nataragung.id – Bandar Lampung – Dahulu kala, para leluhur kami hidup rukun di hamparan tanah yang subur antara Bukit Barisan dan pesisir laut yang luas. Di sebuah tiyuh (kampung) di pesisir barat, hiduplah seorang puyang bijaksana bernama Umpu Silamponga. Ia adalah seorang nelayan tangguh sekaligus pemburu ulung. Konon, Umpu Silamponga adalah keturunan dari empat bersaudara yang berlayar dari Tanah Batak, dan kata “Lappung” yang berarti luas pernah diucapkan dari puncak Gunung Pesagi oleh nenek moyangnya dulu.
Suatu sore, sepulang melaut, Umpu membawa hasil tangkapan ikan yang melimpah. Namun, keluarganya sudah bosan dengan ikan bakar yang itu-itu saja. Sang istri yang cerdik pun berkreasi. Ia mengambil cabai-cabai pedas dari kebun, menumbuknya bersama bawang merah, dan menambahkan perasan jeruk sate yang segar. Ikan bakar yang tadinya biasa, disiram dengan kuah sambal segar itu. Aroma pedas dan asam langsung menggugah selera seluruh penghuni rumah. Bayi-bayi yang biasanya rewel pun diam, menikmati aroma yang menyegarkan.
Sang Umpu pun bertanya, “Pekhos apa ini, wahai istriku?” Pekhos dalam bahasa Lampung berarti sesuatu yang membuat mata terbelalak karena segar dan pedas. “Inilah pekakos untuk menyambut kesegaran,” jawab sang istri sambil tersenyum. Sejak saat itulah, hidangan ini dikenal dengan nama Pekhos Pati atau di beberapa daerah disebut Cubik, sambal dengan kuah santan yang menyegarkan.
Sambal Pekhos bukanlah sekadar pelengkap hidangan. Ia adalah simbol dari kehangatan Piil Pesenggiri, falsafah hidup masyarakat Lampung yang diwariskan turun-temurun. Dalam tradisi kami, menyajikan Pekhos kepada tamu bukanlah perkara biasa. Ia adalah perwujudan nyata dari Nemui Nyimah, keramahan dan sikap santun dalam menerima tamu.
Seperti yang tertuang dalam pantun adat: “Tandani ulun Lampung, wat piil-pusanggiri” (Cirinya orang Lampung, memiliki Piil Pesenggiri).
Ketika seorang tamu datang, ia diperlakukan seperti raja. Tidak hanya dengan kata-kata manis, tetapi juga dengan hidangan terbaik. Pekhos yang pedas, segar, dan kaya rasa diyakini mampu membuka selera dan mencairkan suasana. Dalam setiap suapan ikan bakar yang dicocol ke dalam sambal Pekhos, terasa nilai-nilai luhur: Juluk-Adok (gelar kehormatan yang dijaga), Nengah Nyappur (keterbukaan dalam bersosialisasi), dan Sakai Sambayan (gotong-royong).
Cerita tentang Pekhos tidak lepas dari sejarah panjang marga-marga Lampung. Dalam naskah kuno Kitab Kuntara Raja Niti, yang menjadi rujukan adat para Punyimbang (pemuka adat), disebutkan bahwa orang Lampung memiliki “piil” yang keras, yakni pendirian yang tak kenal menyerah. Namun, kedatangan Islam di Lampung sekitar abad ke-15, dibawa oleh Fatahillah Sunan Gunung Jati yang kemudian berakulturasi melalui Perjanjian Dalung Kuripan, mengajarkan bahwa kehormatan (Pesenggiri) harus dijaga dengan cara yang santun dan tidak berlebihan.
Dengan masuknya ajaran Islam, tradisi menjamu tamu semakin tertata. Bahan-bahan Pekhos yang halal dan segar menjadi pilihan utama. Kitab Recako Wawai Ningek (kitab panduan perilaku orang Lampung) mengajarkan bahwa Pesenggiri bukanlah arogansi, melainkan “pengendalian rasa malu yang tepat guna, sehingga menimbulkan rasa rendah diri yang tidak berlebihan”. Inilah yang menjadi jembatan antara adat dan syariat: menjamu tamu dengan baik adalah ibadah, dan menjaga kehormatan tamu adalah bagian dari menjaga iman.
Dalam tradisi kami, menghidangkan Pekhos di bancakan (kenduri) atau acara adat dilakukan dengan penuh kebersamaan. Menurut cerita turun-temurun, para perempuan di dapur akan bergotong-royong, ini wujud nyata dari Sakai Sambayan.
Mereka akan menyiapkan:
1. Ikan Bakar: Ikan sungai atau laut (seperti ikan gabus atau tuna) dibakar di atas arang hingga matang sempurna. Bau asapnya yang harum menjadi penanda bahwa acara akan segera dimulai.
2. Kuah Pekhos (Sambal Pati/Cubik): Bumbu sederhana seperti cabai, bawang merah, bawang putih, dan kemiri disangrai lalu dihaluskan. Kelapa diparut dan diperas untuk diambil santannya yang kemudian dicampur dengan bumbu halus dan perasan jeruk sate.
3. Lalapan Segar: Daun-daunan seperti jambu mete, kemangi, adas, atau terong kecil disajikan mentah untuk menemani cita rasa pedas.
Cara menghidangkannya adalah kuah santan bercampur bumbu disiramkan ke ikan bakar yang masih panas. Rasa pedas, asam, dan gurih menyatu. Para tetua (ulun tuha) biasanya akan mendulang nasi terlebih dahulu sebagai tanda syukur, lalu seluruh keluarga dan tamu makan bersama dalam suasana penuh keakraban. Inilah yang disebut Nemui Nyimah, bukan hanya menerima, tetapi memberi dengan sepenuh hati.
Sambal Pekhos mengajarkan kita tentang kesederhanaan dan kebersamaan. Dalam setiap acara adat seperti Begawi Cakak Pepadun atau pernikahan, Pekhos hampir selalu hadir, menandakan bahwa keramahan adalah kunci keharmonisan. Nilai ini sejalan dengan sila ke-3 Pancasila, “Persatuan Indonesia,” di mana perbedaan dipersatukan dalam satu meja makan.
Lebih dalam lagi, proses “menumbuk” cabai dan “menyiram” kuah mengingatkan kita pada filosofi Islam: mengolah nafsu dan menyirami hati dengan kebaikan. Seperti yang tertulis dalam Kitab Kuntara Raja Niti pasal 46 yang menyebutkan: “Pokok manusia ada tiga perkara: Islam, Sarani, dan Kapir…”. Namun, dalam konteks Pekhos, perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang untuk duduk bersama menikmati hidangan. Justru di sinilah letak kearifan lokal: Pekhos menjadi simbol toleransi, karena semua orang, dari berbagai latar belakang, menyukai kelezatannya.
Hingga saat ini, di dapur-dapur Lampung, dari pesisir hingga dataran tinggi, aroma Pekhos masih setia mengepul. Saya masih ingat nasihat puyang (nenek moyang) yang sering diucapkan, “Jangan pernah sia-siakan tamu, karena rezeki datang bersama mereka.” Inilah esensi Piil Pesenggiri yang sesungguhnya: hidup dengan harga diri, menjaga nama baik, dan selalu ramah.
Dengan menikmati dan melestarikan Sambal Pekhos, kita bukan hanya menjaga perut kenyang, tetapi juga menjaga warisan budaya, memperkuat identitas kebangsaan, dan meneguhkan nilai-nilai spiritual. Semoga Pekhos tetap menjadi “uloh” (tanda) bahwa orang Lampung selalu menjunjung tinggi kehormatan dan keramahan, sebagaimana diajarkan leluhur sejak zaman dahulu kala.
Daftar Pustaka
1. Fachrudin. (2009). Piil Pesenggiri sebagai Kearifan Lokal Masyarakat Lampung.
2. Hadikusuma, H. (1990). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Penerbit Alumni.
3. Sayuti, Husin. (1982). Recako Wawai Ngingek (Kitab Panduan Perilaku Orang Lampung).
4. Rizani Puspawidjaja. (2001). Falsafah Hidup Orang Lampung.
5. Kitab Kuntara Raja Niti (Naskah Kuno Adat Lampung Pepadun).
6. Sitorus, M., dkk. (1996). Piil Pesenggiri dalam Masyarakat Lampung.
7. Ariyani, Farida. (2017). Skema Potensi Kebudayaan Lampung (Tesis).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

