Buku Seri: Dari Lamban ke Meja Makan. Filosofi Makan dan Kebersamaan dalam Adat Lampung. Seri 7: Dibawah Pepadun, Makna Sesajian dalam Pelantikan Penyimbang. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Pada zaman ketika Bukit Barisan masih muda dan sungai Way Komering berbicara dengan gemericik penuh rahasia, hiduplah seorang pemuda bernama Ratu Dipangara. Ia bukan bangsawan, tetapi anak rimba yang bijak, pemberani, dan dihormati binatang buas. Suatu ketika, wabah melanda kampung-kampung di sepanjang sungai. Tanaman layu, hewan ternak mati, dan orang-orang sakit tanpa sebab yang jelas. Para tetua dan penyimbang lama telah kehabisan akal.

Ratu Dipangara kemudian bertapa di puncak Gunung Dahek. Di sana, ia mendapatkan wangsit: untuk menyelamatkan rakyat, ia harus mengumpulkan hasil bumi terbaik dari tujuh bukit dan tujuh lembah, menyusunnya dalam sebuah wadah bambu, dan mempersembahkannya di bawah sebatang pohon beringin tua sambil memanggil roh leluhur pelindung.

Ia pun melakukannya.
Dengan susah payah, ia mengumpulkan padi huma, ikan jurung, buah-buahan hutan, dan rempah-rempah. Saat sesaji dipersembahkan, angin berhembus lembut membawa kabar. Keesokan harinya, hujan turun, tanah subur kembali, dan wabah sirna. Sebagai tanda terima kasih dan pengakuan, seluruh masyarakat adat mengangkat Ratu Dipangara menjadi Penyimbang Adat pertama.
Prosesi pengangkatannya diabadikan dalam sebuah pepadun, dan ritual sesaji yang ia lakukan menjadi inti dari setiap pelantikan penyimbang setelahnya. Inilah asal-muasal filosofi bahwa seorang pemimpin sejati haruslah sanggup merangkum dan mempersembahkan kembali seluruh kekuatan dan harapan masyarakatnya.

Pepadun dan Penyimbang – Pilar Kosmos Masyarakat Adat Lampung.

Pepadun bukan sekadar singgasana. Ia adalah miniatur kosmos, representasi dunia yang tertata. Menurut manuskrip kuno Kuntara Raja Niti yang berasal dari era Kerajaan Sekala Brak, disebutkan: “Pepadun itu bagai gunung yang tegak, alasnya bumi, payungnya langit, yang duduk di tengahnya adalah penyambung antara keduanya.”

Analisis terhadap kutipan ini mengungkap pandangan dunia (worldview) hierarkis namun harmonis. Penyimbang yang akan dilantik tidak diletakkan di ‘atas’, melainkan di ‘tengah’—menjadi poros, penghubung, dan penjaga keseimbangan antara alam bawah (bumi/tanah, rakyat) dan alam atas (langit/ilahi, leluhur).

Pelantikan penyimbang atau Cakak Pepadun adalah peristiwa paling sakral dalam siklus kehidupan adat Lampung, khususnya bagi masyarakat beradat Pepadun.

Prosesi ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi sebuah regenerasi spiritual seluruh komunitas. Penyimbang yang baru akan menjadi Jukuk Pemangkut, tiang penyangga utama rumah adat (lamban) masyarakat.

Baca Juga :  Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri - 2 – Etika Bicara: Santun dalam Ucapan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Legenda Ratu Dipangara menjadi mitos pendiri yang menegaskan bahwa legitimasi seorang penyimbang datang dari kemampuannya menyelesaikan krisis dan keberhasilannya ‘berkomunikasi’ dengan dimensi lain melalui medium yang tepat: sesajian.

Dekonstruksi Sesajian – Simbolisme dalam Setiap Unsur.

Sesaji dalam Cakak Pepadun bukanlah ‘makanan leluhur’ dalam pengertian harfiah. Ia adalah bahasa simbol, sebuah narasi visual yang menjelaskan tugas, tanggung jawab, dan harapan kepada penyimbang yang baru. Setiap item dipilih dengan ketat berdasarkan filosofinya.
1. Padi dan Beras (Beghi/Pukek): Merupakan dasar dari hampir semua sesaji. Padi melambangkan kemakmuran, kehidupan, dan hasil bumi. Dalam prosesi, beras sering ditaburkan di sekitar pepadun. Ini adalah simbol dari harapan agar sang penyimbang mampu menjadi sumber kehidupan dan mengelola kemakmuran bagi seluruh anak kemanakannya. Sebuah pantun adat menyebut: “Beras di saji, tujuannya satu, yang duduk di pepadun mengayomi semua.” Beras adalah metafora untuk rakyat—banyak tetapi satu kesatuan, dan penyimbang harus mampu ‘memelihara’ setiap butirnya.
2. Ayam (Hayam), Telur, dan Ikan: Ayam jago yang sehat, biasanya berwarna cerah, melambangkan kewaspadaan, keberanian, dan kesiapan. Penyimbang harus seperti ayam jago yang selalu terjaga di tengah malam, siap melindungi wilayahnya. Telur, terutama yang utuh, melambangkan kesempurnaan, awal yang baru, dan potensi kehidupan. Ikan, khususnya ikan sungai segar, melambangkan kelincahan, kebijaksanaan, dan kesuburan. Ketiganya bersama-sama merepresentasikan sumber protein—yakni kekuatan dan kesehatan—yang harus dijaga oleh pemimpin.
3. Air (Way), Tuak, dan Kopi: Air putih jernih dalam kendi tembikar melambangkan kesucian niat dan kelancaran rezeki. Tuak (minuman tradisional) yang difermentasi melambangkan kearifan lokal, kebersamaan, dan juga peringatan akan bahaya jika berlebihan. Kopi pahit melambangkan keteguhan dan kesiapan menelan pahitnya tanggung jawab. Minuman-minuman ini menggambarkan spektrum pengalaman yang akan dihadapi penyimbang: dari yang murni, yang mengikat kebersamaan, hingga yang pahit untuk dijalani.
4. Kain (Kain Tapis), Benang, dan Sirih-Pinang: Kain Tapis, tenunan bermotif emas, adalah simbol martabat, kebudayaan, dan kehalusan budi. Ia melambangkan ‘pakaian’ atau identitas masyarakat yang harus dijaga. Benang putih melambangkan ikatan dan kesinambungan yang harus dipintal dengan kuat. Sirih, pinang, kapur, dan gambir dalam cerana (Tepak) adalah simbol persatuan. Unsur-unsur yang berbeda ini, ketika dikunyah bersama, menghasilkan warna merah yang menyatu. Ini adalah pesan kuat tentang peran penyimbang sebagai perekat berbagai perbedaan dalam masyarakat.

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan di Bumi Lampung, Jejak Adat yang Menyapa Waktu. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Prosesi dan Filosofi Penyajian – Ritual sebagai Narasi
Ritual penyajian tidak dilakukan secara sembarangan. Urutannya membentuk sebuah alur cerita.
* Tahap Persiapan (Ngemati): Bahan-bahan dikumpulkan dari berbagai keluarga, bukan hanya dari calon penyimbang. Ini menegaskan bahwa sesaji ini adalah representasi kolektif. Penyiapan dilakukan dengan khidmat, seringkali diiringi zikir atau mantra (pengasih) agar memiliki ‘nyawa’ spiritual.
* Tahap Penataan (Nengah): Sesaji ditata di atas Tikou (tikar khusus) di hadapan atau di sekitar Pepadun. Penataan biasanya melingkar atau sesuai arah mata angin, melambangkan kesempurnaan dan cakupan yang menyeluruh. Proses ini disebut “ngedok ni ulun, ngedok ni alam” yang artinya ‘menata hati, menata alam’. Saat menata, sang calon penyimbang diamati—apakah ia tenang, hormat, dan paham makna di balik setiap benda.
* Tahap Persembahan dan Doa (Pepancak): Dipimpin oleh penyimbang tertua atau pemangku adat (Punyimbang Tuha), doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Lampung kuno. Salah satu doa inti yang tercatat dalam naskah Piil Pesenggiri berbunyi: “Dewa Sai, tua sai, kunun sai. Sang Bumi, Sang Langit, saintekha ni ulun punya pekukuah…” yang kira-kira berarti: “Kekuatan dari yang Esa, dari leluhur, dari alam. Semuanya terkumpul dalam diri pemimpin ini…” Doa ini adalah pemakluman kepada alam dan leluhur tentang penerus yang sah. Setelah doa, sebagian kecil sesaji mungkin dibakar (dipersembahkan ke alam halus) atau dibuang ke sungai (dikembalikan ke alam), sementara sisanya akan dinikmati bersama dalam jamuan besar.
* Tahap Penyatuan (Makan Bersama): Inilah klimaks filosofis. Sesaji yang telah ‘diberkahi’ melalui doa kemudian diolah dan disantap bersama-sama oleh seluruh undangan. Di sinilah terjadi transformasi dari yang sakral kembali ke yang profan, dari simbol menjadi tenaga dan kebersamaan yang nyata. Penyimbang yang baru, setelah ‘disahkan’ oleh leluhur dan alam melalui sesaji, kini membagikan kekuatan itu kembali kepada rakyatnya melalui hidangan. Ia tidak memakannya sendirian, tetapi memastikan semua kebagian. Filosofi “nyaman, nyimah, ngakukugh” (enak, cukup, dan mengenyangkan) harus terwujud di meja makan ini.

Baca Juga :  BUKU SERI: BEGAWI ADAT PEPADUN. Seri 5: BEGAWI DALAM KEHIDUPAN KONTEMPORER DAN UPAYA PELESTARIAN. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Sesaji sebagai Jembatan Abadi
Ritual sesaji dalam Cakak Pepadun adalah teks hidup yang dibaca ulang setiap generasi. Ia adalah jembatan tiga arah: menghubungkan manusia dengan leluhur (sejarah dan tradisi), manusia dengan alam (sumber kehidupan), dan manusia dengan manusia lainnya (solidaritas sosial). Setiap butir beras, setiap helai kain tapis, dan setiap tetes air dalam sesaji berbisik tentang tanggung jawab seorang penyimbang.
Dari lamban (rumah adat) tempat sesaji disiapkan, ke meja makan di mana seluruh masyarakat menyantapnya, terciptalah sebuah siklus lengkap. Kepemimpinan yang sah dan bermartabat, menurut adat Lampung, adalah yang lahir dari pengakuan alam dan leluhur, dirayakan dengan simbol-simbol yang penuh makna, dan diwujudkan dalam tindakan nyata: kebersamaan dan keadilan di meja makan. Dibawah Pepadun yang megah, sesaji yang sederhana mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah pelayan yang menghubungkan, merawat, dan membagikan setiap berkah dari tanah yang dipijaknya.

Sumber Referensi (Terverifikasi):
1. Buku: Adat Istiadat Daerah Lampung, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1978. (Fisik/Perpustakaan Nasional).
2. Naskah Kuno: Kuntara Raja Niti, transkripsi dan terjemahan Hasanuddin, 1990. (Digital/Foto kopi naskah koleksi Museum Lampung).
3. Buku: Pepadun: Martabat Orang Lampung karya Iwan Nurdaya Djafar, Penerbit Aura, 2007. (Fisik).
4. Transkrip Wawancara & Dokumentasi Lapangan: Arsip Pusat Dokumentasi Kebudayaan Lampung (PDKL) mengenai prosesi Cakak Pepadun di Kabupaten Way Kanan dan Tulang Bawang, 2015-2019. (Digital/Terverifikasi oleh lembaga).
5. Buku: Makanan dalam Upacara Adat Lampung oleh Rina Sari, Penerbit Universitas Lampung Press, 2012. (Fisik/Digital).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini