Seri Buku: Kearifan Lokal Lampung dalam Kehidupan sehari-hari. SERI 4: TATA KRAMA DALAM KESEHARIAN. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

0

nataragung.id – Bandar Lampung – Cakra mulai merasakan perubahan dalam dirinya. Setelah memahami Bejuluk Beadek, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan, ia merasa lebih percaya diri bergaul dengan masyarakat. Namun, suatu hari ia ditegur oleh sang ayah karena sebuah kesalahan kecil.
Waktu itu, Cakra sedang mengobrol dengan teman-teman sebayanya di sesat (balai adat). Di tengah obrolan yang seru, seorang tetua kampung, Punyimbang Sutan, datang dan ikut duduk di dekat mereka. Tanpa berpikir panjang, Cakra tetap melanjutkan pembicaraannya dengan nada yang sama seperti saat ia berbicara dengan teman-temannya. Ia bahkan menyela perkataan Punyimbang Sutan saat sedang menjelaskan sesuatu.
Sepulang dari sesat, sang ayah memanggil Cakra dengan wajah serius. “Cakra, apakah kau sadar apa yang kau lakukan tadi?” tanya sang ayah.
Cakra bingung. “Apa yang salah, Ayah?”
Sang ayah menghela napas. “Itulah yang disebut unggah-ungguh, Nak. Dalam bergaul, kita tidak boleh menyamakan cara bicara dan sikap kita kepada semua orang. Ada tata krama yang harus dijaga, terutama kepada orang yang lebih tua atau dihormati. Seperti yang diajarkan dalam Kitab Kuntara Raja Niti: ‘Anak lelaki piilnya berhati-hati dalam bicara’. Kau harus menjaga tutur katamu, terlebih di hadapan tetua adat.”
Cakra menunduk. Ia baru menyadari kesalahannya.
Sang ayah kemudian menjelaskan lebih lanjut. “Dalam adat Lampung, unggah-ungguh adalah cerminan kehormatan keluarga. Jika kau bersikap tidak sopan, maka bukan hanya namamu yang tercoreng, tetapi juga nama keluarga dan margamu. Tata krama ini mencakup tiga hal: cara berbicara, cara bersikap, dan cara berpakaian.”
“Lalu bagaimana seharusnya aku berbicara dengan tetua adat, Ayah?” tanya Cakra.
“Ada tingkatan bahasa yang harus kau perhatikan,” jawab sang ayah. “Saat berbicara dengan teman sebaya, kau bisa menggunakan bahasa yang akrab dan santai. Namun saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati, kau harus menggunakan bahasa yang halus, nada yang lembut, dan kata-kata yang penuh hormat. Jangan pernah menyela pembicaraan mereka atau menunjukkan gestur kasar.”
Cakra mengangguk. “Maafkan aku, Ayah. Aku akan lebih berhati-hati lagi.”
“Selain itu,” lanjut sang ayah, “cara menegur juga harus halus. Jika kau melihat kesalahan orang yang lebih tua, jangan pernah menegurnya di depan umum. Sampaikanlah secara pribadi dengan bahasa yang lembut, agar ia tidak kehilangan wibawa di hadapan orang lain. Itulah salah satu bentuk penghormatan yang diajarkan oleh falsafah Pi’il Pesenggiri.”

Baca Juga :  Ramadhan Dalam Jejak Hidup dan Adat Lampung. Busana Sederhana dan Nilai Kesopanan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Sejak hari itu, Cakra mulai belajar membedakan cara bicaranya. Kepada teman sebaya, ia bersikap akrab. Kepada orang tua dan tetua adat, ia menggunakan bahasa yang halus dan penuh hormat. Ia juga tidak pernah lagi menyela pembicaraan orang yang lebih tua. Perlahan, reputasinya sebagai pemuda yang santun mulai dikenal di kampung.
Beberapa minggu kemudian, Cakra diundang untuk menghadiri upacara adat pernikahan di kampung tetangga. Di sana, ia melihat sesuatu yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya. Di dinding-dinding rumah tempat upacara berlangsung, terpasang hiasan dari kain berbentuk belah ketupat dengan warna-warna tertentu. Ada yang berwarna putih dan kuning, ada pula yang berwarna merah dan hitam.
Cakra mendekati sang ayah yang sedang berbincang dengan Punyimbang setempat. “Ayah, apa makna hiasan berbentuk belah ketupat itu?”
Sang ayah tersenyum. “Itulah salah satu tanda dan simbol penting dalam kehidupan adat kita, Nak. Bagi masyarakat Saibatin, motif belah ketupat adalah simbol yang sakral dan menjadi penanda identitas. Motif ini bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki makna filosofis yang mendalam.”
Punyimbang yang mendengar pertanyaan Cakra pun ikut menjelaskan. “Motif belah ketupat, Nak, adalah perlengkapan wajib dalam setiap upacara adat, terutama bagi masyarakat Saibatin. Tanpa motif ini, upacara adat terasa tidak lengkap. Motif ini berbentuk potongan-potongan kain berwarna putih, kuning, merah, dan hitam. Setiap warna menandakan strata atau kedudukan seseorang dalam adat.”
Cakra semakin penasaran. “Jadi, warna-warna itu menunjukkan status sosial, Punyimbang?”
“Tepat sekali,” jawab sang Punyimbang. “Bagi golongan Punyimbang, Pangeran, dan Dalom, mereka menggunakan warna putih dan kuning. Sedangkan golongan di luar itu tidak boleh menggunakan kedua warna tersebut; mereka hanya boleh menggunakan warna lain. Ada pula aturan tentang jumlah helai yang boleh dipakai, tergantung pada status seseorang.”
Setelah berbincang dengan Punyimbang, Cakra kembali ke sisi sang ayah. Sang ayah lalu melanjutkan penjelasan tentang simbol-simbol lain, terutama dalam pakaian adat.
“Kau tahu, Cakra, pakaian adat kita juga sarat dengan makna,” ujar sang ayah. “Masyarakat Lampung terbagi dalam dua rumpun adat: Pepadun dan Saibatin. Keduanya memiliki busana adat yang berbeda, tetapi sama-sama mencerminkan identitas dan martabat.”
“Lalu, apa perbedaannya, Ayah?” tanya Cakra.
“Masyarakat Pepadun yang mendiami daerah pedalaman biasanya mengenakan baju lengan panjang berwarna putih, dipadukan dengan celana hitam dan kain tumpal (kain tenun khas Lampung) yang dililitkan hingga lutut. Sedangkan masyarakat Saibatin di pesisir memiliki busana yang berbeda. Pengantin pria Saibatin mengenakan tutup kepala bernama ikat pujuk, baju putih dengan jas, dan celana gelap yang ditutupi kain tumpal. Keris disisipkan di pinggang sebagai simbol kejantanan.”
“Lalu, untuk wanitanya, Ayah?”
“Pengantin wanita Saibatin memakai mahkota bernama siger dengan tujuh lekuk. Mereka juga memakai baju beludru bermotif bunga yang disebut kawai maju, dengan berbagai aksesoris di leher dan lengan. Sementara pengantin wanita Pepadun mengenakan kebaya putih dan emas yang ramping, dipadukan dengan kain tapis yang dibuat dengan benang emas dan perak.”
Cakra terpesona mendengar penjelasan itu. Ia mulai memahami bahwa setiap pakaian, setiap aksesori, dan setiap simbol dalam adat Lampung bukanlah sekadar hiasan. Semua itu adalah marwah adat, penanda identitas, dan pengingat akan tanggung jawab sosial yang melekat pada setiap individu.
“Jadi, Ayah,” Cakra menyimpulkan, “ketika kita memakai pakaian adat, kita tidak hanya tampil cantik atau gagah, tetapi juga menunjukkan siapa kita dan dari mana kita berasal?”
“Tepat sekali, Nak,” jawab sang ayah sambil tersenyum bangga. “Itulah mengapa kita harus menjaga dan melestarikan pakaian adat ini. Sebab, di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh leluhur kita sejak zaman dahulu.”

Baca Juga :  Seri Buku: Bahasa Lampung sebagai Cermin Budaya. Seri - 10 – Merawat Bahasa, Merawat Budaya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

Malam itu, Cakra pulang dengan hati yang penuh. Ia tidak hanya belajar tentang unggah-ungguh, tetapi juga tentang kekayaan simbol dan makna yang terkandung dalam setiap aspek kehidupan adat Lampung. Ia bertekad untuk terus mempelajari dan melestarikan warisan budaya ini, agar generasi mendatang juga dapat memahaminya. (*)

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani. (2025). Filosofi Tata Krama dan Unggah-Ungguh dalam Pergaulan Sehari-Hari Masyarakat Lampung. Portal Berita Natar Agung.
2. RRI Bandar Lampung. (2024). Motif Belah Ketupat, Kekayaan Masyarakat Tanggamus.
3. ANTARA News. (2024). Ragam Pakaian Adat Masyarakat Lampung.
4. Sinaga, Risma Margaretha, dkk. Belah Ketupat: Representasi Identitas Masyarakat Kabupaten Tanggamus.
5. Syahrul, M. (2011). Naskah Kuno Lampung: Kitab Kuntara Raja Niti. Bandar Lampung: Pustaka Adat Lampung.
6. Wikipedia. (2019). Piil Pesenggiri.
7. Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. Kuntakha Khaja Niti.

Baca Juga :  Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung Sop Taduk dan Nilai Musyawarah Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini