Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id – Metro – Fenomena lagu “Kicau Mania” yang dipopulerkan oleh Ndarboy Genk bersama Banditoz Yaow 86 bukan sekadar menjadi lagu hiburan yang viral di TikTok, Instagram, maupun WhatsApp. Lagu ini merepresentasikan sebuah budaya sosial yang telah lama berkembang di Indonesia, yaitu komunitas pecinta burung berkicau (bird keeping dan bird contest). Melalui lirik yang sederhana, jenaka, dan penuh semangat, lagu ini menggambarkan bagaimana sebuah hobi mampu membentuk identitas, memperluas relasi sosial, sekaligus menjadi sumber kebahagiaan psikologis.
Menurut perspektif psikologi terapan, lagu ini menarik karena menunjukkan bahwa manusia tidak hanya bekerja demi memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga membutuhkan ruang aktualisasi diri, rasa memiliki komunitas, serta aktivitas yang memberi makna hidup. Dalam masyarakat modern yang penuh tekanan pekerjaan, hobi sering kali menjadi media pemulihan psikologis (psychological recovery) yang efektif. Allah SWT berfirman: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77). Ayat ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara tanggung jawab hidup dan aktivitas yang memberikan kebahagiaan secara sehat. Rasulullah SAW juga bersabda: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu.” (HR. Bukhari). Hadis tersebut mengandung makna bahwa manusia perlu menjaga kesehatan fisik maupun mental, salah satunya melalui rekreasi dan aktivitas positif.
Hobi sebagai Sumber Kesehatan Mental.
Salah satu lirik yang paling menarik ialah: “Ora gantang ora mangan…”. Kalimat ini memang hiperbola, tetapi menunjukkan tingginya keterikatan emosional terhadap hobi. Dalam psikologi, keterikatan ini dapat dijelaskan melalui Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Edward Deci dan Richard Ryan (1985, 2000). Teori ini menyebutkan bahwa kesejahteraan psikologis tumbuh ketika seseorang memperoleh tiga kebutuhan dasar autonomy (kebebasan memilih aktivitas), competence (merasa mampu), dan relatedness (merasa memiliki komunitas). Komunitas kicau mania memenuhi ketiganya.
Seseorang bebas memilih jenis burung, belajar merawatnya hingga gacor, kemudian memperoleh pengakuan dari sesama penghobi. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa hobi memiliki hewan peliharaan dapat menurunkan hormon kortisol, mengurangi stres, meningkatkan suasana hati, mengurangi rasa kesepian, dan meningkatkan empati. Mendengarkan kicauan burung sendiri telah lama digunakan dalam terapi relaksasi karena suara alam mampu mengaktifkan sistem saraf parasimpatik sehingga tubuh lebih rileks.Menurut perspektif psikologi positif (Seligman, 2011), aktivitas merawat burung dapat menghasilkan positive emotion, engagement, dan meaning, tiga komponen penting kesejahteraan psikologis.
Identitas Sosial dan Modal Psikologis Komunitas Kicau Mania.
Lirik berikut sangat menarik: “Podo cah gantangan rasah iren-irenan, seduluran mergo hobi.” Pesan ini menunjukkan bahwa hobi tidak hanya tentang burung, tetapi juga membangun persaudaraan. Menurut “Social Identity Theory” (Henri Tajfel & John Turner, 1979), manusia memperoleh identitas bukan hanya dari dirinya sendiri, tetapi juga dari kelompok tempat ia bergabung. Komunitas kicau mania memberikan identitas sosial, rasa memiliki, dukungan emosional, dan jaringan pertemanan. Ketika seseorang hadir di arena gantangan, ia tidak sekadar membawa burung, tetapi juga membawa identitas sebagai bagian dari komunitas.
Menurut Perspektif psikologi komunitas, keberadaan kelompok seperti ini dapat menjadi “social support system” yang terbukti mampu mengurangi stres, meningkatkan resiliensi, memperkuat kesehatan mental, dan mencegah isolasi sosial. Lagu ini bahkan mengingatkan agar para penghobi tidak saling iri. Secara psikologis, pesan tersebut sangat penting karena “Social Comparison Theory” (Leon Festinger, 1954) menjelaskan bahwa membandingkan diri secara berlebihan dengan orang lain dapat memicu iri hati, kecemasan, dan konflik. Karena itu lirik: “Rasah iren-irenan.” Yang artinya jangan saling iri dengki merupakan ajakan menjaga kesehatan hubungan sosial.
Optimisme, dan Growth Mindset untuk Menang.
Beberapa lirik menonjolkan optimisme meraih kemenangan yaitu lirik “Modal nekat karo dungo.” “Ra kudu kondang sing penting menang.” Pesan ini menggambarkan perpaduan antara usaha dan doa. Dalam psikologi pendidikan, hal tersebut sejalan dengan konsep “Growth Mindset” dari Carol Dweck (2006). Seseorang yang memiliki growth mindset percaya bahwa keberhasilan bukan semata-mata bakat, tetapi hasil latihan yang terus-menerus. Hal tersebut terlihat pada lirik yaitu “Tak rumat seko piyek.” Burung dirawat sejak kecil hingga siap berlomba. Ini mencerminkan bahwa keberhasilan memerlukan konsistensi, kesabaran, latihan, dan evaluasi.
Bandura (1997) melalui teori “Self-Efficacy” menjelaskan bahwa keyakinan seseorang terhadap kemampuannya akan meningkatkan motivasi untuk terus mencoba. Ketika burung akhirnya “gacor” dan menang lomba, penghobi memperoleh pengalaman keberhasilan (mastery experience) yang memperkuat rasa percaya diri. Menurut ajaran Islam bahwa semangat berikhtiar dipadukan dengan tawakal. Allah SWT berfirman: “Apabila engkau telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159). Ayat ini menunjukkan bahwa usaha dan doa merupakan pasangan yang tidak terpisahkan.
Ambisi dan Sportivitas untuk Kompetisi Sehat.
Arena lomba burung merupakan bentuk kompetisi. Kompetisi dapat menjadi sarana pengembangan diri, tetapi juga dapat memicu konflik apabila tidak disertai regulasi emosi. Lirik lagu “Aku ra golek musuh yo ora seneng rusuh.” adalah mengandung nilai psikologis yang sangat kuat. Menurut teori “Emotional Intelligence” (Daniel Goleman, 1995), individu yang cerdas secara emosional mampu mengendalikan emosi, menghormati lawan, menerima kekalahan, dan menjaga hubungan sosial. Lagu ini juga menekankan pentingnya saling menyapa yaitu pada lirik “Yen podo kepetuk ojo lali aruh-aruh.” Ini menunjukkan bahwa tujuan utama komunitas bukan hanya memenangkan lomba, tetapi mempererat persaudaraan.
Pandangan psikologi kompetisi menjelaskan bahwa kompetisi yang sehat mampu meningkatkan motivasi intrinsik, sedangkan kompetisi yang dipenuhi permusuhan justru meningkatkan stres, agresivitas, dan kelelahan emosional. Karena itu lagu ini mengingatkan bahwa kemenangan terbaik adalah kemenangan yang tetap menjaga silaturahmi. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik meskipun terdapat persaingan atau kompetisi dalam suatu event.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa lagu “Kicau Mania” menunjukkan bahwa sebuah lagu populer dapat mengandung pesan psikologis yang kaya. Di balik irama dangdut dan rap yang energik, lagu ini mengangkat nilai-nilai tentang kerja keras, ketekunan, optimisme, kebersamaan, sportivitas, dan keseimbangan hidup. Menurut perspektif psikologi terapan, budaya kicau mania memperlihatkan bahwa hobi bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan media untuk memenuhi kebutuhan psikologis manusia akan kompetensi, relasi sosial, dan aktualisasi diri. Merawat burung melatih kesabaran, mengikuti gantangan membangun rasa percaya diri, sedangkan komunitas penghobi menjadi sumber dukungan sosial yang memperkuat kesehatan mental. Namun demikian, hobi yang sehat tetap memerlukan pengendalian diri. Ketika orientasi bergeser dari menikmati proses menjadi obsesi terhadap kemenangan, muncul risiko stres, konflik, kecemburuan, bahkan perilaku tidak sportif. Oleh karena itu, pesan paling bermakna dari lagu ini justru terdapat pada ajakan untuk “rasah iren-irenan” dan “seduluran mergo hobi”. Nilai tersebut menegaskan bahwa tujuan akhir dari sebuah hobi bukan hanya menjadi juara, melainkan membangun persaudaraan, menjaga kesehatan mental, serta mensyukuri nikmat Allah melalui aktivitas yang positif dan bermanfaat. (*)

