Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 1: Asal-Usul Santun dari Tanah Sai Bumi Ruwa Jurai. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami turun dari puncak Gunung Pesagi, tempat angin berbisik dan kabut menyimpan rahasia. Di tanah yang kelak bernama Sekala Brak, mereka membuka hutan, menanam padi, dan membangun tiyuh (kampung) pertama. Dari sanalah mengalir sungai panjang yang membawa nilai-nilai luhur ke seluruh pelosok Lampung.
Seorang Punyimbang (tetua adat) tua di Kampung Pugung pernah bercerita kepada saya, “Nak, orang Lampung itu lahir dari ruwa jurai (dua sumber). Tapi ingatlah, dari dua itu lahir satu: sopan santun yang menjadi identitas kita.”
Mari kita duduk sejenak di sesat (balai adat) ini. Saya akan ceritakan asal-usul santun dari tanah Sai Bumi Ruwa Jurai.

Cerita dari Masa Lampung Kuno
Konon, pada zaman dahulu kala, di puncak Gunung Pesagi, hiduplah lima orang Umpu (nenek moyang) yang menjadi cikal bakal seluruh masyarakat Lampung. Kitab Kuntara Raja Niti, manuskrip kuno yang ditulis dengan aksara Lampung dan huruf Arab gundul, menyebutkan nama-nama mereka: Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh, dan Indarwati.
Mereka inilah yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru. Inder Gajah bergelar Umpu Bejalan di Way menjadi cikal bakal orang Abung. Pak Lang bergelar Umpu Pernong menurunkan orang Pubian. Sikin bergelar Umpu Nyerupa menjadi leluhur orang Jelma Daya. Belunguh menurunkan masyarakat Peminggir (pesisir). Dan Indarwati bergelar Puteri Bulan menjadi cikal bakal masyarakat Tulang Bawang.

Seorang Punyimbang di Kampung Kenali pernah bercerita kepada cucunya, “Anakku, leluhur kita tidak turun dengan harta. Mereka hanya membawa dua bekal: bahasa yang halus dan hati yang terjaga.”
Dari situlah lahir petuah pertama orang Lampung: “Lunik-lunik aghem, mengan aghem”, Haluskan bahasamu, jagalah hatimu. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan. Bahasa yang halus tanpa hati yang bersih hanyalah kepalsuan. Hati yang bersih tanpa bahasa yang halus adalah kesia-siaan.

Dalam tradisi lisan yang hidup di marga (klan) Abung Siwo Mego, disebutkan bahwa para leluhur mengajarkan Pi’il Pesenggiri sebagai falsafah hidup. Piil berarti rasa atau pendirian yang dipertahankan, Pesenggiri berarti nilai harga diri.
Menurut cerita, ketika para Umpu pertama kali bertemu dan bermusyawarah di bawah pohon beringin (pohon keramat), mereka bersepakat bahwa harga diri seorang manusia tidak diukur dari harta atau kuasanya. Tapi dari bagaimana ia menjaga lisan, merendahkan hati di hadapan sesama, dan menegakkan keadilan.

Seorang tetua di Kampung Bumi Agung sering mengulang petuah ini: “Kenui dikenal pakai bahasa, pesenggiri dikenal pakai perangai”, Manusia dikenal dari bahasanya, harga diri dikenal dari perilakunya. Sekali lagi, adab dan bahasa adalah dua sisi mata uang yang sama.
Ada pula ungkapan lain: “Muli mekhanai kedalaman, punyimbang telu mik adok”, Gadis dan pemuda menunjukkan kedalaman ilmunya, tetua menunjukkan tiga (banyak) gelar kehormatannya. Maksudnya, setiap orang, muda maupun tua, memiliki cara sendiri untuk menjaga sopan santun. Yang muda dengan belajar dan bertanya, yang tua dengan keteladanan dan gelar yang disandangnya.
Menurut syarak, petuah ini selaras dengan firman Allah dalam surat Al-Isra ayat 53:
وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
wa qul li‘ibâdî yaqûlullatî hiya aḫsan, innasy-syaithâna yanzaghu bainahum, innasy-syaithâna kâna lil-insâni ‘aduwwam mubînâ
“Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.”

Baca Juga :  Buku Seri : Cangget, Tarian Penyatu Marga. Seri 2: Cangget Awal, Ritual Pemersatu di Tengah Rimba Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Asbāb al-nuzūl (sebab turunnya) ayat ini berkaitan dengan perintah Allah kepada Rasulullah saw. agar kaum muslimin berkata baik kepada siapa pun, termasuk kepada orang musyrik sekalipun, demi menjaga keharmonisan sosial.
Dalam tafsir Ibnu Katsir, “perkataan yang baik” mencakup kelembutan dalam berdakwah, menghindari kata-kata kasar, serta menjaga perasaan lawan bicara. Bukankah ini inti dari lunik-lunik aghem? Petuah leluhur kita ternyata tidak berbeda dengan ajaran Al-Qur’an.
Bagi Dua, Tetap Satu – Saibatin dan Pepadun
Waktu terus bergulir. Masyarakat Lampung yang semula satu berkembang menjadi dua sistem adat besar: Saibatin (disebut juga Peminggir/pesisir) dan Pepadun.

Mengapa terbagi dua? Menurut cerita lisan, pembagian ini terjadi karena faktor geografis dan historis. Kelompok yang tinggal di pesisir barat dan selatan, seperti di Teluk Betung, Kalianda, dan Krui, mengembangkan sistem Saibatin. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan pelaut dan pedagang asing. Struktur sosialnya cenderung aristokratis (berdasarkan garis keturunan bangsawan) dan tertutup.
Sementara kelompok yang tinggal di pedalaman dan utara, seperti di Kotabumi, Abung, dan Way Kanan, mengembangkan sistem Pepadun. Mereka lebih egaliter (menekankan kesetaraan) dan demokratis dalam memilih pemimpin adat. Gelar kehormatan dalam Pepadun bisa diperoleh melalui proses naik pepadun (upacara adat pemberian gelar), bukan hanya warisan keturunan.
Perbedaan ini terlihat jelas pada siger (mahkota adat) mereka. Siger Saibatin memiliki tujuh lekuk, melambangkan tujuh gelar adat dalam masyarakat pesisir: Suttan/Dalom, Raja Jukuan/Dipati, Batin, Radin, Minak, Kimas, dan Mas/Inton. Bentuknya mirip dengan rumah gadang Minangkabau, menunjukkan pengaruh historis Kerajaan Pagaruyung.
Sementara Siger Pepadun memiliki sembilan lekuk, melambangkan sembilan marga yang bersatu membentuk Abung Siwo Mego (Abung Sembilan Suku). Bentuknya menyerupai buah sekala (sejenis mangga hutan), mengingatkan pada asal-usul mereka dari Kerajaan Sekala Brak di Gunung Pesagi.
Namun, jangan salah paham. Meski berbeda dalam sistem dan simbol, ruh yang sama mengalir di kedua tradisi ini: sopan santun dan penghormatan.

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti Pasal 23, disebutkan dengan jelas bahwa Piil (harga diri) harus dijaga oleh setiap lapisan masyarakat: “Raja Piil-nya wanita, lemah lembut terhadap warga kerabat; Punyimbang Piil-nya gadis, selalu berusaha mendapatkan cinta kasih; Ibu Rumah Piil-nya bahan makanan dan biaya hidangan; Anak Laki-laki Piil-nya berhati-hati dalam bicara; Anak Perempuan Piil-nya menjaga perilaku dan kehormatan”.
Lihatlah, baik dalam sistem Saibatin maupun Pepadun, pesannya sama: setiap orang, apa pun statusnya, harus menjaga adab. Tidak ada alasan untuk bersikap kasar hanya karena kita berbeda golongan.
Di Kampung Kiluan, ada sebuah kisah menarik. Seorang pemuda Saibatin dan seorang pemudi Pepadun hendak menikah. Kedua keluarga sempat berselisih tentang tata cara adat yang akan digunakan. Tapi berkat musyawarah yang dilandasi Pesenggiri (harga diri) dan Nengah Nyappur (keterbukaan bersosialisasi), mereka menemukan jalan tengah. Hari ini, kedua mempelai menggunakan siger Saibatin dalam satu prosesi dan pepadun dalam prosesi lain.
“Bagi dua, tetap satu,” kata Punyimbang yang memimpin upacara. “Kita berbeda cara, tapi sama dalam ruh menghormat.”

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Ramadhan sebagai Cermin Kehidupan Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Dalam konteks kebangsaan, semboyan Sai Bumi Ruwa Jurai, yang berarti Satu Bumi Dua Jiwa, telah diresmikan sebagai motto Provinsi Lampung melalui Perda No. 4 Tahun 2009. Motto ini mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan. Dua sistem adat tetap satu dalam bingkai Piil Pesenggiri. Bukankah ini selaras dengan semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika?
Pepatah yang Hidup Sampai Sekarang
Saya masih ingat, ketika kecil, nenek saya sering mengulang dua pepatah yang sampai sekarang terngiang di telinga.
Pepatah pertama: “Kenui dikenal pakai bahasa, pesenggiri dikenal pakai perangai”, Manusia dikenal dari bahasanya, harga diri dikenal dari perilakunya.
Pepatah ini mengajarkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah cerminan budi pekerti. Dalam masyarakat Lampung, berbicara kepada orang yang lebih tua harus dengan nada rendah, menggunakan sapaan yang tepat seperti “Nini,” “Uwak,” atau “Yang Tuha”. Kesalahan dalam sapaan bisa dianggap sebagai pelecehan terhadap adat.

Seorang pemuda Lampung bernama Rizky, yang merantau ke Yogyakarta untuk kuliah, menjadi contoh nyata. Ia dikenal sebagai pribadi yang santun, tidak pernah memanggil teman lebih tua dengan nama saja, selalu menambahkan “Mas” atau “Mbak”. Saat ditanya, ia menjelaskan bahwa sejak kecil ia dibiasakan orang tuanya untuk menjaga etika bicara. “Perkataan yang kasar bukan hanya mencerminkan pribadi yang tidak beradab,” katanya, “tapi juga mencoreng nama baik keluarga dan suku”.
Pepatah kedua: “Muli mekhanai kedalaman, punyimbang telu mik adok”, Gadis dan pemuda menunjukkan kedalaman ilmunya, tetua menunjukkan banyak gelar kehormatannya.
Maknanya dalam: orang muda harus terus belajar. Mereka belum memiliki gelar dan pengalaman, tapi mereka bisa menunjukkan kualitas diri melalui ilmu pengetahuan dan adab. Sementara orang tua, dengan segala gelar dan kehormatan yang disandangnya, harus menjadi teladan.
Dalam sistem adat Lampung, gelar (juluk adek) bukan sekadar nama. Dalam Piil Pesenggiri, juluk adek adalah gelar kehormatan yang wajib dijaga. Seorang Punyimbang yang menyandang gelar seperti Radin, Minak, atau Sutan (gelar bangsawan Lampung) harus bertindak sesuai dengan martabat gelarnya.

Baca Juga :  Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun. SERI 2: Struktur Sosial dan Sejarah Institusi Penyimbang Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

Di Kampung Sukamarga, Gedungtataan, Pesawaran, ada seorang Punyimbang bergelar Dalom Putekha Jaya Makhga. Beliau adalah Mohammad Medani Bahagianda, seorang penulis yang produktif mengangkat nilai-nilai adat Lampung dalam berbagai serial buku. Dalam tulisannya, beliau sering menekankan bahwa “gelar Penyimbang bukan sekadar gelar kehormatan, tetapi merupakan institusi budaya yang memuat filosofi hidup, tata nilai sosial, serta tanggung jawab moral dan spiritual terhadap masyarakat adat”.
Hingga hari ini, kedua pepatah itu masih hidup. Bukan hanya diucapkan, tapi diamalkan. Di setiap sesat, di setiap lamban (rumah panggung), di setiap pertemuan adat. Mereka menjadi pengingat bahwa sopan santun bukanlah warisan yang bisa kita beli atau jual. Ia adalah identitas yang dirawat dari generasi ke generasi.
Seperti kata Dalom Ratu Ngerang di Kampung Pugung, “Nak, kalau kau kehilangan harta, kau masih bisa mencarinya. Tapi kalau kau kehilangan sopan santun, kau kehilangan dirimu sebagai Orang Lampung.”

Dari cerita para leluhur yang turun di Bukit Siguntang, dari dua sistem adat Saibatin dan Pepadun yang berbeda tapi ruhnya satu, hingga pepatah yang terus bergema, semuanya bermuara pada satu kesimpulan: sopan santun adalah identitas Orang Lampung.
Piil Pesenggiri bukan sekadar falsafah. Ia adalah jalan hidup. Ia mengajarkan kita untuk rendah hati tapi tidak hina, tegas tapi tidak kasar, terbuka tapi tidak kehilangan jati diri.
Maka, jagalah bahasa. Jagalah hati. Karena dari sanalah lahir santun yang sesungguhnya. Seperti petuah pertama kita: “Lunik-lunik aghem, mengan aghem”, haluskan bahasa, jaga hati.

Daftar Pustaka
1. Kitab Kuntara Raja Niti (Manuskrip kuno aksara Lampung & Arab gundul)
2. Bahagianda, Mohammad Medani. (2022). Serial Buku – Pi’il Pesenggikhi, Falsafah Hidup Orang Lampung Buku 2: Sembah Rasa, Sopan dalam Bahasa. Pemerintah Provinsi Lampung – JDIH
3. Bahagianda, Mohammad Medani. (2022). Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun: SERI 1: Asal Usul dan Filosofi Gelar Penyimbang. Pemerintah Provinsi Lampung – JDIH
4. Bahagianda, Mohammad Medani. (2025). Sistem Kekeluargaan dalam Adat Saibatin dan Pepadun. Portal Berita Natar Agung
5. Bahagianda, Mohammad Medani. (2025). Filosofi Tata Krama dan Unggah-Ungguh dalam Pergaulan Sehari-Hari Masyarakat Lampung. Portal Berita Natar Agung
6. Hadikusuma, Hilman. (1976). Seminar Sejarah Lampung
7. Peraturan Daerah Provinsi Lampung No. 4 Tahun 2009 tentang Lambang Daerah Provinsi Lampung
8. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Surat Al-Isra ayat 53)
9. Ramadhoni, Ismi. Skripsi: Asal-Usul Penduduk Lampung dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Universitas Lampung

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini