Mutiara Pagi: Kelembutan – Kunci Sukses Dakwah dan Meraih Hati Manusia. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

0

nataragung.id – Pemanggilan – Allah Subḥanahu wa Ta‘ala mengajarkan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kebenaran yang disampaikan, tetapi juga oleh cara menyampaikannya. Karena itu Allah berfirman:

{ فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ فَٱعۡفُ عَنۡهُمۡ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لَهُمۡ وَشَاوِرۡهُمۡ فِي ٱلۡأَمۡرِۖ فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِينَ }

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

Ayat yang agung ini turun setelah Perang Uhud, ketika sebagian sahabat melakukan kesalahan yang berakibat besar bagi kaum Muslimin. Namun Allah tidak memerintahkan Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk mencela, menghardik, atau mempermalukan mereka. Sebaliknya, Allah memerintahkan beliau untuk bersikap lembut, memaafkan, memohonkan ampunan bagi mereka, serta tetap melibatkan mereka dalam musyawarah.

Baca Juga :  Mutiara Pagi : Kebahagiaan dalam Melepaskan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Ini menunjukkan bahwa kelembutan bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan akhlak yang mampu mengikat hati manusia.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan membuatnya buruk.” (HR. Muslim)

Dalam dakwah, ilmu yang benar harus dibungkus dengan akhlak yang mulia. Kata-kata yang kasar mungkin dapat memenangkan perdebatan, tetapi belum tentu memenangkan hati. Sebaliknya, kelembutan sering kali mampu membuka pintu-pintu hati yang tertutup.

Bahkan kepada Fir’aun yang mengaku sebagai tuhan, Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun untuk berbicara dengan lembut:

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Kita dan Keselamatan Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

فَقُولَا لَهُۥ قَوۡلٗا لَّيِّنٗا لَّعَلَّهُۥ يَتَذَكَّرُ أَوۡ يَخۡشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS. Thaha: 44)

Jika kepada Fir’aun saja diperintahkan berkata lembut, maka kepada kaum Muslimin, masyarakat, keluarga, dan orang-orang yang ingin kita ajak kepada kebaikan tentu lebih utama lagi untuk diperlakukan dengan kelembutan.

Seorang da’i hendaknya memiliki beberapa sifat yang disebutkan dalam ayat di atas:

Pertama, Lemah lembut dalam ucapan dan sikap.

Kedua, Tidak kasar dan tidak keras hati.

Ketiga, Mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Keempat, Mendoakan mereka agar mendapatkan ampunan Allah.

Kelima, Mengedepankan musyawarah dan dialog.

Keenam, Bertawakal kepada Allah setelah berusaha dan mengambil keputusan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga bersabda:

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ كُلَّهُ

“Barang siapa terhalang dari sifat lembut, maka ia terhalang dari seluruh kebaikan.” (HR. Muslim)

Karena itu, keberhasilan dakwah tidak hanya terletak pada kepandaian berbicara, tetapi juga pada keluasan hati, kesabaran, dan kasih sayang kepada manusia. Orang mungkin lupa apa yang kita katakan, tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka.

Baca Juga :  MUTIARA PAGI : Nafas Panjang, Jejak Kemenangan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berdakwah dengan hikmah, kelembutan, dan kasih sayang, serta menjadikan dakwah kita sebab hidayah bagi banyak manusia.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أهْلِ الرِّفْقِ وَالْحِكْمَةِ، وَاهْدِنَا وَاهْدِ بِنَا، وَاجْعَلْنَا سَبَبًا لِهِدَايَةِ عِبَادِكَ.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang memiliki kelembutan dan hikmah. Berilah kami petunjuk dan jadikanlah kami sebab hidayah bagi hamba-hamba-Mu.” Aamiin. (*/262)
WaAllahu A’lam

_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini