Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA.
Dosen UIN Jurai siwo Lampung
nataragung.id – Metro – Musik tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga media yang merekam dinamika psikologis manusia. Salah satu lagu berbahasa Jawa yang memperoleh perhatian luas pada tahun 2024 adalah “Lamunan” ciptaan Wahyu F. Giri. Lagu ini dirilis pada Januari 2024, kemudian semakin populer setelah dinyanyikan kembali oleh sejumlah penyanyi seperti Esa Risty dan Denny Caknan. Secara umum, lagu tersebut mengisahkan seseorang yang terus memikirkan dan merindukan sosok yang dicintainya hingga memenuhi lamunannya pada malam-malam yang sunyi. Fenomena “melamun karena cinta” merupakan pengalaman yang hampir pernah dialami setiap orang. Seseorang dapat terus membayangkan wajah, senyum, atau kehadiran orang yang dicintai meskipun mereka sedang berjauhan. Dalam batas tertentu, kondisi tersebut merupakan respons psikologis yang normal. Namun, apabila lamunan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, konsentrasi belajar, pekerjaan, bahkan kesehatan mental, maka kondisi tersebut perlu dikelola secara bijaksana.
Psikologi terapan memandang lamunan bukan sekadar aktivitas kosong, melainkan bagian dari proses kerja kognitif, emosi, memori, dan imajinasi yang saling berinteraksi. Lagu Lamunan menjadi ilustrasi menarik mengenai bagaimana cinta mampu menguasai perhatian seseorang sehingga pikirannya terus kembali kepada sosok yang dicintai. Allah Swt. berfirman: “…Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenteraman kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum [30]: 21). Rasulullah saw. juga bersabda: “Sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ayat dan hadis tersebut menunjukkan bahwa cinta merupakan fitrah manusia. Akan tetapi, hati tetap memerlukan kendali agar kasih sayang tidak berubah menjadi keterikatan yang berlebihan.
Lamunan sebagai Bentuk Mind Wandering dan Kerja Memori Emosional.
Dalam psikologi kognitif, melamun dikenal sebagai “mind wandering”, yaitu keadaan ketika perhatian berpindah dari situasi saat ini menuju pikiran, kenangan, atau imajinasi tertentu. Smallwood dan Schooler (2006) menjelaskan bahwa mind wandering merupakan aktivitas alami otak ketika seseorang tidak sepenuhnya terfokus pada tugas yang sedang dikerjakan. Lagu Lamunan menggambarkan seseorang yang pikirannya terus dipenuhi bayangan orang yang dicintai. Gambaran tentang malam yang sunyi, kerinduan, dan harapan bertemu kembali menunjukkan bahwa memori emosional memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap proses berpikir.
Menurut Endel Tulving, manusia memiliki “episodic memory”, yaitu kemampuan mengingat kembali pengalaman-pengalaman pribadi yang penuh makna emosional. Kenangan mengenai senyuman, tatapan, suara, maupun kebersamaan dengan orang yang dicintai tersimpan kuat dalam memori. Ketika muncul pemicu tertentu, seperti malam yang tenang, lagu romantis, atau tempat yang pernah dikunjungi bersama, memori tersebut kembali aktif sehingga seseorang tenggelam dalam lamunan. Daniel Kahneman (2011) menjelaskan bahwa pikiran manusia sering bekerja secara otomatis melalui sistem berpikir cepat yang dipenuhi asosiasi emosional. Oleh karena itu, seseorang dapat tiba-tiba mengingat kekasihnya tanpa disengaja karena otak secara otomatis menghubungkan berbagai pengalaman dengan sosok tersebut. Menurut perspektif psikologi positif, lamunan tidak selalu berdampak buruk. Singer (1966) menjelaskan bahwa “positive constructive daydreaming” dapat meningkatkan kreativitas, membantu menyusun rencana masa depan, dan memperkuat motivasi. Namun, apabila lamunan berubah menjadi penyesalan yang berkepanjangan atau menghambat aktivitas, maka individu perlu mengembalikan fokus pada realitas melalui pengelolaan perhatian (attention regulation) dan kesadaran penuh (mindfulness).
Keterikatan Emosional, Kerinduan, dan Regulasi Perasaan.
Kerinduan yang tergambar dalam lagu Lamunan juga dapat dijelaskan melalui “Attachment Theory” yang dikembangkan oleh John Bowlby (1980). Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk menjalin kedekatan emosional dengan figur yang dianggap penting. Ketika hubungan tersebut terpisah oleh jarak atau waktu, muncullah rasa rindu yang mendorong individu terus memikirkan orang yang dicintainya. Lirik lagu yang menggambarkan harapan agar cinta tidak berpisah menunjukkan adanya kebutuhan akan rasa aman (secure attachment). Selama keterikatan emosional berlangsung secara sehat, kerinduan dapat memperkuat komitmen dalam hubungan. Sebaliknya, apabila individu memiliki pola anxious attachment, kerinduan dapat berkembang menjadi kecemasan, kekhawatiran berlebihan, bahkan obsesi terhadap pasangan. Albert Ellis (1962) melalui “Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)” menjelaskan bahwa penderitaan emosional sering kali muncul bukan karena peristiwa itu sendiri, melainkan karena cara seseorang menafsirkan peristiwa tersebut. Pikiran seperti “aku tidak akan bahagia tanpa dirinya” atau “hidupku tidak berarti jika tidak bersamanya” akan memperbesar intensitas kesedihan.
Aaron Beck (1976) juga menegaskan bahwa pikiran otomatis yang berulang dapat memengaruhi suasana hati seseorang. Oleh karena itu, individu perlu belajar membedakan antara mencintai secara sehat dan menggantungkan seluruh kebahagiaan pada satu orang. Dalam perspektif Islam, cinta merupakan nikmat yang harus disertai tawakal kepada Allah. Seorang mukmin dianjurkan mencintai tanpa melampaui batas sehingga ketika terjadi perpisahan, ia tetap mampu menjaga keseimbangan emosinya. Umar bin Khattab r.a. pernah berpesan: “Cintailah orang yang engkau cintai sewajarnya, karena bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang engkau benci. Bencilah orang yang engkau benci sewajarnya, karena bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang engkau cintai.” (HR. Al-Baihaqi). Nasihat tersebut mengandung prinsip regulasi emosi yang sangat relevan dengan psikologi modern, yaitu menjaga keseimbangan afeksi agar tidak terjebak dalam ekstremitas perasaan.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa lagu Lamunan tidak hanya menyajikan kisah romantis mengenai kerinduan terhadap seseorang yang dicintai, tetapi juga menggambarkan dinamika psikologis mengenai kerja memori, mind wandering, keterikatan emosional, dan regulasi perasaan. Lamunan merupakan bagian alami dari kehidupan manusia karena otak memiliki kemampuan menghidupkan kembali kenangan yang bermakna secara emosional. Perspektif psikologi terapan mengajarkan bahwa kerinduan dapat menjadi energi positif apabila mampu mendorong seseorang untuk bertumbuh, berkarya, dan menjaga komitmen. Sebaliknya, lamunan yang berlebihan hingga mengabaikan realitas dapat menurunkan produktivitas dan kesejahteraan psikologis. Islam memberikan keseimbangan dengan mengajarkan bahwa cinta adalah fitrah, tetapi hati tetap harus tertambat kepada Allah sebagai sumber ketenangan sejati. Dengan demikian, Lamunan menjadi pengingat bahwa mengelola pikiran sama pentingnya dengan menjaga perasaan, sehingga cinta menghadirkan kedamaian, bukan keterikatan yang melemahkan. (*)