Bulan: Juni 2025

  • Tahun Baru, Saatnya Bermuhasabah. (Menyongsong Tahun Baru 1447 Hijriyah). Oleh : Gunawan Handoko *)

    Tahun Baru, Saatnya Bermuhasabah. (Menyongsong Tahun Baru 1447 Hijriyah). Oleh : Gunawan Handoko *)

    nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Umat Islam penduduk bumi ini akan memasuki tahun baru 1447 Hijjriah, bertepatan hari Jumat Kliwon, 27 Juni 2025. Sebagian masyarakat muslim – khususnya pengurus masjid dan mushola – mengadakan aneka kegiatan guna menyambut datangnya tahun baru tersebut. Ada yang menggelar kegiatan rekreatif dan kreatif yang bernilai edukatif bagi anak dan remaja, namun banyak juga yang hanya sekedar mengadakan kegiatan rutin tahunan seperti pengajian dan do’a bersama dengan mengundang penceramah, untuk sekedar menggugurkan tradisi tahunan tersebut. Semua sah-sah saja, yang penting ada kegiatan dalam menyambut pergantian tahun. Maka tidak perlu sibuk mempersoalkan, mengapa kebanyakan umat Islam lebih tertarik untuk merayakan tahun baru Masehi ketimbang tahun baru Hijjriah, bahkan tidak sedikit yang menggelar panggung-panggung hiburan dan pesta kembang api untuk menambah gegap gempitanya malam tahun baru Masehi tersebut. Sekali lagi, semua sah-sah saja, sepanjang tidak keluar dari koridor syariat agama yang suci.

    Seperti yang diyakini oleh muslim, bahwa Islam adalah agama yang syumul, artinya mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia, baik itu kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat hingga berbangsa dan bernegara. Berbagai permasalahan sosial, ekonomi, politik, hukum, keamanan, lingkungan, pendidikan hingga kebudayaan, semua tercakup didalamnya. Maka tidak perlu ada yang bertanya tentang apa yang baru dengan datangnya tahun baru, karena sama sekali tidak ada yang baru. Semua tetap seperti biasa, matahari akan terbit dari Timur di pagi hari dan tenggelam di ufuk Barat pada sore hari. Hanya dalam legenda Sang Kuriang dan Roro Jonggrang lah matahari terbit sebelum waktunya, karena mendengar suara berisik para perempuan yang sedang menumbuk padi, sehingga sang matahari mengira bahwa hari sudah pagi. Maka sesungguhnya bukan perayaan tahun barunya yang penting, tetapi bagaimana setiap manusia mulai menata ulang sikap mentalnya untuk memasuki tahun baru. Maka seyogyanya kita melakukan sujud syukur ketika memasuki pergantian tahun, duduk dalam keheningan malam untuk melihat dengan jernih, melakukan muhasabah atau evaluasi diri seraya mengharap bimbingan Allah Swt dalam memasuki kehidupan tahun depan.

    Disadari bahwa hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Allah Swt. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah).

    Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah SAW., bahwa beliau berkata, “Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah Swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata.” (Hadits ini adalah hadits hasan).

    Hadits di atas dibuka Rasulullah SAW dengan sabdanya, “Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.” Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.

    Rasulullah SAW mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan. Maka seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal dan abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, yakni kebahagian kehidupan ukhrawi.

    Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah SAW. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah SAW. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan kalimat “dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.” Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah SAW. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.

    Ada hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah SAW. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri. Sementara, kebalikannya adalah tentang kegagalan yang disebut oleh Rasulullah SAW. dengan ‘orang yang lemah’ yang memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih melakukan muhasabah atas perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan. Maka salah satu aspek penting dari tahun baru Hijriah ini adalah refleksi diri, bukan hanya mengevaluasi diri, tapi juga berkomitmen untuk memperbaiki kesalahan dan menetapkan tujuan baru yang positif, baik dalam aspek spiritual, sosial maupun pribadi. Dan yang tidak kalah penting adalah membangun solidaritas sosial untuk lebih peduli terhadap sesama.

    Dalam semangat kesetiakawanan, umat muslim diharapkan dapat saling mendukung dan memperkuat satu sama lain. Tahun baru berarti memiliki cara pandang yang baru dan suci dalam upaya dan usaha memperoleh sesuatu yang baru. Tahun baru juga berarti mengasah kompetensi diri dengan metode yang baru untuk meraih jenjang karier yang baru.
    Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan bulan ini. Kami berlindung kepada-Mu dari buruknya takdir dan buruknya mahsyar, Aamiin.

    *) Penulis adalah : Jama’ah masjid Al-Mu’awwanah Gedong Meneng Rajabasa, Kota Bandar Lampung.

  • Adat dalam Penyelesaian Perkawinan dan Warisan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    Adat dalam Penyelesaian Perkawinan dan Warisan. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya dan adat istiadat, termasuk dalam hal penyelesaian masalah sosial seperti perkawinan dan warisan. Salah satu suku yang memiliki tradisi yang kuat dan sarat makna adalah masyarakat adat Lampung.
    Dengan berbagai sub-etnis seperti Saibatin dan Pepadun, masyarakat Lampung menjaga adat sebagai pedoman dalam menjalin hubungan sosial, mengelola konflik, hingga menata kehidupan spiritual.

    Judul “Adat dalam Penyelesaian Perkawinan dan Warisan” menjadi sangat relevan untuk dikaji pada masa kini karena Indonesia sedang menghadapi tantangan modernisasi yang secara perlahan menggeser peran adat dalam kehidupan masyarakat.
    Banyak generasi muda yang tidak lagi memahami makna di balik ritual dan praktik adat, padahal adat mengandung nilai-nilai luhur yang bisa menjadi solusi dalam penyelesaian konflik dan penguatan identitas budaya. Di tengah derasnya arus globalisasi, penting untuk merevitalisasi adat sebagai fondasi sosial dan spiritual yang kuat, khususnya dalam hal-hal fundamental seperti perkawinan dan warisan.

    Dalam masyarakat Lampung, adat bukan hanya tradisi seremonial, melainkan menjadi bagian integral dari sistem sosial. Perkawinan dan warisan adalah dua aspek penting dalam kehidupan yang sangat dipengaruhi oleh adat.

    1. Perkawinan sebagai Perjanjian Sosial dan Spiritualitas
    Perkawinan dalam adat Lampung bukan hanya menyatukan dua individu, tetapi juga dua keluarga besar. Proses ini melibatkan sejumlah tahapan adat seperti betunang (pertunangan), penyampaian sembei (mahar), hingga cakak pepadun (upacara adat bagi mempelai pria yang ingin masuk dalam struktur adat Pepadun). Setiap tahapan memiliki simbolisme yang dalam, menandai ikatan sosial dan spiritual antara dua keluarga.

    Nilai yang terkandung dalam adat perkawinan ini antara lain adalah:
    * Gotong royong dan musyawarah, karena setiap keputusan diambil secara kolektif melalui rapat keluarga adat.
    * Tanggung jawab sosial, sebab perkawinan dianggap sebagai bentuk tanggung jawab antargenerasi untuk menjaga kesinambungan nilai budaya.
    * Kesucian hubungan yang ditegaskan melalui doa dan upacara adat sebagai permohonan restu leluhur.

    2. Warisan sebagai Penguatan Identitas dan Tanggung Jawab
    Pembagian warisan dalam masyarakat adat Lampung juga tidak semata-mata berdasarkan hukum positif, tetapi mengacu pada hukum adat. Harta warisan sering kali dibedakan menjadi dua: puseko (warisan budaya atau simbolik seperti rumah adat, gelar, dan tanah adat) dan warisan materi lainnya. Puseko memiliki nilai sakral dan tidak bisa dibagi sembarangan, karena terkait dengan kelanjutan eksistensi keluarga dalam komunitas adat.
    Dalam proses pembagian warisan, prinsip keadilan adat sangat ditekankan. Biasanya, warisan diberikan kepada anak laki-laki yang tinggal di rumah adat dan melanjutkan garis keturunan. Namun, ada variasi berdasarkan sub-kelompok adat dan situasi keluarga. Nilai-nilai yang ditekankan meliputi:
    * Keberlanjutan budaya, di mana warisan bukan hanya soal materi, tetapi juga kelangsungan identitas.
    * Keseimbangan hak dan kewajiban, sebab penerima warisan juga memiliki kewajiban terhadap keluarga dan komunitas.
    * Musyawarah mufakat, dalam menyelesaikan sengketa atau ketidaksepakatan.

    Sayangnya, dalam dekade terakhir, keterlibatan generasi muda dalam proses adat mulai menurun. Banyak di antara mereka yang lebih memilih tata cara perkawinan modern, yang dianggap lebih praktis dan tidak memerlukan biaya besar atau waktu yang lama.
    Demikian pula dalam pembagian warisan, hukum waris negara sering dianggap lebih pasti dan adil dibandingkan dengan hukum adat yang kompleks dan kontekstual.
    Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran nilai dan kekosongan pemahaman terhadap filosofi di balik adat. Generasi muda banyak yang tidak lagi diajarkan tentang nilai-nilai pi’il pesenggiri (harga diri), sakai sembayan (solidaritas), dan nemui nyimah (keramahtamahan), yang sebetulnya merupakan inti dari praktik adat Lampung. Kurangnya literasi budaya menjadi salah satu faktor utama terjadinya disorientasi nilai tersebut.

    Beberapa masalah aktual yang muncul akibat mulai ditinggalkannya adat dalam hal perkawinan dan warisan di antaranya:
    * Konflik antar anggota keluarga, terutama dalam pembagian warisan yang tidak mempertimbangkan konteks adat, sehingga menimbulkan ketidakpuasan.
    * Perkawinan tanpa restu keluarga besar, karena tidak melalui jalur adat, berujung pada terputusnya relasi kekeluargaan.
    * Kehilangan identitas kultural, terutama di kalangan masyarakat urban Lampung yang terasing dari akar budayanya.
    * Kesulitan dalam pelestarian aset budaya, karena rumah adat, tanah ulayat, dan gelar adat tidak diwariskan dengan semestinya.

    Agar nilai-nilai adat Lampung tetap lestari dan relevan dalam konteks kekinian, beberapa strategi dapat diterapkan, antara lain:
    1. Revitalisasi Pendidikan Adat, Perlu ada integrasi muatan lokal dalam kurikulum sekolah, terutama di Lampung, untuk mengajarkan nilai-nilai adat, termasuk sistem perkawinan dan warisan. Materi ini tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga membangun kesadaran budaya.
    2. Digitalisasi Warisan Budaya, Generasi muda sangat dekat dengan teknologi. Oleh karena itu, perlu dikembangkan platform digital seperti aplikasi atau media sosial yang menampilkan kisah adat Lampung secara menarik, termasuk video dokumenter tentang proses adat perkawinan dan warisan.
    3. Pemberdayaan Tokoh Adat Muda, Tokoh adat tidak selalu harus dari generasi tua. Dengan melibatkan pemuda dalam lembaga adat, akan terjadi transfer pengetahuan secara alami dan regeneratif. Pemuda juga bisa menjadi agen perubahan dalam memperkenalkan adat kepada komunitas urban.
    4. Kolaborasi Adat dan Hukum Positif, Penting untuk membangun jembatan antara hukum adat dan hukum negara, khususnya dalam hal warisan. Pengakuan terhadap hukum adat dalam ranah hukum nasional dapat memperkuat legitimasi dan pelaksanaan adat di tingkat lokal.

    Adat istiadat masyarakat Lampung dalam hal perkawinan dan warisan mengandung nilai sosial, budaya, dan spiritual yang sangat mendalam. Dalam perkawinan, adat menekankan musyawarah, tanggung jawab sosial, dan ikatan spiritual. Dalam warisan, adat menjaga kesinambungan identitas budaya dan memperkuat nilai-nilai keadilan komunal.

    Namun, modernisasi dan kurangnya pemahaman generasi muda terhadap filosofi adat telah menggerus eksistensi nilai-nilai tersebut. Oleh karena itu, perlu strategi pelestarian yang mencakup pendidikan budaya, digitalisasi, pemberdayaan tokoh muda, dan harmonisasi dengan hukum negara.

    Dengan demikian, adat bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi bisa menjadi pijakan masa depan yang lebih berakar pada nilai-nilai luhur dan kearifan lokal.

    Daftar Pustaka
    * Andi Desfiandi, dkk. (2020). Identitas dan Budaya Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Bandar Lampung Press.
    * Kartomi, Margaret. (1998). The Music-Culture of South Sumatra: The Use of Adat in Traditional Ceremonies. Melbourne: Monash University Press.
    * Puslitbang Kebudayaan Kemdikbud. (2019). Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Adat Istiadat dan Upacara Adat. Jakarta: Balitbangbud.
    * Suwardi Endraswara. (2013). Etnografi Budaya Lampung: Kearifan Lokal dalam Perubahan Sosial. Yogyakarta: Narasi.
    * UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan Republik Indonesia. ***

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • MUTIARA PAGI : Coba dan Perhatikan

    MUTIARA PAGI : Coba dan Perhatikan

    nataragung.id – NATAR – Diantara cara mendapatkan pengetahuan adalah dengan mencoba dan memperhatikan, sebab teori saja tidak cukup sampai pengetahuan itu dipraktekkan. Pepatah arab mengatakan.

    جرب ولاحظ تكن عارفا

    Jarrib wa lahizh takun arifan

    “Cobalah dan perhatikan, maka kamu akan tahu.”

    ➡️ Kalimat ini menekankan pentingnya mencoba dan memperhatikan sesuatu untuk memahami dan mengetahuinya secara langsung.

    ➡️ Dengan mencoba dan memperhatikan, kita dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan yang lebih baik.

    ➡️ Makna dari kalimat ini adalah bahwa pengalaman dan pengetahuan dapat diperoleh melalui proses mencoba dan memperhatikan.

    ➡️ Kita tidak hanya perlu membaca atau mendengar tentang sesuatu, tetapi juga perlu mencobanya sendiri untuk memahami dan mengetahuinya secara lebih baik.

    ➡️ Kalimat ini juga mengajak kita untuk menjadi orang yang ingin tahu dan selalu berusaha untuk mencoba dan memahami hal-hal baru.

    ➡️ Dengan demikian, kita dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik, serta menjadi orang yang lebih bijak dan berpengetahuan. (02)
    Wa Allahu A’lam.

    _____
    📚 H. Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

    *) Penulis adalah Anggota Majelis Syura DDII Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

  • Jadi Contoh Nasional. Lampung Selatan Luncurkan Gerakan Cegah Stunting Lewat GENTING

    Jadi Contoh Nasional. Lampung Selatan Luncurkan Gerakan Cegah Stunting Lewat GENTING

    nataragung.id – Natar – Kabupaten Lampung Selatan mendapat kehormatan menjadi tuan rumah Kirab Bangga Kencana Tingkat Sumatera, dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32 Tahun 2025.

    Acara berlangsung meriah di Desa Branti Raya, Kecamatan Natar, Rabu (25/6/2025), dan turut dirangkai dengan peluncuran Gerakan Nasional Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).

    Mewakili Bupati Lampung Selatan, Wakil Bupati (Wabup) M. Syaiful Anwar, dalam sambutannya menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung penurunan angka stunting yang masih menjadi tantangan nasional.

    Ia juga menyatakan kesiapan Kabupaten Lampung Selatan untuk menjadi pelopor dalam mewujudkan keluarga sehat dan generasi yang berkualitas.

    “Kirab Bangga Kencana bukan sekadar seremoni, tapi gerakan sosial yang mengingatkan kita bahwa keluarga adalah fondasi utama pembangunan bangsa,” ujar Syaiful.

    Lebih lanjut, Wabup Syaiful menyampaikan, bahwa peluncuran GENTING merupakan langkah nyata dalam mendukung program nasional percepatan penurunan stunting, sekaligus bentuk kepedulian Lampung Selatan terhadap generasi masa depan.

    “Melalui program ini, kami mengajak semua pihak, khususnya para orang tua, untuk aktif terlibat. Anak-anak harus mendapatkan gizi yang memadai, edukasi pengasuhan harus merata, dan dukungan sosial serta ekonomi harus terus diperkuat,” jelasnya.

    Peluncuran GENTING di Lampung Selatan diharapkan menjadi penggerak semangat bersama dalam membangun keluarga yang sehat, sejahtera, dan tangguh, demi Indonesia yang lebih baik. (mara)

  • Pemprov Lampung Apresiasi Peran BI dalam Jaga Inflasi, Dukung UMKM dan Digitalisasi Ekonomi

    Pemprov Lampung Apresiasi Peran BI dalam Jaga Inflasi, Dukung UMKM dan Digitalisasi Ekonomi

    nataragung.id – BANDARLAMPUNG – Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengukuhkan Bimo Epyanto sebagai Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung menggantikan Junanto Herdiawan yang mendapat jabatan baru sebagai Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI.

    Pengukuhan berlangsung di Kantor Perwakilan BI Lampung, Bandarlampung, Rabu (25/6/2025) dan dihadiri Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela.

    Wagub Jihan menyampaikan Pemerintah Provinsi Lampung mengapresiasi dedikasi dan kontribusi Junanto Herdiawan selama menjabat sebagai Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung. Dan mengucapkan selamat datang dan selamat bertugas kepada Bimo Epyanto.

    “Kepada Pak Bimo, tidak ada waktu untuk berleha-leha. Berikan yang terbaik untuk Lampung. Dan untuk Pak Ijun, saya ucapkan selamat bertugas dan terus berkarya dimanapun berada,” ujar Wagub Jihan Nurlela.

    Bimo Epyanto sebelumnya menjabat sebagai Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Selatan.

    Wagub Jihan juga mengapresiasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Provinsi Lampung atas kontribusi nyata dan sinergi yang terus terjalin dalam mendukung pembangunan Lampung.

    Sebagai mitra strategis pemerintah daerah, jelas Wagub Jihan, kehadiran Bank Indonesia tidak hanya terbatas pada tugas pengendalian moneter, tetapi juga telah menjadi motor penggerak dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mempercepat pertumbuhan yang inklusif di daerah.

    “Salah satu peran penting yang kami rasakan secara langsung adalah dukungan BI dalam penyediaan data dan analisis ekonomi yang komprehensif,”

    “Informasi yang disampaikan melalui laporan perekonomian regional, outlook inflasi, hingga kajian komoditas unggulan menjadi dasar penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran,” ujar Wagub Jihan.

    Melalui sinergi dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Bank Indonesia juga aktif memberikan asistensi teknis, analisis, dan strategi pengendalian harga, terutama untuk komoditas pangan strategis.

    “Upaya ini sangat membantu kami, pemerintah daerah, dalam menjaga daya beli masyarakat dan kestabilan ekonomi di tengah berbagai tantangan global maupun domestik,” jelasnya.

    Tak hanya itu, kami juga mengapresiasi peran BI khususnya di wilayah Lampung dalam mendorong digitalisasi ekonomi, mendukung UMKM naik kelas, serta memperluas akses keuangan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah. Kehadiran QRIS dan edukasi digital keuangan hingga ke pelosok desa adalah bukti nyata komitmen BI dalam mewujudkan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

    Di sisi lain, kolaborasi dalam pengembangan ekonomi syariah, juga menunjukkan bagaimana BI berperan dalam membangun ekosistem ekonomi daerah.

    “Kami percaya, sinergi antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah akan semakin memperkuat pondasi ekonomi daerah, sekaligus mendorong kemandirian dan daya saing Lampung di tingkat nasional maupun global,” tutup Wagub Jihan.

    Pada kesempatan yang sama, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti turut mengpresiasi seluruh jajaran pemerintah daerah se-Provinsi Lampung atas dukungan yang telah diberikan terhadap pelaksanaan tugas Bank Indonesia di daerah.

    Destry juga menyampaikan bahwa Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Lampung memiliki peranan krusial dalam mendorong pembangunan dan pertumbuhan ekonomi daerah.

    Dalam menghadapi situasi global saat ini sekaligus dalam mendorong pembangunan di Lampung, Destry mendorong Bank Indonesia Lampung untuk mengoptimalkan seluruh informasi dan analisis yang tersedia di pusat. “Pakai data analisis yang ada di pusat, tinggal nanti diturunkan ke daerah masing-masing,” ujarnya.
    Ia mengungkapkan bahwa BI memiliki departemen regional yang bertugas menyesuaikan gambaran pusat dengan kondisi masing-masing daerah, sehingga kebijakan yang diterapkan lebih relevan dan efektif.

    Destry juga menuturkan bahwa Bank Indonesia akan terus berupaya menjalankan peran secara optimal, tidak hanya menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi juga secara aktif mendorong pembangunan ekonomi inklusif di Lampung. (SMh)

  • Pemprov Lampung Apresiasi Bank Indonesia Sebagai Mitra Strategis, Dorong Ekonomi Inklusif dan Stabil di Lampung

    Pemprov Lampung Apresiasi Bank Indonesia Sebagai Mitra Strategis, Dorong Ekonomi Inklusif dan Stabil di Lampung

    nataragung.id, Bandar Lampung — Bank Indonesia merupakan mitra strategis pemerintah daerah, kehadiran Bank Indonesia tidak hanya terbatas pada tugas pengendalian moneter, tetapi juga telah menjadi motor penggerak dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mempercepat pertumbuhan yang inklusif di daerah.

    Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela saat menghadiri pengukuhan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung di Aula Kantor Bank Indonesia Perwakilan Lampung, Rabu (24/06/2025).

    “Saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia di Provinsi Lampung atas kontribusi nyata dan sinergi yang terus terjalin dalam mendukung pembangunan daerah,” ucap Wagub.

    Menurut Wagub Jihan, salah satu peran penting yang dirasakan secara langsung adalah dukungan BI dalam penyediaan data dan analisis ekonomi yang komprehensif. Informasi yang disampaikan melalui laporan perekonomian regional, outlook inflasi, hingga kajian komoditas unggulan menjadi dasar penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan yang tepat sasaran.

    Lebih jauh, melalui sinergi dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Bank Indonesia juga aktif memberikan asistensi teknis, analisis, dan strategi pengendalian harga, terutama untuk komoditas pangan strategis.

    “Upaya ini sangat membantu kami, pemerintah daerah, dalam menjaga daya beli masyarakat dan kestabilan ekonomi di tengah berbagai tantangan global maupun domestik,” ungkap Wagub.

    Tak hanya itu, Wagub Jihan juga mengapresiasi peran BI dalam mendorong digitalisasi ekonomi, mendukung UMKM naik kelas, serta memperluas akses keuangan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Kehadiran QRIS dan edukasi digital keuangan hingga ke pelosok desa adalah bukti nyata komitmen BI dalam mewujudkan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.

    Di sisi lain, kolaborasi dalam pengembangan ekonomi syariah, termasuk penguatan halal value chain dan pemberdayaan ekonomi pesantren, juga menunjukkan bagaimana BI berperan dalam membangun ekosistem ekonomi daerah yang berlandaskan nilai-nilai luhur dan spiritualitas.

    “Jika melihat Sumatera, baju muslimnya (acuannya) itu biasanya ada di Aceh, namun pada kegiatan Festival Ekonomi Syariah Sumatera Tahun 2025, Lampung sebagai perwakilan Sumatera dipercaya sebagai tuan rumah, semoga ini menjadi stimulus yang baik terhadap ekonomi syariah kita,” ucap Wagub.

    Diakhir sambutannya Wakil Gubernur mengucapkan selamat kepada Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung Junanto Herdiawan yang telah dilantik dan kini dipercaya mengemban tugas baru sebagai Direktur Eksekutif Dept Komunikasi BI.

    Tidak lupa, Wakil Gubernur juga mengucapkan selamat kepada Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung yang baru Bimo Epyanto, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan.

    “Saya ucapkan selamat datang kepada Pak Bimo, mungkin tidak ada waktu untuk beradaptasi, tapi langsung bekerja dan memberikan energi terbaik untuk Provinsi Lampung, sedangkan untuk Pak Junanto selamat atas jabatan barunya semoga tetap menorehkan prestasi yang baik,” pungkas Wagub.

    Sementara itu Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bahwa suksesi kepemimpinan di Bank Indonesia adalah hal yang biasa, hal ini dilakukan agar para regulator BI dapat menguasai tidak hanya Booksmart tapi juga Street smart, hal inilah yang kemudian mempengaruhi keberhasilan dalam pengambilan kebijakan, terutama dalam implementasi TPID dan TP2DD.

    Menurut Destry Damayanti, Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung sebelumnya yakni Junanto Herdiawan telah memberikan legacy yang baik terhadap pembangunan di Provinsi Lampung, oleh karenanya dirinya berharap agar Kepala Perwakilan BI Provinsi Lampung yang baru dapat melanjutkan legacy tersebut.

    “Kami berharap Pk Bimo bisa terus proaktive, visioning, cari peluang, dan cepat melakukan penyesuaian-penyesuaian karena dalam kondisi sekarang ini tidak ada yang pasti kecuali perubahan atau ketidak pastian itu sendiri,” ucapnya.

    “Kami juga tentunya berharap Pak Bimo untuk dapat mengoptimalkan seluruh informasi, tadi Bu Wagub katanya kami butuh masukan, analisa dan sebagainya, gunakan analisa yang ada dipusat, tinggal nanti disesuaikan dengan kondisi di daerah, dan tentunya kita tidak bisa bekerja sendirian, kita harus bekerja sama, kita harus KIS antar satu dengan yang lain, KIS itu adalah Konsistensi, Inovasi, Sinergi,” tutupnya.

    Editor  : Muhammad Arya

  • UPTD Puskesmas Way Urang, Lolos Seleksi Administrasi Zona Integritas Tahun 2025

    UPTD Puskesmas Way Urang, Lolos Seleksi Administrasi Zona Integritas Tahun 2025

    nataragung.id – Kalianda – Kabar membanggakan datang dari UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) Puskesmas Way Urang, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan yang dinyatakan lolos dalam tahap Seleksi Administrasi Zona Integritas (ZI) Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPANRB).

    Informasi ini diumumkan secara resmi melalui portal portalrb.menpan.go.id dan akun resmi Instagram @kemenpanrb serta @rbkunwas. Hasil seleksi administrasi dapat diakses mulai tanggal 21 Juni 2025.

    Lolosnya UPTD Puskesmas Way Urang pada tahap ini menandai langkah awal yang strategis dalam upaya membangun Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di lingkungan kantor FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) tersebut.

    Hal ini juga sejalan dengan komitmen UPTD Puskesmas Way Urang dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan prima.

    Kepala UPTD Puskesmas Way Urang Yuliana, SST, MKM, menyampaikan apresiasinya kepada seluruh tim Zona Integritas di Puskesmas Way Urang atas kerja keras dan dedikasi dalam menyusun dokumen dan data dukung yang dibutuhkan.

    “Tahap ini menjadi batu loncatan penting untuk membawa Puskesmas Way Urang sebagai role model satuan kerja pelayanan publik bidang kesehatan yang transparan, partisipatif, dan melayani masyarakat secara optimal,” ujarnya dalam keterangan yang diterima nataragung.id, Selasa (24/6/2025).

    UPTD Puskesmas Way Urang akan melanjutkan persiapan menuju tahap evaluasi selanjutnya yang mencakup penilaian teknis lapangan oleh Tim Penilai Nasional.

    Dengan semangat kebersamaan, UPTD Puskesmas Way Urang optimistis dapat meraih predikat Zona Integritas pada tahun ini. (mara)

  • MUTIARA PAGI : Kehidupan Dunia Hanya Sementara

    MUTIARA PAGI : Kehidupan Dunia Hanya Sementara

    nataragung.id – NATAR – Dalam menjalani hidup di dunia fana’ ada baiknya kita perhatikan ungkapan berikut ini :

    من عرف بعد السفر استعد

    _Man arafa bu’das safari ista’adda_

    “Barangsiapa yang menyadari (akan datangnya) perjalanan jauh, maka hendaklah ia bersiap-siap.”
    ______
    🍀 Seseorang yang menyadari bahwa perjalanan jauh (menuju akhirat) akan segera tiba, maka hendaklah ia mempersiapkan diri dengan baik, baik secara spiritual maupun material, agar dapat menghadapi perjalanan tersebut dengan lebih siap dan tenang.

    ☘️ Makna dari kalimat ini adalah bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara, dan kita semua akan menuju perjalanan akhirat yang panjang dan abadi. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri dengan baik, melakukan amal shaleh, dan meningkatkan kualitas spiritual kita agar dapat menghadapi perjalanan akhirat dengan lebih siap dan tenang.

    🌴 Kalimat ini mengajarkan kita untuk tidak terlalu larut dalam kesenangan duniawi dan melupakan akhirat, tetapi untuk selalu ingat akan kehidupan akhirat dan mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadapinya. (01)
    _____
    📚 H.Komiruddin Imron, Lc
    ✒️Shabahul_Khair

  • Saibatin dan Pepadun, Bukan Sekadar Dua Sistem. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    Saibatin dan Pepadun, Bukan Sekadar Dua Sistem. Oleh : Mohammad Medani Bahagianda *)

    nataragung.id – BANDAR LAMPUNG – Adat istiadat merupakan jantung kehidupan budaya masyarakat tradisional. Dalam konteks masyarakat Lampung, dua sistem adat yang paling dikenal dan menjadi landasan struktur sosial serta spiritual mereka adalah Saibatin dan Pepadun.
    Keduanya bukan sekadar sistem warisan leluhur, melainkan dua jalan yang berbeda namun seiring dalam menjaga martabat, kehormatan, dan jati diri etnis Lampung. Walaupun sering dianggap sebagai dua sistem yang berdiri sendiri, keduanya sebenarnya saling melengkapi dalam membentuk karakter masyarakat Lampung yang kokoh terhadap nilai, namun lentur dalam menghadapi perubahan.

    Judul “Saibatin dan Pepadun, Bukan Sekadar Dua Sistem, Tapi Dua Jalan Menjaga Martabat” menjadi sangat relevan hari ini, di tengah realitas sosial yang mulai kehilangan orientasi kultural. Modernisasi dan globalisasi membawa perubahan sosial yang cepat, namun juga menggerus banyak nilai-nilai tradisional, termasuk nilai-nilai adat.

    Dalam situasi seperti ini, memahami dan menghidupkan kembali filosofi Saibatin dan Pepadun menjadi penting. Keduanya menyimpan ajaran tentang bagaimana menjaga kehormatan pribadi, martabat keluarga, dan keharmonisan sosial dengan cara-cara yang teruji oleh waktu.

    Saibatin dan Pepadun bukan hanya struktur adat, melainkan sistem nilai yang hidup dalam keseharian masyarakat Lampung. Masyarakat Saibatin, yang tersebar di wilayah pesisir seperti Lampung Selatan, Kaur, dan Pesawaran, menekankan nilai aristokrasi dan kesetiaan pada garis keturunan.
    Dalam kehidupan sehari-hari, ini terlihat dalam pola komunikasi yang sangat menghargai hierarki, penghormatan terhadap pemimpin adat, dan pentingnya menjaga nama baik keluarga.
    Sementara itu, masyarakat Pepadun yang dominan di pedalaman seperti Lampung Tengah dan Lampung Utara menekankan partisipasi sosial dan pengangkatan gelar melalui mekanisme musyawarah.
    Nilai-nilai seperti musyawarah, mufakat, sakai sambayan (gotong royong), dan nemui nyimah (keramahan menerima tamu) hidup dalam praktik keseharian seperti gotong royong membangun rumah, penyelesaian masalah melalui forum adat, dan keterlibatan aktif dalam ritual-ritual adat seperti nganggung dan begawi.
    Dalam kedua sistem tersebut, prinsip dasar seperti pi’il pesenggiri (menjaga harga diri), juluk-adok (gelar sebagai tanggung jawab sosial), dan penghormatan terhadap leluhur menjadi etika dasar yang membimbing individu untuk hidup bermartabat. Nilai-nilai ini tidak lekang oleh waktu dan masih sangat relevan dalam membangun karakter sosial yang beradab dan menghormati satu sama lain.

    Generasi muda Lampung berada dalam posisi yang dilematis. Di satu sisi, mereka tumbuh dalam era digital yang serba cepat dan global. Di sisi lain, mereka adalah penerus tradisi yang sangat kaya. Banyak di antara mereka mulai kehilangan keterhubungan dengan akar budaya karena kurangnya pendidikan budaya lokal dalam sistem formal, serta minimnya representasi adat dalam media populer.
    Namun tidak semua generasi muda bersikap apatis. Terdapat inisiatif-inisiatif dari komunitas pemuda adat yang aktif menghidupkan kembali kesenian tradisional seperti tari Sigeh Pengunten, musik Gambus, dan upacara adat cangget.
    Beberapa organisasi pemuda juga mulai mengadakan pelatihan bahasa Lampung, seminar adat, hingga pengarsipan digital tentang sejarah marga dan sistem gelar adat. Hal ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, generasi muda bisa menjadi motor pelestarian budaya.

    Salah satu masalah yang sangat mencolok adalah marginalisasi fungsi lembaga adat dalam tata kelola masyarakat modern. Peran pemimpin adat semakin tersisih karena tidak terintegrasi secara fungsional dalam sistem pemerintahan. Selain itu, pengambilalihan tanah ulayat tanpa musyawarah adat, masuknya budaya luar yang merusak tatanan nilai, dan komersialisasi gelar adat yang tidak melalui proses adat yang benar menjadi tantangan serius.
    Adat juga sering kali dianggap eksklusif dan tidak relevan dengan kehidupan perkotaan. Di kota-kota besar di Lampung seperti Bandar Lampung dan Metro, nilai-nilai adat semakin tidak dikenal.
    Banyak generasi muda yang bahkan tidak mengetahui marga atau asal-usul keluarganya, apalagi memahami filosofi yang terkandung di dalamnya. Ini menunjukkan adanya jarak antara nilai-nilai adat dan realitas kehidupan urban.

    Pertama, pendidikan budaya lokal harus dijadikan kurikulum wajib di sekolah-sekolah Lampung, tidak hanya sebatas pengenalan bahasa, tetapi juga sistem adat, nilai-nilai sosial, dan sejarah marga. Pendidikan formal harus menjadi sarana pelestarian, bukan pelemahan budaya.

    Kedua, revitalisasi adat harus dilakukan dengan pendekatan inklusif dan adaptif. Lembaga adat perlu bertransformasi menjadi pusat kegiatan sosial yang merangkul generasi muda. Kegiatan adat seperti pertemuan marga, pengangkatan gelar, dan upacara adat bisa dikemas dalam bentuk yang menarik tanpa kehilangan esensinya.

    Ketiga, pemerintah daerah perlu bersinergi dengan tokoh adat dan pemuda untuk menciptakan ekosistem budaya yang dinamis. Dukungan regulasi dan pendanaan harus diberikan untuk kegiatan pelestarian budaya seperti festival adat, pelatihan seni tradisi, dan digitalisasi arsip adat.

    Keempat, media digital harus dimanfaatkan untuk menyebarluaskan narasi-narasi positif tentang adat Saibatin dan Pepadun. Pembuatan konten edukatif dan kreatif di media sosial bisa menjangkau generasi muda dengan lebih efektif daripada pendekatan konvensional.

    Saibatin dan Pepadun adalah dua jalan yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama: menjaga martabat manusia dan harmoni sosial dalam masyarakat Lampung. Keduanya memuat filosofi hidup yang mendalam, bukan hanya aturan adat. Dalam dunia yang terus berubah, pelestarian adat bukan soal nostalgia, tetapi soal mempertahankan akar identitas dan nilai yang membentuk karakter kolektif.
    Generasi muda perlu dilibatkan, bukan hanya sebagai pelanjut, tetapi sebagai inovator yang menjaga adat tetap hidup dan bermakna. Dengan sinergi antara pendidikan, komunitas, dan pemerintah, adat Saibatin dan Pepadun dapat terus menjadi suluh peradaban Lampung di masa depan.

    Daftar Pustaka
    * Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1999). Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
    * Zuhdi, M. (2017). “Transformasi Sosial Adat Lampung di Tengah Modernitas.” Jurnal Masyarakat dan Budaya, 19(2), 133–150.
    * Hidayat, S. (2014). Struktur Sosial dan Identitas Kultural dalam Masyarakat Adat Lampung. Universitas Lampung Press.
    * Wibowo, H. (2019). “Penguatan Adat Lokal dalam Sistem Sosial Modern.” Jurnal Antropologi Indonesia, 40(1), 75–92.
    * Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2021). Data Vitalitas Bahasa Daerah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

    *) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

  • Dilantik Gubernur BEM FISIP UNISAB, Luthfiyya Akan Membesarkan Universitas

    Dilantik Gubernur BEM FISIP UNISAB, Luthfiyya Akan Membesarkan Universitas

    nataragung.id, Bandar Lampung – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai (UNISAB) menggelar pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP periode masa bhakti 2025-2026.

    Acara yang dilaksanakan di ruang 1 dan 2 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik berlangsung dengan khidmat ini menandai dimulainya kepemimpinan baru yang diharapkan dapat mampu membawa kemajuan bagi Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai khususnya FISIP UNISAB.

    Gubernur BEM FISIP UNISAB terpilih, Luthfiyya Shoubuha Zarfa Cendanie menyampaikan dalam sambutannya, dirinya akan berupaya untuk lebih fokus pada peningkatan kualitas Mahasiswa maupun Mahasiswi, artinya saya akan lebih meningkatkan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal minat dan bakat, serta lebih memperkuat sinergi antar lembaga kemahasiswaan khususnya di UNISAB,” katanya.

    Dikatakan Pia sapaan akrabnya, Ia berjanji akan menjalankan amanah yang telah dipercayakan kepadanya untuk lebih tanggung jawab dan transparansi nantinya.
    “Tentunya hal ini tidak terlepas peran serta dari seluruh rekan-rekan pengurus yang telah dilantik hari ini, tanpa kerjasama dan kekompakan kita tidak mungkin dapat memajukan Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai yang kita cintai ini,” ujarnya, Selasa (24/06/2025).

    Lebih lanjut dikatakannya amanah yang diembannya tersebut sebagai wujud bentuk untuk memajukan nama Universitas Saburai agar dapat bersaing para Mahasiswa maupun Mahasiswi nya dengan Universitas paling tidak yang berada di Provinsi Lampung, baik dari segi SDM maupun dalam segi apapun,” tuturnya.

    Diakhir sambutannya Guberbur BEM FISIP tersebut juga akan berusaha penuh membawa program-program yang telah diagendakan Rektor UNISAB untuk menuju terobosan yang lebih baik lagi, sehingga nantinya dapat menghasilkan SDM yang berkualitas siap pakai dan benar-benar  diperlukan pada saat nantinya,” tutup Luthfiyya.

    Sementara ditempat terpisah mewakili Rektor UNISAB
    Dr. Sodirin, SE., MM.,
    Wakil Rektor III Kemahasiswaan
    Dr. Raja Agung Kesuma ARC, SH., MH., mengatakan, perlunya dilantik regenerasi organisasi kemahasiswaan BEM salah satunya FISIP agar benar-benar dapat berjalan dan memajukan nama Universitas nantinya,” ujar Raja Agung.

    Ia mengucapkan selamat kepada Gubernur BEM FISIP yang telah dilantik hari ini dan mudah-mudahan amanah dapat mempersatukan serta bekerjasama bersama Presiden BEM Fakultas-Fakultas lainnya dengan satu tujuan membawa dan membesarkan nama Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai,” harap Warek III.

    Diakhir acara Dekan FISIP UNISAB tak kalah memberikan ucapan selamat dan berharap agar pemimpin yang baru ini dapat menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya dapat berkolaborasi bersama civitas akademika serta dapat membawa perubahan positif bagi FISIP UNISAB,” tegas Eka Ubaya Taruna Rauf.

    Acara pelantikan tersebut turut dihadiri juga oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Eka Ubaya Taruna Rauf, S.Sos, M.Si beserta jajarannya dan para Dosen Pembina masing-masing, juga para Alumni serta seluruh Mahasiswa undangan FISIP UNSAB.
    Pelantikan ditutup dengan sesi foto bersama dan ramah tamah membawa suasana penuh semangat dan harapan optimis mewarnai acara tersebut, menandai awal kepemimpinan baru yang diharapkan mampu membawa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik menuju prestasi yang lebih gemilang menuju generasi Indonesia Emas.

    Editor  : Muhammad Arya