ‘Syara Bersendi Kitabullah’! Tanpa itu, kau akan tersesat di lautan tanpa tepi ini!”

Ragam terbangun dengan penuh insight. Ia pun merancang sebuah aplikasi digital berisi khazanah adat Lampung, tetapi dengan kemasan yang kekinian. Perahu naga adatnya telah menemukan lautan baru.

Tantangan Globalisasi: Ketika Generasi Muda Terputus dari Akar.

Globalisasi dan modernisasi membawa angin perubahan yang tak terelakkan bagi masyarakat Lampung. Terdapat beberapa tantangan serius yang mengancam kelestarian adat:
1. Migrasi dan Perubahan Struktur Sosial: Banyak generasi muda yang merantau untuk mencari pekerjaan dan pendidikan ke kota-kota besar. Hal ini mengakibatkan melemahnya transmisi nilai-nilai adat secara langsung.

Interaksi yang intens dengan budaya urban yang lebih individualis seringkali mengikis semangat Sakai Sambayan dan Nengah Nyappur. Mereka yang pulang kampung kerap menjadi asing di tanah leluhurnya sendiri.
2. Gempuran Budaya Pop dan Media Digital: Budaya pop global yang masif melalui media sosial dan platform digital menawarkan gaya hidup instan dan hedonistik. Nilai-nilai kesopanan, kesabaran, dan penghormatan yang menjadi inti Piil Pesenggiri dan Nemui Nyimah terancam tergantikan oleh budaya yang lebih permisif dan kurang santun. Kain Tapis mungkin hanya menjadi aksesori fashion tanpa makna, bukan lagi sebagai simbol yang penuh doa dan filosofi.

Baca Juga :  Sejarah Be-juluk Be-adok Bagi Masyarakat Lampung Saibatin dan Pepadun. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Fenomena ini mengingatkan pada firman Allah tentang pentingnya menjaga identitas dan tidak terombang-ambing oleh arus:

Watasimu bihablillahi jamiaw wa la tafarraqu, wazkuru nimatallahi alaikum iz kuntum ada’an fa allafa baina qulubikum fa asbahtum bi nimatihi ikhwana(n), wa kuntum ala syafa hufratim minan-nari fa anqazakum minha, kazalika yubayyinullahu lakum ayatihi laallakum tahtadun

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Āli ‘Imrān: 103)

Analisisnya, “tali Allah” dalam konteks ini tidak hanya bermakna agama secara umum, tetapi juga sistem nilai yang menjaga kesatuan dan identitas komunitas. Jika generasi muda terputus dari “tali” adat yang telah bersendi syara’, maka mereka rentan tercerai-berai secara identitas, terombang-ambing di lautan globalisasi tanpa arah yang jelas.

Peluang dan Inovasi: Merawat Esensi dengan Metode Kontemporer.

Di balik tantangan, selalu ada peluang. Semangat ‘Adat Bersendi Syara’ sebenarnya sangat lentur dan adaptif, asalkan esensinya tidak bergeser.
1. Dakwah dan Pendidikan Adat melalui Media Digital: Seperti yang dilakukan Ragam dalam cerita prolog, nilai-nilai adat dan agama dapat didakwahkan melalui platform digital. Pengajian adat dapat disiarkan secara live streaming, konten-konten edukatif tentang filosofi Tapis atau makna pepatah adat dapat diunggah di media sosial. Ini adalah bentuk baru dari Nengah Nyappur, di mana ruang pergaulan telah meluas ke dunia maya, tetapi nilai ukhuwah dan silaturahmi tetap dijaga.

Baca Juga :  Buku Seri : Sakai Sambayan Filosofi Tolong Menolong yang Tak Pernah Pudar. Seri - 4: Sebuah Warisan Abadi untuk Nusantara. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Rasulullah SAW bersabda: “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Al-Bukhari)

Media digital adalah sarana baru untuk menyampaikan “ayat-ayat” kebijaksanaan adat yang telah disinari syara’.
2. Reinvensi Ekonomi Kreatif Berbasis Adat: Kain Tapis tidak harus selalu berupa kain panjang tradisional. Motif-motifnya yang sarat makna dapat diadaptasi menjadi desain busana modern, aksesori, atau dekorasi interior. Dengan demikian, nilai ekonomi dan eksistensi budaya tetap terjaga. Ekosistem ekonomi yang lahir dari ini dapat memicu regenerasi perajin dan melestarikan keterampilan tradisional. Ini adalah bentuk kontemporer dari kemandirian dan martabat (Piil Pesenggiri) dalam bidang ekonomi.
3. Penyederhanaan Ritual yang Substansial: Beberapa ritual adat yang memerlukan biaya besar dan waktu lama dapat disederhanakan tanpa menghilangkan makna spiritual dan sosialnya. Esensi dari Begawei (gotong royong) dalam membangun rumah, misalnya, bisa tetap hidup dalam bentuk arisan atau sistem crowdfunding digital untuk membantu warga yang membutuhkan. Yang penting adalah semangat Sakai Sambayan-nya, bukan hanya bentuk fisik kegiatannya.

Peran Penyimbang Muda dan Legitimasi Baru.

Dalam struktur adat, munculnya penyimbang muda yang melek teknologi dan berwawasan global adalah sebuah keniscayaan. Legitimasi mereka tidak lagi hanya berasal dari silsilah keturunan semata, tetapi juga dari kapasitas mereka dalam menjembatani dunia adat dengan realitas zaman.

Sejarah marga-marga Lampung, seperti yang tercatat dalam Kuntara Raja Niti, sebenarnya penuh dengan kisah adaptasi. Leluhur masyarakat Lampung adalah pelaut dan pedagang yang berinteraksi dengan berbagai bangsa. Mereka mampu menyerap pengaruh luar tanpa kehilangan jati diri. Semangat inilah yang harus dihidupkan kembali. Seorang penyimbang muda harus seperti Minak Khaji, seorang tokoh dalam cerita rakyat, yang mampu menggabungkan ilmu agama dari tanah seberang dengan kearifan lokal untuk memimpin masyarakatnya di era perubahannya sendiri.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Malam Sunyi dan Muhasabah Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Mereka harus mampu mentafsir ulang petitih “Syara’ mengato, adat memakai” untuk konteks kekinian. “Mengato” berarti memberikan prinsip-prinsip dasar, sedangkan “memakai” berarti mengaplikasikannya dengan metode yang relevan dengan zaman, asalkan tidak melanggar prinsip tersebut.

Menjadi Lampung di Zaman Apapun.

Pada akhirnya, menjadi manusia Lampung di era modern bukanlah tentang menolak perubahan atau terlena di masa lalu. Esensinya adalah tentang menjaga komitmen pada falsafah dasar: Adat Bersendi Syara’, Syara’ Bersendi Kitabullah.
Nilai Piil Pesenggiri harus tercermin dalam integritas di dunia kerja dan etika bermedia sosial. Nemui Nyimah harus terwujud dalam keramahan dan inklusivitas terhadap siapa pun, dari latar belakang mana pun. Sakai Sambayan harus hidup dalam kepedulian sosial dan gerakan gotong royong menyelesaikan masalah masyarakat modern.

Seperti perahu naga dalam mimpi Ragam, kita boleh dan harus memanfaatkan teknologi dan peluang zaman sebagai penggerak dan penguat. Namun, kemudi dan kompas hidup harus tetap berada pada nilai-nilai luhur yang telah diwariskan leluhur dan disempurnakan oleh cahaya Ilahi. Dengan demikian, di tengah gelombang perubahan yang dahsyat, identitas dan spiritualitas kita tidak akan tenggelam, tetapi justru akan berlayar dengan gagah menuju masa depan yang penuh makna.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
2. Kuntara Raja Niti. (Naskah Kuno Adat Lampung). Transliterasi dan terjemahan oleh Pusat Studi Lampung.
3. Al-Qur’an Al-Karim dan Terjemahannya. (Kemenag RI).
4. Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini