nataragung.id – Pemanggilan – Di antara konsekuensi keimanan yang benar adalah tunduk dan patuh kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, menerima keputusan beliau dengan lapang dada, serta mendahulukan sabda beliau di atas pendapat siapa pun. Sebab Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidak berbicara menurut hawa nafsunya, melainkan berdasarkan wahyu dari Allah Subḥanahu wata’ala.
Allah Ta’ala berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)
Ayat ini menunjukkan bahwa kesempurnaan iman tidak akan terwujud kecuali dengan tiga perkara: menjadikan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebagai hakim, menerima keputusan beliau tanpa keberatan, dan tunduk sepenuhnya terhadap sunnah beliau.
Allah Subḥanahu wata’ala juga berfirman:
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
“Tidaklah pantas bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukmin apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, masih ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)
Seorang mukmin tidak memiliki pilihan setelah datangnya perintah Allah dan Rasul-Nya. Kewajibannya adalah mendengar dan taat, meskipun terkadang bertentangan dengan hawa nafsu, adat, tradisi, atau pendapat manusia.
Allah Subḥanahu wata’ala memuji orang-orang beriman dengan firman-Nya:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan perkara di antara mereka adalah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur: 51)
Inilah ciri sejati orang beriman: “Sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami taat), bukan “kami dengar lalu kami pertimbangkan”, bukan pula “kami dengar jika sesuai dengan pendapat kami.”
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam juga menegaskan bahwa jalan menuju surga adalah dengan menaati beliau. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu Nabi shallallahu alaihi bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى
وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, ‘Siapakah yang enggan itu wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Barang siapa menaatiku maka ia masuk surga, dan barang siapa mendurhakaiku maka sungguh ia telah enggan.’ (HR. Al-Bukhari no. 7280)
Hadits yang agung ini menjelaskan bahwa hakikat keengganan terhadap surga adalah menolak ketaatan kepada Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Semakin seseorang mengikuti sunnah beliau, semakin dekat ia kepada surga. Sebaliknya, semakin ia menentang petunjuk beliau, semakin jauh ia dari keselamatan.
Para ulama salaf sangat memahami prinsip ini. Mereka menimbang seluruh perkataan manusia dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Jika sesuai diterima, jika bertentangan ditolak. Imam Malik rahimahullah berkata:
كُلُّ أَحَدٍ يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلَّا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ
“Setiap orang bisa diambil dan ditinggalkan perkataannya, kecuali penghuni kubur ini.”
Beliau menunjuk ke makam Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Karena itu, seorang muslim hendaknya selalu bertanya: “Apa yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya?” bukan semata-mata “Apa kata manusia?” Sebab keselamatan, keberuntungan, dan kebahagiaan dunia akhirat hanya ada pada ittiba’ (mengikuti) Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.
Semoga Allah Subḥanahu wata’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mencintai sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam, serta diwafatkan di atas petunjuk beliau. <>
✒️ Komiruddin Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mimbar Jum’at
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

