Bulan: Juni 2025

  • Ike Edwin dan Kepeduliannya terhadap Masa Depan Adat Budaya Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda (Dalom Putekha Jaya Makhga)

    Ike Edwin dan Kepeduliannya terhadap Masa Depan Adat Budaya Lampung. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda (Dalom Putekha Jaya Makhga)

    nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Di tengah arus modernisasi yang semakin deras dan globalisasi yang terus menggiring masyarakat menuju homogenitas budaya, kekhawatiran terhadap hilangnya identitas lokal menjadi sangat beralasan.
    Salah satu tokoh yang secara konsisten menyuarakan pentingnya pelestarian adat dan budaya daerah adalah Irjen Pol (Purn) Drs. H. Ike Edwin, SH., MH., MM., mantan Kapolda Lampung yang juga dikenal luas sebagai tokoh adat dan budayawan Lampung.

    Sebagai seorang tokoh adat bergelar Dang Ike yang memiliki darah keturunan langsung dari kalangan penyimbang adat Lampung, kepedulian beliau terhadap kelangsungan nilai-nilai luhur budaya Lampung bukanlah sekadar formalitas. Lebih dari itu, beliau memandang adat sebagai landasan moral, identitas sosial, dan jati diri masyarakat Lampung yang harus dijaga secara kolektif.
    Dalam berbagai kesempatan, Ike Edwin tidak segan mengutarakan keprihatinannya terhadap perkembangan generasi muda Lampung yang mulai tergerus oleh pengaruh budaya luar, serta minimnya perhatian pemerintah terhadap penguatan budaya lokal. Ia menilai bahwa budaya tidak bisa dilestarikan hanya melalui seremonial atau dokumentasi pasif, namun harus dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari, pendidikan, dan pergaulan sosial.

    Ike Edwin menyampaikan keprihatinan mendalamnya terhadap lemahnya kesadaran generasi muda dalam memahami dan menghidupi nilai-nilai adat Lampung. Dalam pandangannya, jika tidak ada langkah konkret dan strategis dari berbagai pihak, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun komunitas masyarakat adat sendiri, maka dua generasi di bawah kita bisa saja tumbuh tanpa mengenali akar budayanya.
    “Jika kita abai hari ini, anak cucu kita besok tidak akan tahu apa itu Piil Pesenggiri, siapa itu Penyimbang, atau bagaimana cara berpakaian dan berbicara menurut tata krama adat Lampung. Mereka akan menjadi manusia tanpa identitas, tercerabut dari akarnya sendiri,” ujar beliau dalam satu pernyataan.

    Sebagai wujud nyata dari komitmennya terhadap pelestarian adat, Ike Edwin merencanakan sebuah pertemuan besar yang akan melibatkan para tokoh adat dari berbagai latar belakang struktur adat di Lampung. Pertemuan ini dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2025, dan akan mempertemukan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Penyimbang Saibatin, Kebandaran Marga, hingga Tuha Raja dari adat Pepadun.
    Pertemuan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan forum strategis untuk merumuskan langkah-langkah kolektif dalam menjaga dan menanamkan nilai-nilai adat kepada generasi muda. Menurut Ike Edwin, sinergi antara para tokoh adat dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat umum adalah kunci utama untuk menyelamatkan budaya Lampung dari kepunahan kultural.

    Salah satu cita-cita besar dari pertemuan ini adalah mempererat kerja sama lintas etnis dan suku yang tinggal di Provinsi Lampung. Sebagai daerah yang dikenal majemuk dan kosmopolit, Lampung menjadi rumah bagi berbagai kelompok etnis seperti Jawa, Sunda, Bali, Bugis, Batak, Minang, dan lainnya. Ike Edwin meyakini bahwa adat Lampung justru dapat menjadi titik temu sekaligus nilai pemersatu di tengah keberagaman ini.
    Dengan semangat inklusif, budaya Lampung tidak dipandang sebagai milik eksklusif satu etnis, melainkan warisan yang bisa menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat Lampung dalam membangun harmoni sosial, etika berinteraksi, dan kebijaksanaan hidup.

    Pertemuan yang direncanakan ini diharapkan tidak berhenti sebagai wacana atau agenda tahunan tanpa tindak lanjut. Besar harapan dari Ike Edwin dan para tokoh adat lainnya agar pertemuan ini menjadi tonggak awal kebangkitan budaya Lampung secara nyata, dengan menghasilkan rekomendasi strategis seperti:
    * Pembentukan forum adat lintas wilayah.
    * Mendorong pemerintah daerah untuk membuat regulasi yang berpihak pada pelestarian budaya,
    * Penerapan muatan lokal budaya Lampung dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah,
    * Pembuatan pusat budaya Lampung yang interaktif dan digitalisasi arsip-arsip adat.

    Ike Edwin bukan hanya seorang purnawirawan jenderal polisi atau tokoh birokrat. Ia adalah simbol dari upaya kolektif untuk mempertahankan nilai-nilai luhur yang telah membentuk jati diri masyarakat Lampung selama berabad-abad. Kekhawatiran yang ia suarakan harus menjadi alarm bagi semua pihak, bahwa identitas budaya bukan sekadar warisan, tetapi tanggung jawab yang harus dijaga dan diwariskan secara sadar.
    Dalam dunia yang semakin terdigitalisasi, ketika batas antara lokal dan global menjadi kabur, menjaga adat bukan berarti mundur ke masa lalu. Justru dengan menjaga adat, kita sedang mempersiapkan masa depan yang lebih berakar, lebih berkarakter, dan lebih manusiawi.
    Sebagaimana filosofi Piil Pesenggiri mengajarkan harga diri dan martabat, begitu pula perjuangan melestarikan budaya ini adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus hadiah bagi generasi mendatang. ***

  • Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun. SERI 2: Struktur Sosial dan Sejarah Institusi Penyimbang Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun. SERI 2: Struktur Sosial dan Sejarah Institusi Penyimbang Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id- BANDAR LAMPUNG – Sejarah Keberadaan Penyimbang, Jejak Awal hingga Pasca kemerdekaan. Gelar Penyimbang dalam masyarakat adat Lampung adalah warisan budaya yang telah berakar sejak zaman prasejarah dan menjadi bagian dari dinamika sosial-politik selama berabad-abad.
    Keberadaan gelar ini tercatat dalam tradisi lisan serta naskah-naskah kuno seperti Kuntara Raja Niti yang menyebutkan struktur pemerintahan adat yang bersifat hierarkis dan kolektif.

    Jejak awal institusi Penyimbang ditemukan dalam konteks kerajaan lokal seperti Keratuan Pugung, Sekala Brak, dan berbagai kerajaan kecil di wilayah Lampung Barat dan Lampung Selatan.

    Pada masa pra-Islam dan sebelum kedatangan kolonialisme, masyarakat Lampung telah memiliki struktur sosial yang mapan, di mana tokoh-tokoh adat memegang peranan penting dalam tata kelola masyarakat.

    Gelar Penyimbang muncul sebagai simbol pemimpin adat yang memiliki otoritas spiritual, sosial, dan budaya. Ia adalah figur sentral dalam pengambilan keputusan adat, penyelesaian sengketa, serta penjaga nilai-nilai moral dan sakralitas leluhur.

    Masuknya Islam pada abad ke-13 hingga ke-15 membawa perubahan penting dalam aspek religius, namun tidak menghilangkan struktur adat yang telah ada. Justru, nilai-nilai Islam dan adat berakulturasi secara harmonis, dengan para Penyimbang menjadi jembatan antara nilai Islam dan nilai adat. Mereka menjaga keberlanjutan nilai-nilai tradisional sembari mengakomodasi ajaran agama baru yang mulai mengakar.

    Era kolonialisme Belanda memberikan tekanan besar terhadap sistem adat, termasuk institusi Penyimbang. Pemerintah kolonial berusaha menggantikan struktur lokal dengan sistem pemerintahan kolonial yang bersifat sentralistik.
    Namun demikian, masyarakat Lampung mempertahankan struktur Penyimbang sebagai bentuk resistensi budaya.

    Dalam banyak kasus, Penyimbang tetap berfungsi sebagai pemimpin informal yang dihormati masyarakat, meskipun tidak diakui secara administratif oleh pemerintah kolonial.

    Setelah kemerdekaan Indonesia, posisi Penyimbang mengalami dinamika baru. Dalam sistem pemerintahan nasional yang berbasis demokrasi dan hukum negara, posisi Penyimbang tidak dihapuskan, tetapi difungsikan dalam ranah sosial-budaya.

    Di banyak daerah, Penyimbang tetap memiliki legitimasi moral yang tinggi, dan peranannya diakomodasi dalam lembaga-lembaga adat atau Dewan Adat. Institusi ini juga menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya lokal, termasuk dalam mediasi sosial, upacara adat, dan pelestarian bahasa serta nilai-nilai kearifan lokal.

    Struktur Masyarakat Adat Sai Batin dan Pepadun.

    Masyarakat Lampung terbagi ke dalam dua sistem adat utama, yakni Sai Batin dan Pepadun. Keduanya memiliki struktur sosial yang berbeda, namun masing-masing menempatkan gelar Penyimbang dalam posisi sentral.

    Sistem Sai Batin bersifat aristokratis dan tertutup. Struktur masyarakatnya ditentukan secara keturunan, dengan kekuasaan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam struktur ini, masyarakat terbagi atas golongan bangsawan (tuan), penyimbang, dan rakyat biasa. Sai Batin mengutamakan garis keturunan murni sebagai dasar legitimasi sosial dan spiritual.

    Berbeda dengan Sai Batin, sistem Pepadun bersifat egaliter dan terbuka. Struktur sosial dalam Pepadun ditentukan oleh kemampuan dan kontribusi seseorang terhadap masyarakat. Gelar dan posisi dapat diraih melalui proses adat yang dikenal sebagai naik Pepadun. Dalam masyarakat Pepadun, keterbukaan terhadap perubahan dan dinamika sosial sangat terlihat, serta memberikan ruang yang lebih luas bagi partisipasi masyarakat dalam struktur adat.

    Baik dalam Sai Batin maupun Pepadun, masyarakat terbagi ke dalam unit-unit sosial yang disebut marga, tiyuh (kampung), dan suku. Setiap unit ini memiliki pemimpin adat yang disebut Penyimbang, yang bertugas menjaga harmoni, menjalankan hukum adat, dan memfasilitasi pelaksanaan ritual serta musyawarah adat.

    Posisi Penyimbang dalam Struktur Kekerabatan dan Pemerintahan Adat.

    Dalam struktur kekerabatan masyarakat Lampung, Penyimbang adalah kepala dari satu kelompok kekerabatan atau marga. Ia memiliki otoritas atas anggota-anggota kelompoknya, baik dalam urusan sosial, ekonomi, hukum, maupun spiritual.
    Penyimbang bertanggung jawab untuk membimbing generasi muda, menyelenggarakan upacara adat, serta menjaga warisan leluhur, termasuk silsilah dan tradisi lisan.

    Dalam struktur pemerintahan adat, Penyimbang adalah figur sentral yang menjembatani antara masyarakat dan kekuasaan formal. Ia memainkan peran penting dalam forum musyawarah adat, yang dikenal dengan istilah “sangun” dalam Pepadun atau “kekakhian” dalam Sai Batin. Dalam forum ini, Penyimbang bersama tokoh adat lainnya membahas persoalan-persoalan penting seperti pernikahan, warisan, konflik sosial, hingga pembangunan komunitas.

    Penyimbang juga merupakan penghubung antara manusia dan alam semesta dalam perspektif spiritualitas Lampung. Dalam setiap upacara adat, Penyimbang memimpin doa, sesaji, dan ritual persembahan kepada leluhur sebagai bentuk penghormatan dan permohonan berkah. Fungsi spiritual ini menjadikan posisi Penyimbang sebagai pelindung nilai-nilai sakral yang menjadi dasar kehidupan masyarakat.

    Secara administratif, Penyimbang sering kali berperan sebagai penasihat dalam lembaga adat atau tokoh masyarakat dalam struktur pemerintahan desa atau kelurahan. Meskipun tidak memiliki kekuasaan eksekutif, suara dan nasihatnya sangat diperhitungkan dalam pengambilan keputusan komunitas.

    Perbandingan Struktur Sosial dan Nilai Dasar dari Kedua Sistem.

    Perbedaan antara sistem Sai Batin dan Pepadun mencerminkan dua paradigma yang berbeda dalam menyikapi kekuasaan, status sosial, dan nilai-nilai dasar kehidupan bermasyarakat.

    Dalam Sai Batin, nilai dasar yang dijunjung tinggi adalah kesucian garis keturunan, loyalitas kepada tradisi, dan eksklusivitas budaya. Sistem ini menempatkan nilai spiritual di atas nilai administratif, dan menekankan pada kesinambungan tradisi yang diwariskan dari leluhur.

    Penyimbang dalam Sai Batin memiliki peran sebagai pelindung garis keturunan dan penjaga integritas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

    Sementara itu, sistem Pepadun menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis, musyawarah, dan keterbukaan. Di sini, status sosial bisa diraih berdasarkan kemampuan individu, bukan semata-mata dari garis keturunan.
    Nilai-nilai seperti gotong-royong, persatuan dalam keberagaman, dan tanggung jawab sosial menjadi fondasi utama masyarakat Pepadun. Penyimbang dalam sistem ini adalah tokoh yang aktif berinteraksi dengan masyarakat, berperan dalam pembangunan komunitas, serta menjadi simbol kesetaraan dan keadilan.

    Walau demikian, kedua sistem tetap menjunjung tinggi empat nilai utama budaya Lampung, yaitu: pi’il-pusanggiri (harga diri), nemui-nyimah (keramahtamahan), nengah-nyappur (berbaur dalam masyarakat), dan sakai-sambaian (tolong menolong).
    Nilai-nilai ini menjadi landasan moral dan spiritual dari seluruh sistem adat yang berlaku, serta menjadi kompas etis bagi para Penyimbang dalam menjalankan tugasnya.

    Kerangka Sosiologis dan Historis Institusi Penyimbang.

    Institusi Penyimbang dalam masyarakat Lampung merupakan entitas sosial yang tidak hanya memiliki dimensi historis, tetapi juga nilai-nilai sosiologis dan spiritual yang mendalam.
    Ia adalah refleksi dari bagaimana masyarakat Lampung membangun struktur sosial yang kompleks, adaptif, dan berbasis pada kearifan lokal. Baik dalam sistem Sai Batin yang aristokratis maupun dalam sistem Pepadun yang demokratis, posisi Penyimbang selalu berada di jantung kehidupan adat.
    Sejarah panjang institusi ini, dari era kerajaan lokal, masa kolonialisme, hingga pascakemerdekaan, menunjukkan ketangguhan masyarakat adat dalam mempertahankan identitas budayanya. Di tengah perubahan zaman dan modernisasi, Penyimbang tetap menjadi pilar penyangga masyarakat adat, simbol kesinambungan budaya, serta jembatan antara masa lalu dan masa depan.

    Melalui pemahaman yang mendalam terhadap struktur sosial dan peran Penyimbang, kita dapat melihat betapa kayanya warisan budaya Lampung yang bukan hanya menjadi milik etnis tertentu, tetapi juga aset kebudayaan nasional yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan. ***

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • MUTIARA PAGI : Menanam Dan Hasil. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    MUTIARA PAGI : Menanam Dan Hasil. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

    nataragung.id – NATAR – Kehidupan di dunia ini tidak terlepas dari hukum sebab-akibat. Setiap tindakan, baik itu baik maupun buruk, akan memiliki konsekuensi yang sesuai, seperti pepatah arab

    من يزرع يحصد

    _Man yazro’ yahsud_

    “Siapa yang menanam, dia akan menuai.”

    ✅ Orang yang menanam kebaikan, dia akan menuai kebaikan, dan orang yang menanam kejahatan, dia akan menuai kejahatan.

    ✅ Makna dari kalimat ini adalah bahwa kita harus bertanggung jawab atas tindakan kita sendiri dan memahami bahwa setiap keputusan dan pilihan yang kita buat akan memiliki dampak pada kehidupan kita di masa depan.

    ✅ Kalimat ini juga mengajak kita untuk selalu berusaha melakukan kebaikan dan berbuat baik kepada orang lain, karena kita akan menuai apa yang kita tanam.

    ✅ Dengan memahami hukum sebab-akibat ini, kita dapat hidup dengan lebih bijak dan bertanggung jawab, serta berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik. (04). **
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Gelora Lampung Uji Kelayakan Pengurus DPD Kabupaten/Kota Se-Lampung

    Gelora Lampung Uji Kelayakan Pengurus DPD Kabupaten/Kota Se-Lampung

    nataragung.id, Bandar Lampung — Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Provinsi Lampung menggelar kegiatan uji kelayakan dan kepatutan bagi calon Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan Bendahara (KWSB) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) se-Provinsi Lampung. Acara hari ini 28 Juni 2025 dan berlangsung di RM Huhah Natar, berjalan tertib, penuh semangat, dan meninggalkan kesan positif sebagai langkah awal menuju penguatan struktur partai yang lebih solid dan siap kerja.

    Agenda ini merupakan bagian dari proses konsolidasi dan pematangan organisasi di tingkat daerah. DPW ingin memastikan bahwa setiap calon pengurus benar-benar memiliki komitmen, kapasitas, dan integritas dalam mengemban amanah partai, serta siap menghadapi tantangan politik menuju Pemilu 2029.

    Sesi non-formal dimulai pukul 10.00 WIB dengan pemanggilan bergiliran para calon pengurus untuk berdiskusi teknis bersama tim DPW. Diskusi berjalan dalam suasana hangat dan terbuka, mencerminkan semangat kolektif untuk membangun partai dari bawah secara sungguh-sungguh.

    Usai jeda istirahat, shalat, dan makan bersama (ishoma), sesi formal dilanjutkan pukul 13.00 WIB. Acara dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan dengan sambutan dan arahan dari unsur pimpinan partai.

    Ketua DPW Partai Gelora Lampung, Purwadi, SP., MM., dalam sambutannya menekankan pentingnya integritas dan militansi dalam mengelola organisasi. “Kita sedang membangun rumah besar perjuangan. Yang kita cari adalah tukang yang mau berkeringat, bukan sekadar pengisi daftar nama,” ujarnya memberi semangat kepada seluruh peserta.

    Sementara itu, arahan dari Dewan Pimpinan Pusat disampaikan oleh Komirruddin, Lc., yang mengingatkan pentingnya loyalitas terhadap visi besar partai. “Struktur hanyalah alat, tapi yang menggerakkan adalah jiwa dan komitmen kader. Jangan hanya mau jadi pejabat partai, tapi jadilah pejuang partai,” ungkapnya dengan tegas.

    Sekretaris DPW, Dr. (Cand.) Handrie Kurniawan, SE., M.IP., menyampaikan arahan teknis terkait administrasi, penyusunan usulan struktur, dan pentingnya tertib organisasi. Ia menekankan bahwa struktur yang dibangun harus mampu bekerja secara sistemik dan menghasilkan output yang terukur. “Yang kita bangun bukan hanya susunan nama, tapi sistem kerja yang bisa dijalankan, dipertanggungjawabkan, dan berdampak,” jelasnya.

    Puncak kegiatan ditandai dengan penandatanganan lembar komitmen oleh seluruh calon pengurus DPD, sebagai simbol kesiapan menerima amanah dan menjalankan tugas organisasi secara maksimal. Momen ini menjadi puncak kebersamaan yang mencerminkan tekad untuk membesarkan Partai Gelora hingga ke seluruh penjuru Lampung.

    Dengan keseriusan dan semangat kebersamaan yang kuat, kegiatan ini memberikan sinyal positif bahwa Partai Gelora Lampung siap melangkah lebih jauh. Uji kelayakan dan kepatutan ini bukan sekadar proses seleksi, tetapi momentum untuk menyatukan visi, memperkuat struktur, dan mengokohkan barisan dalam membangun Gelora sebagai kekuatan baru politik Indonesia. (WAPP)

  • Wisuda Perdana An Nur. Bupati Egi Umumkan Perbaikan Ruas Jalan Rp 11 Miliar Wujud Dukungan untuk Pendidikan

    Wisuda Perdana An Nur. Bupati Egi Umumkan Perbaikan Ruas Jalan Rp 11 Miliar Wujud Dukungan untuk Pendidikan

    nataragung.id – Jati Agung – Sebanyak 1.800 mahasiswa Universitas Islam An Nur Lampung resmi diwisuda dalam acara wisuda perdana untuk jenjang Sarjana (S1), Magister (S2), dan Doktor (S3) yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) Universitas Islam An Nur, di Kecamatan Jati Agung, Sabtu (28/6/2025).

    Acara bersejarah ini dihadiri langsung oleh Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, yang memberikan sambutan sekaligus mengumumkan kado istimewa: perbaikan dua ruas jalan strategis senilai Rp11 miliar di wilayah Sinar Rezeki dan Kota Baru sebagai bentuk dukungan terhadap eksistensi kampus tersebut.

    “Saya lihat kampus ini punya kontribusi besar untuk Lampung Selatan. Maka, insyaallah Pemkab akan mengalokasikan perbaikan dua ruas jalan sebagai bentuk dukungan. Semoga bermanfaat, baik untuk warga sekitar maupun mahasiswa Universitas An Nur,” ujar Bupati Egi.

    Bupati Egi juga mengajak seluruh lulusan agar tidak berhenti belajar dan terus memberi manfaat di manapun berada.

    “Jangan pernah berhenti belajar dan jangan pernah berhenti bermimpi. Jadilah insan akademik yang membawa perubahan dan menjadi tokoh kemajuan masyarakat,” pesannya.

    Wisuda perdana ini tidak hanya menjadi penanda akademik, tapi juga simbol kemajuan pendidikan dan investasi masa depan di Lampung Selatan. Mahasiswa yang diwisuda berasal dari berbagai daerah, tidak hanya dari Lampung Selatan saja.

    Menteri Sosial Republik Indonesia, Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul, turut memberikan sambutan secara daring. Dalam pesannya, ia menegaskan pentingnya peran pendidikan dalam menghapus kemiskinan ekstrem di masyarakat.

    “Pendidikan adalah metode yang paling teruji dalam memutus rantai kemiskinan. Kami berharap dapat menjalin kerja sama dengan Universitas Islam An Nur dalam upaya menyejahterakan masyarakat ke depan,” ungkap Gus Ipul.

    Sementara itu, Rektor Universitas Islam An Nur, H. Andi Warisno, mengaku bersyukur dan bangga atas keberhasilan seluruh mahasiswa yang telah menyelesaikan pendidikan mereka. Ia juga menekankan pentingnya mengamalkan ilmu yang telah diperoleh.

    “Saya berpesan, sekecil apapun ilmu yang didapat di sini, amalkanlah. Karena ilmu tanpa diamalkan tidak akan ada gunanya,” tuturnya.

    Dalam kesempatan itu, penghargaan khusus diberikan kepada Prof. K.H. Bukhori, seorang ulama sekaligus akademisi yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik usai menyelesaikan program magister, meski sebelumnya telah menyandang gelar S1, S2, dan S3. (mara)

  • JELAJAH ALAM : Pulau Sebesi, Permata Tersembunyi di Selatan Pulau Sumatera

    JELAJAH ALAM : Pulau Sebesi, Permata Tersembunyi di Selatan Pulau Sumatera

    nataragung.id – Rajabasa – Di tengah riuhnya destinasi wisata bahari di Indonesia, ada satu tempat yang mungkin belum banyak tersorot namun menyimpan sejuta keindahan. Pulau Sebesi, yang terletak di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, adalah sebuah surga tersembunyi di perairan Selat Sunda—masih alami, asri, dan siap membuat siapa pun jatuh cinta pada pandangan pertama.

    Pulau ini bukan sekadar daratan di tengah laut. Sebesi adalah pulau berpenghuni yang paling dekat dengan Gunung Anak Krakatau, ikon vulkanik yang menggugah rasa penasaran para petualang. Namun jangan salah, meski berdampingan dengan gunung berapi aktif, Sebesi justru menawarkan ketenangan, keindahan, dan petualangan yang memikat hati.

    Lautan Bening, Pasir Putih, dan Dunia Bawah Laut yang Memesona

    Begitu menjejakkan kaki di Pulau Sebesi, hamparan laut biru jernih dan pantai berpasir putih langsung menyambut ramah. Di balik permukaannya, terhampar kehidupan bawah laut yang kaya dan memikat—tempat ideal untuk snorkeling dan diving.

    Tak sedikit wisatawan datang untuk menyelami pesonanya, sementara yang lain cukup duduk santai di bawah pohon kelapa, menikmati angin laut dan debur ombak yang menenangkan jiwa. Pulau Sebesi menawarkan keheningan yang mahal harganya di tengah dunia yang serba cepat.

    Hutan Asri dan Puncak Menawan, Tempat Sunrise Terindah

    Tak hanya lautnya, daratan Pulau Sebesi juga punya cerita. Hutan tropis yang masih alami mengundang siapa pun untuk berjalan santai atau trekking ringan. Dari puncak bukitnya, tersaji panorama yang begitu dramatis: matahari terbit dan terbenam di cakrawala dengan latar Gunung Anak Krakatau yang menjulang gagah. Ini bukan sekadar pemandangan, ini adalah momen yang membuat kita merasa kecil sekaligus bersyukur.

    Camping, Kuliner Laut, dan Kehangatan Warga

    Bagi pencinta petualangan, berkemah di tepi pantai Pulau Sebesi adalah pengalaman yang wajib dicoba. Malam yang diterangi bintang, suara ombak sebagai lagu pengantar tidur, dan hangatnya api unggun menciptakan kenangan yang tak terlupakan.

    Warga lokal pun sangat ramah. Mereka tak hanya menyambut dengan senyum, tapi juga menyuguhkan kuliner laut segar hasil tangkapan hari itu. Di sinilah, wisata bukan cuma soal tempat, tapi juga soal rasa dan cerita.

    Pulau Umang-Umang, Si Kecil yang Menyempurnakan Eksotisme

    Tak jauh dari Sebesi, terdapat Pulau Umang-Umang, pulau kecil yang semakin menyempurnakan komposisi keindahan. Biasanya, pulau ini disinggahi dalam paket jelajah pulau—tempat sempurna untuk mengabadikan momen atau sekadar bermain air di pantainya yang masih perawan.

    Bagaimana Cara Menuju ke Sana?

    Petualangan menuju Pulau Sebesi dimulai dari Pelabuhan Canti di Rajabasa, Lampung Selatan. Dari sini, kapal motor tradisional siap mengantar dalam perjalanan laut selama 1,5 hingga 2 jam. Waktu tempuh bisa bervariasi tergantung cuaca dan gelombang.

    Untuk kenyamanan ekstra, tersedia juga paket wisata lengkap dari berbagai agen lokal, yang mencakup transportasi, penginapan, makan, dan aktivitas seperti snorkeling hingga tur ke Gunung Anak Krakatau.

    Fasilitas dan Penginapan

    Jangan khawatir soal tempat bermalam. Sebesi sudah memiliki homestay yang dikelola warga setempat, dan juga cottage milik Pemkab Lampung Selatan. Meski tidak mewah, keramahan tuan rumah dan suguhan pemandangan alamnya menjadikan pengalaman menginap begitu berkesan.

    Beberapa homestay bahkan sudah terintegrasi dengan paket wisata, termasuk makanan lokal, perlengkapan snorkeling, dan jasa pemandu.

    Catatan Sebelum Berangkat

    Karena letaknya berdekatan dengan Gunung Anak Krakatau, selalu periksa informasi terkini soal aktivitas vulkanik dan kondisi cuaca sebelum berangkat. Keselamatan adalah prioritas utama.

    Akhiri Rutinitas, Mulai Petualangan

    Jika kamu sedang mencari tempat untuk kabur sejenak dari rutinitas, menenangkan pikiran, atau bahkan mengeksplorasi keindahan alam yang belum banyak dijamah, Pulau Sebesi adalah jawabannya. Masukkan dalam daftar liburanmu—dan biarkan ia memikatmu dengan segala pesonanya. (SMh)

  • Dapat Program Bedah Rumah Dari Egi-Syaiful, Sri Samsiyah Menangis Haru

    Dapat Program Bedah Rumah Dari Egi-Syaiful, Sri Samsiyah Menangis Haru

    nataragung.id – Merbau Mataram – Air mata haru tak terbendung di wajah Sri Samsiyah (44), warga Dusun Girijaya I, Desa Triharjo, Kecamatan Merbau Mataram. Rumahnya yang dulu nyaris roboh kini akan diperbaiki menjadi hunian yang layak, berkat bantuan program Bedah Rumah dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan.

    Pada Jumat (27/6/2025), Sri menerima kunjungan langsung dari Wakil Bupati Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, yang datang mewakili Bupati Radityo Egi Pratama. Dalam suasana penuh haru, Sri mengucapkan terima kasih dengan mata berkaca-kaca.

    “Saya nggak menyangka bisa dapat bantuan seperti ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan Pak Bupati dan Pak Wakil,” ucapnya lirih.

    Program Bedah Rumah ini merupakan bagian dari komitmen Pemkab Lampung Selatan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama warga kurang mampu yang tinggal di rumah tak layak huni. Kegiatan ini tak hanya memberikan tempat tinggal yang aman dan sehat, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi masyarakat kecil.

    Wakil Bupati Syaiful Anwar menyampaikan bahwa bantuan ini adalah bentuk kepedulian nyata pemerintah terhadap masyarakat.

    “Ini bukan sekadar program pembangunan fisik. Ini tentang menyentuh kehidupan mereka yang benar-benar membutuhkan,” tegasnya.

    Wakil Bupati Syaiful Anwar juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk memperluas jangkauan bantuan ke depannya.

    “Kami ingin program ini berlanjut. Dan tentu saja, keberhasilannya membutuhkan sinergi semua pihak, perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga warga,” imbuh Syaiful.

    Kehadiran Wakil Bupati Syaiful Anwar itu disambut hangat oleh warga sekitar. Mereka turut mendoakan agar program-program pro-rakyat terus berlanjut dan memberikan dampak nyata seperti yang dirasakan Sri dan keluarganya. (mara)

  • Siap Bersinergi Jaga Budaya dan Lindungi Perempuan, PKK Lampung Selatan Gandeng Mighul Lampung

    Siap Bersinergi Jaga Budaya dan Lindungi Perempuan, PKK Lampung Selatan Gandeng Mighul Lampung

    nataragung.id – Kalianda – Wakil Ketua TP PKK Kabupaten Lampung Selatan, Reni Apriani Syaiful Anwar, secara resmi menyatakan kesiapan membentuk kepengurusan Mighrul Lappung Bersatu di wilayahnya. Hal ini disampaikan dalam audiensi bersama Dewan Pengurus Pusat (DPP) Mighrul, yang digelar di Rumah Dinas Wakil Bupati, Jumat (27/6/2025).

    Langkah ini menandai sinergi awal antara TP PKK Lampung Selatan dan Mighrul Lappung Bersatu dalam menjaga warisan budaya Lampung serta memperkuat edukasi hukum bagi perempuan. Sebagai bentuk dukungan konkret, Reni bahkan langsung membentuk struktur kepengurusan Mighrul Lampung Selatan dalam pertemuan tersebut.

    “Kami berharap Mighrul dapat memberikan kontribusi positif dalam penguatan nilai-nilai budaya dan perlindungan perempuan di daerah ini,” ujar Reni.

    Ketidak hadiran Ketua TP PKK Lampung Selatan, Zita Anjani, yang sejatinya dijadwalkan hadir, turut disampaikan dalam pertemuan. Reni Apriani menyampaikan permohonan maaf sekaligus salam dari Zita kepada seluruh peserta audiensi.

    Sementara itu, Ketua Umum DPP Mighrul Lappung Bersatu, Dwita Ria Gunadi, menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari TP PKK Lampung Selatan dan memperkenalkan visi Mighrul yang telah berjalan selama dua tahun terakhir: mempersatukan budaya Lampung, baik dari sisi adat Pepadun maupun Pesisir.

    “Lampung Selatan termasuk wilayah budaya Pesisir. Maka dari itu, kami ingin mengajak daerah ini bergabung dalam gerakan pelestarian dan pemersatu budaya Lampung,” ujar Dwita.

    Dalam kesempatan itu, Dwita juga menyinggung kegiatan terbaru Mighrul, yaitu seminar bertajuk “Perlindungan Perempuan: Bercerita dan Bersuara.” Seminar tersebut bertujuan mengedukasi kaum perempuan mengenai hak-hak hukum yang melindungi mereka.

    “Kami tidak mengajarkan perempuan untuk melawan, tapi membekali mereka dengan pemahaman hukum agar bisa melindungi diri secara tepat,” jelasnya.

    Dwita menambahkan, sebelum Lampung Selatan, Mighrul telah menggelar audiensi di sejumlah kabupaten/kota seperti Way Kanan, Metro, Tulang Bawang, dan Tulang Bawang Barat. Agenda audiensi direncanakan akan berlanjut ke empat kabupaten lainnya Juli mendatang. (mara)

  • Wabup Syaiful Resmikan Jembatan Way Batu Ampar Desa Triharjo

    Wabup Syaiful Resmikan Jembatan Way Batu Ampar Desa Triharjo

    nataragung.id – Merbau Mataram – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Selatan meresmikan Jembatan Way Batu Ampar yang terletak di Desa Triharjo, Kecamatan Merbau Mataram, Jumat (27/6/2025).

    Peresmian dilakukan oleh Wakil Bupati (Wabup) Lampung Selatan, M. Syaiful Anwar, mewakili Bupati Radityo Egi Pratama.

    Jembatan ini menjadi solusi bagi warga yang selama ini kesulitan mengakses wilayah lain akibat keterbatasan infrastruktur. Kehadirannya diharapkan memperlancar mobilitas masyarakat, termasuk untuk kegiatan ekonomi, pendidikan, dan ibadah.

    “Selain memudahkan akses ke desa-desa lain, jembatan ini akan menunjang aktivitas harian masyarakat, dan mudah-mudahan turut meningkatkan perekonomian lokal,” kata Syaiful.

    Dalam sambutannya, Wabup Syaiful juga menyampaikan pesan Bupati Lampung Selatan bahwa pembangunan infrastruktur seperti ini harus dirasakan langsung oleh masyarakat.

    “Pak Bupati berpesan, tidak boleh ada wilayah yang tertinggal hanya karena terputus akses jalan. Pemerataan pembangunan adalah prioritas kami,” ujarnya.

    Sebelum jembatan ini berdiri, wilayah Way Batu Ampar sering terkendala mobilitas, terutama saat musim hujan. Kini, warga dapat melintasi area tersebut dengan lebih cepat, aman, dan nyaman. (mara)

  • MUTIARA PAGI : Sabar dan Keberuntungan

    MUTIARA PAGI : Sabar dan Keberuntungan

    nataragung.id – NATAR – Ada kaitan yang sangat erat antara sabar dan Keberuntungan. Mereka yang beruntung adalah mereka yang paling kuat dan lama bertahan. Dulu ada pepatah arab yang berbunyi

    من صبر ظفر

    Man shobaro zhofiro

    “Siapa yang bersabar, akan beruntung.”

    ➡️ Peribahasa ini menekankan pentingnya kesabaran dalam mencapai tujuan atau keberhasilan.

    ➡️ Orang yang bersabar dan tidak mudah menyerah akan dapat mencapai apa yang diinginkan dan mendapatkan keberuntungan.

    ➡️ Makna dari peribahasa ini adalah bahwa kesabaran adalah kunci untuk mencapai keberhasilan dan kebahagiaan.

    ➡️ Kita harus memiliki kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan, sehingga kita dapat mencapai tujuan kita.

    ➡️ Peribahasa ini juga mengajak kita untuk tidak tergesa-gesa dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi kesulitan.

    ➡️ Dengan kesabaran, kita dapat meningkatkan kemampuan dan potensi diri untuk mencapai keberhasilan. (03)
    WaAllahu A’lam

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.