nataragung.id – Pemanggilan – Di antara pelajaran paling dalam yang diajarkan Al-Qur’an adalah bahwa ampunan Allah tidak selalu menghapus seluruh akibat dari sebuah kesalahan di dunia. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang, tetapi Dia juga Maha Bijaksana dalam menetapkan sunnatullah. Karena itu, boleh jadi dosa diampuni, sementara konsekuensi dari perbuatan tetap harus dijalani sebagai bagian dari pendidikan dan hikmah Ilahi.
Inilah yang terjadi pada Nabi Adam `alaihis salam dan istrinya.
Setelah menyadari kekeliruannya, keduanya tidak mencari alasan, tidak menyalahkan keadaan, dan tidak pula menyalahkan setan. Mereka justru mengakui dosa mereka di hadapan Allah dengan penuh kerendahan hati.
Allah Ta’ala berfirman:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.'” (QS. Al-A’raf: 23)
Inilah hakikat taubat yang sejati. Tidak ada pembelaan diri. Tidak ada kesombongan. Tidak ada usaha melemparkan kesalahan kepada orang lain. Yang ada hanyalah pengakuan, penyesalan, dan pengharapan kepada rahmat Allah.
Kalimat “ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا” (kami telah menzalimi diri kami sendiri) mengajarkan bahwa setiap maksiat, pada hakikatnya, bukanlah merugikan Allah. Allah Mahakaya dan tidak membutuhkan ketaatan makhluk-Nya. Yang dirugikan oleh dosa adalah pelakunya sendiri, karena ia telah mengurangi cahaya iman dalam hatinya dan mengotori jiwanya.
Namun, meskipun taubat mereka diterima, keputusan Allah tetap berlaku.
Allah berfirman:
قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ
“Allah berfirman, ‘Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan bagi kamu di bumi ada tempat tinggal dan kesenangan sampai waktu yang telah ditentukan.'” (QS. Al-A’raf: 24)
Turunnya Adam ke bumi bukan berarti Allah tidak mengampuninya. Justru bumi telah dipersiapkan sebagai tempat manusia mengemban amanah sebagai khalifah. Akan tetapi, peristiwa itu juga menunjukkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Ampunan Allah menghapus dosa, tetapi tidak selalu menghapus dampak dari sebuah perbuatan dalam kehidupan dunia.
Betapa sering kita melihat kenyataan ini. Seseorang yang bertaubat dari kezalimannya diampuni oleh Allah, tetapi ia tetap harus mengembalikan hak orang lain. Orang yang merusak kepercayaan kemudian bertaubat, tetapi ia tetap memerlukan waktu untuk membangun kembali kepercayaan itu. Taubat menghapus dosa di sisi Allah, tetapi hikmah pendidikan tetap berjalan sesuai sunnatullah.
Selanjutnya Allah berfirman:
قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ
“Allah berfirman, ‘Di bumi itu kamu akan hidup, di bumi itu kamu akan mati, dan darinya pula kamu akan dibangkitkan.'” (QS. Al-A’raf: 25)
Inilah hakikat perjalanan manusia. Dunia bukan kampung halaman yang abadi, melainkan tempat persinggahan. Di bumi manusia bekerja, beribadah, berjuang, jatuh, bangkit, bertaubat, dan memperbaiki diri. Di bumi pula ia akan mengakhiri hidupnya. Kemudian dari tanah yang sama Allah akan membangkitkannya untuk mempertanggungjawabkan seluruh amalnya.
Kisah Adam mengajarkan keseimbangan yang indah antara rahmat dan keadilan. Rahmat Allah membuka pintu taubat selebar-lebarnya bagi siapa saja yang kembali kepada-Nya. Namun keadilan-Nya mengajarkan bahwa kehidupan memiliki hukum sebab-akibat yang tidak boleh diremehkan.
Karena itu, seorang mukmin tidak pernah berputus asa ketika terjatuh dalam dosa, sebab pintu ampunan Allah selalu terbuka. Namun ia juga tidak meremehkan dosa dengan anggapan bahwa taubat akan menghapus segala akibatnya. Ia sadar bahwa setiap pelanggaran meninggalkan bekas, sehingga ia berusaha menjaga diri sebelum terjatuh.
Akhirnya, kisah ini mengingatkan kita bahwa perjalanan di bumi adalah kesempatan untuk kembali kepada Allah. Jika Adam, manusia pertama, mengawali kehidupan di bumi dengan taubat, maka sudah sepantasnya setiap anak keturunannya menjadikan taubat sebagai bekal utama hingga kembali kepada-Nya.
“Sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang segera bertaubat.”
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang apabila tergelincir, segera kembali kepada-Nya dengan hati yang tunduk, lalu bersabar menjalani konsekuensi dunia sambil berharap ampunan dan rahmat-Nya di akhirat. Aamiin. <>
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mimbar Jum’at
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.