nataragung.id – Pemanggilan – Sering kali manusia mengejar kebahagiaan di dunia. Ada yang mencarinya dalam harta, jabatan, popularitas, keluarga, atau berbagai kenikmatan lainnya. Namun kenyataannya, semua kebahagiaan dunia tidak pernah sempurna. Di balik kekayaan ada kekhawatiran, di balik kesehatan ada ancaman sakit, di balik pertemuan ada perpisahan, dan di balik tawa selalu ada kemungkinan air mata.
Menariknya, kata yang menunjukkan kebahagiaan sejati dalam Al-Qur’an muncul pada gambaran kehidupan akhirat, yaitu dalam firman Allah Ta’ala:
وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ إِلَّا مَا شَاءَ رَبُّكَ ۖ عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga; mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki yang lain; sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS. Hud: 108)
Ayat ini tidak berbicara tentang kebahagiaan di dunia, melainkan tentang kebahagiaan penghuni surga. Allah menyebut mereka “alladzina su’idu” (orang-orang yang dibuat berbahagia), lalu menjelaskan bahwa kebahagiaan itu berada di dalam surga yang penuh kenikmatan dan tidak akan pernah berakhir.
Ini memberikan pelajaran besar bahwa kebahagiaan hakiki bukanlah yang dirasakan manusia di dunia. Apa yang kita sebut bahagia di dunia hanyalah kesenangan sementara, yang bercampur dengan berbagai ujian dan keterbatasan. Bahkan kenikmatan terbesar di dunia sekalipun akan berakhir dengan kematian.
Karena itu Allah mengingatkan:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Seorang mukmin boleh menikmati nikmat dunia yang halal dan bersyukur atasnya. Namun ia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir. Hatinya selalu tertuju kepada kebahagiaan yang abadi, yaitu ridha Allah dan surga-Nya.
Para ulama mengatakan bahwa kebahagiaan dunia hanyalah bayangan dari kebahagiaan akhirat. Jika bayangan itu hilang, jangan terlalu bersedih. Sebab yang terpenting bukanlah mendapatkan seluruh kenikmatan dunia, tetapi mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang kekal di akhirat.
Maka orang yang berhasil meraih surga adalah orang yang benar-benar bahagia, meskipun dahulu hidupnya penuh kesulitan di dunia. Sebaliknya, orang yang kehilangan akhirat adalah orang yang paling merugi, meskipun dahulu bergelimang kenikmatan dunia.
Sebagaimana dikatakan:
من فاز بالجنة فقد فاز، ومن حرمها فقد خسر
“Barang siapa memperoleh surga, sungguh ia telah beruntung; dan barang siapa terhalang darinya, sungguh ia telah merugi.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang disebut dalam firman-Nya:
وَأَمَّا الَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي الْجَنَّةِ
“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga.” (QS. Hud: 108)
اللهم اجعلنا من أهل السعادة في الدنيا والآخرة، ومن أهل الجنة برحمتك يا أرحم الراحمين.
Aamiin. (*/273)
WaAllahu A’lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

